WAY KANAN – Kritik tajam kembali mengguncang ruang publik Way Kanan. Kali ini datang dari Aswir, anggota DPRD dari Fraksi Golkar, Dapil 3, yang secara terbuka mengungkap kondisi memprihatinkan infrastruktur jalan di wilayahnya. Dalam sambungan telepon pada Jumat (25/7/2025), ia mengulas kembali pandangan umum yang disampaikannya dalam Rapat Paripurna DPRD sehari sebelumnya, Kamis (24/7/2025).
Dengan nada tegas dan tanpa kompromi, Aswir menyebut bahwa kondisi jalan, baik kabupaten maupun provinsi, di Dapil 3 kini hancur lebur. Bahkan julukan “daerah sejuta lubang” yang dilontarkan masyarakat luar dinilainya bukan hinaan, tapi kenyataan.
“Kalau memang masyarakat menyebut Way Kanan daerah sejuta lubang, saya terima! Karena memang kondisinya begitu. Jalan dari Simpang Mayit sampai Negeri Agung? Coba lihat! Debu tebal, batu hilang, anak-anak sekolah pun makan debu tiap hari!” ujarnya dengan suara meninggi.
Aswir mengaku sudah hampir satu tahun menjabat, namun belum melihat aksi nyata dari Dinas PU ataupun pemerintah daerah dalam memperbaiki jalan-jalan rusak tersebut.
“Sampai kapan mau tunggu APBD? Jangan hanya duduk menunggu anggaran, kita ini harus kreatif! Jemput bola ke pusat, ke provinsi, ke kementerian. Kalau tidak, Way Kanan akan terus jadi bahan tertawaan,” ungkapnya
Ia bahkan menyindir keras lemahnya kolaborasi antar unsur pemerintah. Menurutnya, keberhasilan masa lalu saat Bustomi menjabat sebagai Bupati seharusnya menjadi contoh nyata bagaimana pembangunan bisa dilakukan tanpa sepenuhnya bergantung pada APBD.
“Dulu zaman pak Bustami, bisa surplus. Kenapa? Karena jemput bola. Minta bantuan ke pusat. Sekarang? Jalan makin parah, anggaran efisiensi, pembangunan minim. Apa yang bisa kita banggakan?” jelasnya.
Aswir juga menyoroti minimnya transparansi informasi dan koordinasi antar dinas, yang menurutnya memperburuk kondisi.
“Saya gak mau diam. Kalau saya salah, silakan salahkan saya. Tapi selama saya melihat jalan-jalan rusak, warga menderita, saya akan terus bicara! Saya wakil rakyat, bukan wakil diam!” tegas Aswir.
Ia pun mengingatkan pemerintahan baru di bawah kepemimpinan Bupati Ayu Asalasiyah agar tidak larut dalam rutinitas administratif, tapi harus aktif, kreatif, dan hadir di tengah rakyat.
“Kita ini satu tim. Eksekutif, legislatif, media, masyarakat—harus kompak. Kalau cuma saling tunjuk, saling salahkan, maka Way Kanan tak akan pernah bangkit. Tapi kalau jalan dibenahi, saya jamin ekonomi rakyat ikut bergerak!” tutupnya.
Pesan Aswir jelas: Way Kanan butuh pemimpin yang jemput bola, bukan sekadar pelengkap upacara. Infrastruktur adalah urat nadi. Dan jika urat nadi dibiarkan membusuk, maka seluruh tubuh daerah akan lumpuh.
Penulis : Desty
Editor : Nara
Sumber Berita : DPRD Lampung
*Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.