JAKARTA – Peningkatan partisipasi perempuan dalam bidang science, technology, engineering, and mathematics (STEM) merupakan langkah strategis untuk memperkuat daya saing dan inovasi Indonesia di masa depan.
Hal itu ditegaskan Wakil Ketua MPR RI, Lestari Moerdijat dalam keterangan tertulisnya, Senin (9/3).
Menurut Lestari, sejumlah data menunjukkan masih adanya kesenjangan gender dalam bidang STEM, baik dalam pendidikan maupun dunia kerja.
Padahal, tambah dia, sektor STEM merupakan fondasi utama bagi pembangunan ekonomi berbasis pengetahuan dan transformasi digital.
Data International Labour Organization (ILO) pada 2024 menunjukkan bahwa perempuan hanya sekitar 35% dari lulusan STEM di Indonesia. Sedangkan perempuan yang benar-benar bekerja di sektor tersebut hanya sekitar 8%.
Artinya, jelas Rerie, sapaan akrab Lestari, sebagian besar perempuan yang memiliki pendidikan STEM tidak berlanjut ke karier di bidang sains dan teknologi.
“Data ini menunjukkan persoalan utamanya bukan pada kemampuan akademik perempuan. Banyak perempuan memiliki prestasi yang sangat baik di bidang sains dan matematika, tetapi mereka masih menghadapi hambatan sosial dan stereotip gender yang membatasi partisipasi mereka,” ujar Rerie.
Rerie yang juga anggota Komisi X DPR RI itu berpendapat bahwa hambatan tersebut sering muncul sejak usia dini, melalui ekspektasi sosial yang membentuk kepercayaan diri anak perempuan terhadap bidang sains dan teknologi.
Tanpa disadari, ujar dia, kondisi ini membuat banyak perempuan tidak melihat STEM sebagai jalur karier yang realistis bagi mereka.
Di sisi lain, jelas Rerie, kebutuhan tenaga kerja berbasis teknologi terus meningkat seiring perkembangan ekonomi digital dan kecerdasan buatan.
Karena itu, menurut Rerie yang juga legislator dari Dapil II Jawa Tengah itu, memperluas partisipasi perempuan dalam STEM merupakan langkah strategis untuk memastikan Indonesia memiliki sumber daya manusia yang cukup untuk menghadapi perubahan global.
“Kesetaraan perempuan di bidang STEM bukan sekadar isu keadilan sosial. Ini adalah kepentingan strategis bangsa. Jika setengah potensi intelektual bangsa tidak diberi ruang yang sama untuk berkembang, maka kita kehilangan peluang besar untuk memperkuat inovasi dan daya saing nasional,” tegasnya.
Anggota Majelis Tinggi Partai NasDem itu mendorong agar sistem pendidikan dan kebijakan pengembangan sumber daya manusia memberi perhatian lebih pada penguatan partisipasi perempuan di bidang sains dan teknologi.
Sekolah dan perguruan tinggi, tegas Rerie, perlu menciptakan lingkungan belajar yang inklusif, memberi ruang bagi perempuan untuk aktif dalam riset, diskusi ilmiah, dan kepemimpinan akademik.
Menurutnya, pembangunan ekosistem pendidikan yang inklusif akan membuka peluang lebih luas bagi generasi muda perempuan untuk berkontribusi dalam inovasi, teknologi, dan ilmu pengetahuan.
“Dengan membuka akses yang lebih luas bagi perempuan di bidang STEM, Indonesia tidak hanya mewujudkan keadilan gender, tetapi juga memperkuat fondasi pembangunan sumber daya manusia yang inovatif dan berdaya saing,” pungkas Rerie []
Penulis : Heri Suroyo
Editor : Rudi Alfian
Sumber Berita : Jakarta MPR RI
*Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.
















