Kisah 8 Dewa, “All Wishes Come True” Hadir di Bioskop Indonesia

Rabu, 16 September 2026 | 18:29 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy


Foto yang diabadikan pada 8 September 2026 ini menunjukkan poster film Tiongkok

Foto yang diabadikan pada 8 September 2026 ini menunjukkan poster film Tiongkok "All Wishes Come True" di bioskop Cinepolis yang berada di pusat perbelanjaan Depok Town Square, Depok, Provinsi Jawa Barat. (Xinhua)

JAKARTA-Keramaian tampak menyelimuti bioskop Cinepolis di pusat perbelanjaan Depok Town Square pada Selasa (8/9) pekan lalu. Para penonton terlihat mengantre untuk keluar dari bioskop setelah menyaksikan “All Wishes Come True”, film animasi fantasi-komedi asal Tiongkok yang mulai tayang di layar lebar Indonesia sejak awal September.

Bagi Lia (23), seorang mahasiswa Universitas Indonesia, momen ini sudah lama dia nantikan. “Saya sangat tertarik dan sudah lama menantikan ‘All Wishes Come True’ karena saya menyukai film animasi dari berbagai negara,” ujar Lia kepada Xinhua. Dia menyebut sebelumnya sudah menonton “Ne Zha”, dan animasinya yang menurutnya “sangat bagus” serta “visualnya benar-benar keren” itulah yang membuatnya penasaran dengan bagaimana “All Wishes Come True” mengangkat cerita dari budaya Tiongkok.

“Ternyata setelah ditonton memang bagus, tidak hanya ceritanya, tetapi plot yang ditawarkan juga sangat menarik. Film ini berhasil membuat cerita mitologi klasik terasa lebih modern, tetapi unsur budayanya tetap ada,” imbuhnya.

Penggemar animasi lainnya, Eki (27), menilai daya tarik film itu justru terletak pada kemampuannya menggabungkan cerita fantasi dengan tema yang tetap relevan bagi penonton dewasa. “Karakternya juga punya perkembangan yang jelas, dari orang-orang yang awalnya punya kepentingan masing-masing sampai akhirnya belajar bertanggung jawab dan memikirkan orang lain. Menurut saya film ini bisa dinikmati berbagai usia, bukan hanya penonton yang memang suka film animasi,” ujarnya.

Gaung serupa juga terlihat di media sosial seperti platform X dan Instagram. Di platform-platform tersebut, sejumlah pengulas film memuji plot “All Wishes Come True” yang menghibur dan penuh kejutan, serta membandingkannya sejajar dengan “Ne Zha” dari segi kualitas visual.

Antusiasme semacam itu terhadap film ini tentu bukan tanpa alasan. Distributor Feat Pictures pada 25 Agustus lalu mengumumkan bahwa “All Wishes Come True” akan tayang di Indonesia mulai 2 September, dua hari lebih cepat dari jadwal rilis globalnya di sejumlah negara lain, yang dijadwalkan pada 4 September. Kehadirannya di Indonesia menyusul rekor box office yang telah dicetak film ini di negara asalnya sejak pertengahan Juli lalu.

Film ini sendiri mengisahkan delapan manusia biasa dari kalangan rakyat jelata yang nekat menyamar sebagai dewa untuk menyusup ke tempat penyimpanan harta karun di alam surgawi bernama Penglai. Dalam perjalanan itu, mereka justru belajar mengutamakan keadilan di atas kepentingan pribadi, hingga akhirnya benar-benar mendapatkan keabadian dan dikenal sebagai Delapan Dewa (Eight Immortals) dalam legenda Tiongkok.

Baca Juga:  Trump Mangkel dengan Zelensky, Washington tunda Kirim Rudal Patriot
Seorang warga berjalan melewati poster film Tiongkok “All Wishes Come True” di sebuah bioskop di Chengdu, Provinsi Sichuan, Tiongkok barat daya, pada 23 Juli 2026. (Xinhua)

Kesuksesan All Wishes Come True

Sebelum hadir di Indonesia, “All Wishes Come True” sudah lebih dulu menjadi sensasi di negara asalnya. Dirilis di Tiongkok pada 18 Juli, film ini meraup 400 juta yuan (1 yuan = Rp2.630) hanya dalam lima hari pertama penayangannya, sekaligus membuka dengan skor 8,3 dari 10 di situs ulasan Douban.

