Survei PBB: Kekhawatiran akan Perang Besar Meningkat Tajam

Rabu, 16 September 2026 | 11:50 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Perang Besar Sangat Mungkin Terjadi [rrinet]

Perang Besar Sangat Mungkin Terjadi [rrinet]

PBB-Perang berskala besar semakin dipandang sebagai risiko global yang dapat segera terjadi, demikian menurut sebuah survei Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Dalam Laporan Risiko Global (Global Risk Report) 2026 yang dirilis pada Selasa (15/9), perang berskala besar naik 16 peringkat dalam hal kemungkinan terjadinya dalam waktu dekat, dibandingkan dengan Laporan Risiko Global pertama yang diterbitkan badan dunia tersebut pada 2024.

Perang berskala besar mencatat kenaikan peringkat terbesar dalam survei tersebut. Sekitar 36 persen responden memperkirakan perang berskala besar akan terjadi dalam satu tahun, sedangkan 76 persen dalam waktu tujuh tahun, menurut laporan 2026 itu.

Laporan ini didasarkan pada survei terhadap 1.300 pemangku kepentingan dari kalangan pemerintah, dunia usaha, masyarakat sipil, dan sistem PBB, yang mencakup seluruh kawasan di dunia. Para responden menilai 28 risiko global yang dikelompokkan ke dalam lima kategori, yakni politik, teknologi, ekonomi, lingkungan, dan sosial. Untuk setiap risiko, mereka menilai kemungkinan terjadinya, tingkat keparahan, seberapa cepat risiko tersebut dapat terwujud, kesiapan lembaga multilateral dalam menanganinya, serta faktor-faktor yang dapat membantu atau menghambat respons yang efektif.

Baca Juga:  PBB: Israel Lakukan Kejahatan Perang dan Kemanusiaan di Palestina

Risiko lain yang mengalami kenaikan signifikan dalam daftar tersebut adalah krisis keuangan global yang naik 12 peringkat, keruntuhan rantai pasokan yang naik 12 peringkat, serta gangguan keamanan siber yang naik tujuh peringkat.

Sementara itu, penurunan peringkat terbesar terjadi pada risiko penurunan keanekaragaman hayati yang turun 17 peringkat, polusi berskala besar yang turun 10 peringkat, kelangkaan sumber daya alam yang turun delapan peringkat, serta risiko biologis yang juga turun delapan peringkat.

Para responden menilai sistem multilateral paling tidak siap dalam menghadapi risiko teknologi global. Dari 28 risiko yang dinilai, konsentrasi kekuatan yang didorong teknologi menempati peringkat ke-22 dalam hal kesiapan, kecerdasan buatan (AI) dan teknologi mutakhir di peringkat ke-24, gangguan keamanan siber di peringkat ke-26, dan bencana rekayasa kebumian (geoengineering) di peringkat ke-27.

Baca Juga:  Lampung Perkuat Pengendalian Inflasi dan Stabilitas Harga

“Laporan Risiko Global 2026 menyajikan bukti yang harus menjadi landasan dalam menentukan pilihan kita. Kita berkewajiban kepada generasi sekarang dan mendatang untuk menggunakan pengetahuan ini dengan bijaksana dan bertindak selagi kerja sama masih dapat membentuk jalan menuju masa depan yang lebih aman. Pilihan ada di tangan kita,” kata Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres dalam kata pengantar laporan tersebut. []


Penulis : Heri Suroyo


Editor : Nara J Afkar


Sumber Berita : Jakarta

Temukan berita-berita menarik lainnya

Berita Terkait

Purna Paskibraka Indonesia Lampung Utara – BSI, Gelar Ngopi Emas, Ajak Generasi Muda Melek Investasi
AS Jual Rudal Patriot 2,1 miliar Dolar AS ke Ukraina
Pendidikan Pererat Hubungan Tiongkok dan Indonesia
RI dan Negara Produsen Sawit Dorong Kerja Sama dengan Tiongkok
DK PBB Gelar Jajak Pendapat, Grynspan Kandidat Sekjen
Iran Terima Surat “Damai” dari Wapres AS
Saham AS Jatuh, Pasar Minta AS-Iran Kembali Kemeja Perundingan
Houthi Yaman Klaim Serang Arab Saudi

Berita Terkait

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 18:55 WIB

Purna Paskibraka Indonesia Lampung Utara – BSI, Gelar Ngopi Emas, Ajak Generasi Muda Melek Investasi

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 16:48 WIB

AS Jual Rudal Patriot 2,1 miliar Dolar AS ke Ukraina

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 16:18 WIB

Pendidikan Pererat Hubungan Tiongkok dan Indonesia

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 16:12 WIB

RI dan Negara Produsen Sawit Dorong Kerja Sama dengan Tiongkok

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 16:07 WIB

DK PBB Gelar Jajak Pendapat, Grynspan Kandidat Sekjen

Berita Terbaru

Seorang pria mengamati bangunan tempat tinggal yang rusak pascaserangan drone dan rudal berskala besar oleh Rusia di Kiev, Ukraina, pada 9 Januari 2026. (Xinhua)

Berita Utama

AS Jual Rudal Patriot 2,1 miliar Dolar AS ke Ukraina

Sabtu, 31 Okt 2026 - 16:48 WIB

Foto yang diabadikan pada 22 Oktober 2026 ini menunjukkan seorang pemuda Indonesia sedang berlatih merakit panel kontrol listrik di ruang kelas pelatihan di Universitas Teknik Kejuruan Wuhu di Wuhu, Provinsi Anhui, Tiongkok timur. (Xinhua)

Berita Utama

Pendidikan Pererat Hubungan Tiongkok dan Indonesia

Sabtu, 31 Okt 2026 - 16:18 WIB

Foto yang diabadikan pada 27 Oktober 2026 ini menunjukkan Duta Besar Republik Indonesia untuk Tiongkok dan Mongolia Djauhari Oratmangun (ketiga dari kiri) berfoto bersama para peserta lain dalam Konferensi Minyak Nabati Berkelanjutan (Sustainable Vegetable Oils Conference) keempat yang digelar di Kota Shanghai, Tiongkok timur. (Xinhua)

Berita Utama

RI dan Negara Produsen Sawit Dorong Kerja Sama dengan Tiongkok

Sabtu, 31 Okt 2026 - 16:12 WIB

Para perwakilan melakukan pemungutan suara terhadap sebuah draf resolusi dalam rapat Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di markas besar PBB di New York City pada 30 Oktober 2026. (PBB/Xinhua)

Berita Utama

DK PBB Gelar Jajak Pendapat, Grynspan Kandidat Sekjen

Sabtu, 31 Okt 2026 - 16:07 WIB