RI dan Negara Produsen Sawit Dorong Kerja Sama dengan Tiongkok

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 16:12 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto yang diabadikan pada 27 Oktober 2026 ini menunjukkan Duta Besar Republik Indonesia untuk Tiongkok dan Mongolia Djauhari Oratmangun (ketiga dari kiri) berfoto bersama para peserta lain dalam Konferensi Minyak Nabati Berkelanjutan (Sustainable Vegetable Oils Conference) keempat yang digelar di Kota Shanghai, Tiongkok timur. (Xinhua)

Foto yang diabadikan pada 27 Oktober 2026 ini menunjukkan Duta Besar Republik Indonesia untuk Tiongkok dan Mongolia Djauhari Oratmangun (ketiga dari kiri) berfoto bersama para peserta lain dalam Konferensi Minyak Nabati Berkelanjutan (Sustainable Vegetable Oils Conference) keempat yang digelar di Kota Shanghai, Tiongkok timur. (Xinhua)

SHANGHAI-Negara-negara produsen minyak sawit mendorong kerja sama dengan Tiongkok serta pemanfaatan teknologi digital dan kecerdasan buatan (AI) untuk meningkatkan efisiensi produksi dalam Konferensi Minyak Nabati Berkelanjutan (Sustainable Vegetable Oils Conference/SVOC) keempat yang baru-baru ini digelar di Shanghai, Tiongkok timur.

Konferensi ini diselenggarakan oleh Dewan Negara-Negara Penghasil Minyak Kelapa Sawit (Council of Palm Oil Producing Countries/CPOPC) dan mengusung tema “Sinergi Keberlanjutan dan Rantai Nilai yang Tangguh” (Sustainability Alignment, Resilient Value Chains). Sebagai forum tingkat tinggi di sektor minyak nabati, acara ini mempertemukan sekitar 220 peserta dari 11 negara, dengan tujuan memperkuat kerja sama strategis dalam industri minyak nabati global.

Sekretaris Jenderal CPOPC Izzana Salleh menekankan pentingnya kerja sama praktis antara negara-negara produsen dan konsumen dalam menanggapi perkembangan ekspektasi terkait keberlanjutan dan pasar.

“Perubahan harga relatif dapat memengaruhi keputusan pembelian minyak, sementara ketidakpastian regulasi dapat memengaruhi arus perdagangan dan kepercayaan investor. Oleh karena itu, ketahanan memerlukan informasi pasar yang andal, hubungan perdagangan yang beragam, logistik yang efisien, serta kerangka kebijakan yang dapat diprediksi. Hal ini juga memerlukan kerja sama yang lebih erat antara produsen dan pembeli, sehingga komitmen pasokan, ekspektasi keberlanjutan, dan insentif komersial dapat lebih selaras,” ujarnya.

Baca Juga:  Indonesia Juara FIFA ASEAN Cup 2026

Dia juga menyampaikan bahwa dengan terus meningkatnya permintaan minyak nabati, CPOPC harus mencari solusi untuk meningkatkan produktivitas melalui penggunaan sumber daya yang bertanggung jawab dan memastikan keberlanjutan rantai pasokan.

Menurut Izzana, negara-negara anggota CPOPC menyumbang 89 persen dari pasokan minyak sawit global, dan industri ini menjadi sumber mata pencaharian yang vital bagi jutaan pengusaha dan petani kecil di negara-negara penghasil. Minyak sawit merupakan minyak nabati yang paling banyak diimpor Tiongkok, dengan pasokan terutama berasal dari negara-negara anggota CPOPC, termasuk Indonesia.

Duta Besar Republik Indonesia untuk Tiongkok dan Mongolia Djauhari Oratmangun menyampaikan bahwa penyelenggaraan konferensi ini di Tiongkok mencerminkan eratnya hubungan bilateral Indonesia dan Tiongkok serta komitmen bersama kedua negara untuk memperkuat kerja sama di berbagai bidang. Menurutnya, kemitraan strategis ini akan membantu menjaga stabilitas ekonomi, mendorong investasi berkelanjutan, serta membangun rantai pasokan global yang inklusif dan tangguh.