Momentum itu berlanjut sepanjang musim panas. Berdasarkan data Maoyan, “All Wishes Come True” meraup 1,90 miliar yuan per Jumat (11/9). Film ini juga menjadi film dengan pendapatan tertinggi ketiga pada musim panas 2026, di bawah “Kung Fu Soccer” yang meraih 2,32 miliar yuan dan “Once Upon a Time in the Middle East” dengan 2,11 miliar yuan.

Setelah sukses di pasar domestik, “All Wishes Come True” mulai merambah pasar internasional. Film ini lebih dulu tayang di Australia, Selandia Baru, Amerika Utara, Inggris, hingga sejumlah negara Eropa. Pada 13 Agustus, film tersebut menggelar pemutaran perdana di Los Angeles sebelum resmi dirilis di bioskop Amerika Serikat (AS) dan Kanada sehari kemudian. Film ini ditayangkan dalam bahasa Mandarin dengan teks bahasa Inggris di lebih dari 100 bioskop terpilih.

Respons penonton di pasar Amerika Utara turut menunjukkan daya tarik lintas budaya film tersebut. Penulis lagu sekaligus kreator konten Hannah Avison memberi nilai sempurna 10 dari 10 setelah menghadiri pemutaran perdananya. “Animasi film sangat indah dan memanjakan mata. Ada begitu banyak kejutan dan plotnya sungguh menarik. Saya terus dibuat penasaran sepanjang film,” ujarnya.

Sementara itu, aktor dan produser Hollywood John Kyle Sutton mengaku tetap terpaku sepanjang film meski biasanya tidak menyukai film berdurasi panjang. Dia menilai film semacam ini berpotensi mendorong lebih banyak penonton AS untuk mengenal budaya Tiongkok.

Menghidupkan Mitologi Klasik

Disutradarai sekaligus ditulis oleh Mou Zhengyang, “All Wishes Come True” mengadaptasi kisah klasik Delapan Dewa yang dikenal dalam Taoisme Tiongkok, tetapi menghadirkannya dengan pendekatan baru.

Alih-alih menggambarkan para tokoh sebagai sosok sempurna seperti dalam cerita rakyat, film ini menampilkan mereka sebagai manusia muda yang memiliki kelemahan, melakukan kesalahan, dan pada awalnya tak selalu bertindak demi kebaikan.

Mou menjelaskan kepada Xinhua bahwa penggambaran tersebut sengaja dipilih agar penonton dapat membangun hubungan emosional yang lebih kuat dengan karakter. Dia juga memandang keabadian bukan semata sebagai pencapaian kekuatan supranatural, melainkan hasil dari perubahan diri, proses pendewasaan, dan tumbuhnya rasa tanggung jawab.

Baca Juga:  Tugas Benny untuk Suyudi: Hapus ‘no viral no justice’

Pendekatan itu juga terlihat dari cara film menggambarkan Penglai. Dunia para dewa tidak dibuat sepenuhnya sakral dan jauh dari kehidupan manusia, melainkan memiliki sistem seperti organisasi dengan peringkat, target, hingga evaluasi. Film ini mengemas legenda klasik menjadi komedi ringan mengenai pencarian harta karun dan perjalanan menemukan jati diri.

Selain itu, pendekatan modern juga tercermin dalam aspek visual “All Wishes Come True”, yang memadukan estetika tradisional Tiongkok dengan teknologi animasi kontemporer untuk membangun dunia fantasi yang tetap berakar pada budaya.

Dalam proses pembuatannya, produser Cao Linlin mengatakan tim produksi melakukan riset langsung ke sejumlah situs budaya, termasuk Istana Yongle di Shanxi dan Gunung Qingcheng di Sichuan, yang kemudian menjadi referensi dalam perancangan dunia dan berbagai elemen visual film.

Salah satu contohnya adalah kereta yang ditarik oleh ikan yang terinspirasi dari mural kuno. Palet warna film juga mengambil inspirasi dari lukisan Tahun Baru tradisional Tiongkok dan seni rakyat, sehingga unsur budaya tidak hanya hadir melalui cerita, tetapi juga melalui tampilan visual.

Penayangan perdana film animasi Tiongkok “All Wishes Come True” di Amerika Utara digelar di Los Angeles, California, Amerika Serikat, pada 13 Agustus 2026. (Xinhua)

Jual Identitas Budaya Kekuatan Tiongkok

Bagi Mou, keberhasilan animasi Tiongkok saat ini tidak lagi semata-mata ditentukan oleh kemampuan teknologi, melainkan bagaimana karya-karya tersebut menampilkan identitas budayanya sendiri. Mou menuturkan bahwa teknologi bukan lagi menjadi penghalang utama bagi animasi Tiongkok. Menurutnya, perbedaan antara animasi Tiongkok dan animasi Barat kini lebih terlihat dari cara masing-masing menghadirkan ekspresi budaya. “Kami memiliki pola penceritaan yang serupa, tetapi masing-masing memiliki ekspresi budaya yang unik,” ujar Mou.

