
Gaya dokumenter yang dipilih, dengan beberapa bagian menembus dinding keempat, membuat sebagian penonton mau tak mau terseret ke dalam cerita.
Pengalaman ini mirip seperti ketika melihat Gonjiam (2018). Bedanya, Gonjiam membuat penonton seolah melihat tayangan uji nyali atau uka-uka yang hit beberapa tahun lalu. Ketakutan, tapi tak sampai terasa ikut terlibat di dalamnya.
Dengan adegan Li Ronan sengaja menyeret penonton ke dalam cerita apalagi berkaitan dengan mantra, pemirsa seolah hanya punya pilihan berhenti menonton karena takut, atau meneruskan dengan konsekuensi berusaha sebaik mungkin tak ikut membaca mantra di dalam hati.
Belum lagi berbagai adegan brutal dan gamblang yang ditampilkan dalam Incantation. Meski jelas adegan-adegan itu bisa mengganggu sebagian penonton yang sensitif, keberadaannya harus diakui meningkatkan intensitas cerita.
Film ini tak banyak menampilkan jumpscare, bila dibandingkan dengan The Conjuring (2013) atau pun Paranormal Activity (2007) yang bikin geregetan sendiri.
Penampakan setan pun terbilang minim di Incantation, tapi horor kan memang tak melulu harus ada setan.
Satu hal yang membuat Incantation terasa lebih menarik dibanding film-film horor sekelasnya saat ini adalah unsur cerita nyata di balik film ini. Kevin Ko mengakui sebuah kejadian nyata menjadi inspirasi dari pembuatan film ini.
Fakta tersebut jelas membuat publik Taiwan sempat panik saat melihat film ini pada Maret 2022. Bagaimana tidak, dengan mantra terkutuk yang disebar secara bebas, apakah nasib penonton bakal seperti karakter yang mereka lihat di film ini?
Namun di satu sisi, kepanikan itu kawin secara padu dengan rasa penasaran dari publik.
Rasa ingin tahu sekaligus penasaran menantang bahaya memang sebuah godaan yang begitu memikat bagi banyak orang. ##
sumber: cnnindonesia.com
1 2
Halaman : 1 2
