Baca Juga:  MA Dukung “Ageman”; Refleksi Nyata Harmoni Bangsa

Konsul Jenderal Republik Indonesia di Shanghai Berlianto Situngkir menyoroti posisi Tiongkok sebagai mitra dagang terbesar untuk negara-negara anggota CPOPC. Dia juga menyampaikan bahwa Shanghai berperan penting dalam mendorong produktivitas dan inovasi, serta meningkatkan nilai tambah bagi sejumlah industri.

Konferensi ini membahas sejumlah topik, di antaranya dampak transisi menuju kebijakan hijau terhadap industri minyak sawit, integrasi teknologi dalam produksi minyak nabati, peningkatan kapasitas petani kecil untuk mewujudkan produksi berkelanjutan, serta pengembangan bahan bakar hayati (biofuel) untuk mendukung pertumbuhan ekonomi rendah karbon. []


Penulis : Heri Suroyo


Editor : Nara J.Afkar


Sumber Berita : Jakarta

Temukan berita-berita menarik lainnya

Berita Terkait

Pendidikan Pererat Hubungan Tiongkok dan Indonesia
DK PBB Gelar Jajak Pendapat, Grynspan Kandidat Sekjen
Iran Terima Surat “Damai” dari Wapres AS
Saham AS Jatuh, Pasar Minta AS-Iran Kembali Kemeja Perundingan
Houthi Yaman Klaim Serang Arab Saudi
Mahasiswa Indonesia di Tiongkok Ubah Keterampilan jadi Peluang Karier
Lampung Matangkan Persiapan Jadi Tuan Rumah Pornas Korpri 2027
Perkim Akan Tinjau Ulang Keputusan Serah Terima PSU Perumahan Griya Suka Rame

Berita Terkait

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 16:18 WIB

Pendidikan Pererat Hubungan Tiongkok dan Indonesia

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 16:12 WIB

RI dan Negara Produsen Sawit Dorong Kerja Sama dengan Tiongkok

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 16:07 WIB

DK PBB Gelar Jajak Pendapat, Grynspan Kandidat Sekjen

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 09:50 WIB

Iran Terima Surat “Damai” dari Wapres AS

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 09:38 WIB

Saham AS Jatuh, Pasar Minta AS-Iran Kembali Kemeja Perundingan

Berita Terbaru

Foto yang diabadikan pada 22 Oktober 2026 ini menunjukkan seorang pemuda Indonesia sedang berlatih merakit panel kontrol listrik di ruang kelas pelatihan di Universitas Teknik Kejuruan Wuhu di Wuhu, Provinsi Anhui, Tiongkok timur. (Xinhua)

Berita Utama

Pendidikan Pererat Hubungan Tiongkok dan Indonesia

Sabtu, 31 Okt 2026 - 16:18 WIB

Foto yang diabadikan pada 27 Oktober 2026 ini menunjukkan Duta Besar Republik Indonesia untuk Tiongkok dan Mongolia Djauhari Oratmangun (ketiga dari kiri) berfoto bersama para peserta lain dalam Konferensi Minyak Nabati Berkelanjutan (Sustainable Vegetable Oils Conference) keempat yang digelar di Kota Shanghai, Tiongkok timur. (Xinhua)

Berita Utama

RI dan Negara Produsen Sawit Dorong Kerja Sama dengan Tiongkok

Sabtu, 31 Okt 2026 - 16:12 WIB

Para perwakilan melakukan pemungutan suara terhadap sebuah draf resolusi dalam rapat Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di markas besar PBB di New York City pada 30 Oktober 2026. (PBB/Xinhua)

Berita Utama

DK PBB Gelar Jajak Pendapat, Grynspan Kandidat Sekjen

Sabtu, 31 Okt 2026 - 16:07 WIB

Wakil Presiden Amerika Serikat (AS) JD Vance berbicara kepada wartawan dalam sebuah taklimat pers di Gedung Putih di Washington DC, AS, pada 8 Januari 2026. (Xinhua)

Berita Utama

Iran Terima Surat “Damai” dari Wapres AS

Sabtu, 31 Okt 2026 - 09:50 WIB

Seorang trader sedang bekerja di lantai bursa New York Stock Exchange di New York City, Amerika Serikat, pada 14 September 2026. (Xinhua)

Berita Utama

Saham AS Jatuh, Pasar Minta AS-Iran Kembali Kemeja Perundingan

Sabtu, 31 Okt 2026 - 09:38 WIB