Dia juga menekankan bahwa kreator lokal memiliki peran penting dalam menghadirkan cerita Tiongkok secara autentik. “Hanya kreator animasi lokal yang dapat menceritakan kisah Tiongkok secara autentik dengan baik,” lanjutnya.

Pandangan tersebut terefleksi dalam “All Wishes Come True”, yang menggabungkan teknologi animasi modern dengan legenda, seni, serta elemen budaya Tiongkok. Film ini tidak berusaha menghilangkan akar tradisionalnya agar lebih mudah diterima secara global, tetapi justru menggunakan unsur tersebut sebagai bagian dari daya tariknya.

Bagi penonton Indonesia seperti Lia dan Eki, pendekatan tersebut membuat legenda berusia berabad-abad terasa dekat dengan penonton masa kini, sekaligus menunjukkan bahwa kisah yang berakar pada budaya lokal dapat menemukan tempat di tengah perkembangan industri animasi global.[]


Penulis : Desty Efriyani


Editor : Nara J Afkar


Sumber Berita : Jakarta

Temukan berita-berita menarik lainnya

Berita Terkait

Purna Paskibraka Indonesia Lampung Utara – BSI, Gelar Ngopi Emas, Ajak Generasi Muda Melek Investasi
AS Jual Rudal Patriot 2,1 miliar Dolar AS ke Ukraina
Pendidikan Pererat Hubungan Tiongkok dan Indonesia
RI dan Negara Produsen Sawit Dorong Kerja Sama dengan Tiongkok
DK PBB Gelar Jajak Pendapat, Grynspan Kandidat Sekjen
Iran Terima Surat “Damai” dari Wapres AS
Saham AS Jatuh, Pasar Minta AS-Iran Kembali Kemeja Perundingan
Houthi Yaman Klaim Serang Arab Saudi

Berita Terkait

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 18:55 WIB

Purna Paskibraka Indonesia Lampung Utara – BSI, Gelar Ngopi Emas, Ajak Generasi Muda Melek Investasi

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 16:48 WIB

AS Jual Rudal Patriot 2,1 miliar Dolar AS ke Ukraina

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 16:18 WIB

Pendidikan Pererat Hubungan Tiongkok dan Indonesia

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 16:12 WIB

RI dan Negara Produsen Sawit Dorong Kerja Sama dengan Tiongkok

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 16:07 WIB

DK PBB Gelar Jajak Pendapat, Grynspan Kandidat Sekjen

Berita Terbaru

Seorang pria mengamati bangunan tempat tinggal yang rusak pascaserangan drone dan rudal berskala besar oleh Rusia di Kiev, Ukraina, pada 9 Januari 2026. (Xinhua)

Berita Utama

AS Jual Rudal Patriot 2,1 miliar Dolar AS ke Ukraina

Sabtu, 31 Okt 2026 - 16:48 WIB

Foto yang diabadikan pada 22 Oktober 2026 ini menunjukkan seorang pemuda Indonesia sedang berlatih merakit panel kontrol listrik di ruang kelas pelatihan di Universitas Teknik Kejuruan Wuhu di Wuhu, Provinsi Anhui, Tiongkok timur. (Xinhua)

Berita Utama

Pendidikan Pererat Hubungan Tiongkok dan Indonesia

Sabtu, 31 Okt 2026 - 16:18 WIB

Foto yang diabadikan pada 27 Oktober 2026 ini menunjukkan Duta Besar Republik Indonesia untuk Tiongkok dan Mongolia Djauhari Oratmangun (ketiga dari kiri) berfoto bersama para peserta lain dalam Konferensi Minyak Nabati Berkelanjutan (Sustainable Vegetable Oils Conference) keempat yang digelar di Kota Shanghai, Tiongkok timur. (Xinhua)

Berita Utama

RI dan Negara Produsen Sawit Dorong Kerja Sama dengan Tiongkok

Sabtu, 31 Okt 2026 - 16:12 WIB

Para perwakilan melakukan pemungutan suara terhadap sebuah draf resolusi dalam rapat Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di markas besar PBB di New York City pada 30 Oktober 2026. (PBB/Xinhua)

Berita Utama

DK PBB Gelar Jajak Pendapat, Grynspan Kandidat Sekjen

Sabtu, 31 Okt 2026 - 16:07 WIB