AKIBAT menggunakan handphone saat berkendara, Nurlinawati Hutasuhut (74) harus meregang nyawa di RS Imanuel Bandarlampung, Jumat 08 Mei 2026 sekitar pukul 17.00 WIB. Setelah melalui perawatan intensif, korban menghembuskan nafas terakhirnya berkisar pukul 18.50 WIB.
Peristiwa tragis yang akhirnya merenggut nyawa Nurlinawati ini memang patut disesalkan. Si Nenek harus berpulang dengan patah kaki dan tangan. Sementara bagian dada pun tak kalah luka serius.
Cerita dari para saksi mata yang melihat kejadian tragis Jumat Sore itu bermula pengendara motor yang konon merupakan mahasiswa semester 8 Institut Teknologi Sumatera (ITERA) yang sedang memacu kendaraan di Jl Sultan Agung Bandarlampung.
Dengan kecepatan tinggi, tepat di depan gerai Ibu Gendut, bermaksud menghindari lubang, akhirnya “brak” dan terjatuh. Akibatnya motornya terlepas menyambar sang nenek yang tengah menyeberang jalan dari sisi sebelah kiri arah Mall Bumi Kedaton (MBK).
Sang nenek pun tersungkur tersambar motor yang terlepas dari si pengendara dan motor tersebut menimpa bagian dada nenek tersebut.
Ini peristiwa yang tak akan pernah satupun menghendaki. Namun; kehati-hatian dan tindakan menggunakan handphone saat berkendaraan adalah sesuatu yang salah. Apalagi larangan menggunakan handphone saat berkendara diatur dalam UU No. 22 Tahun 2009 (Pasal 106 & 283), yang mewajibkan konsentrasi penuh.
Sayangnya perilaku seperti ini masih sering terjadi. Dan kali ini dilakukan oleh seorang mahasiswa yang tak lama lagi menyelesaikan studinya.
Dari keluarga korban, si pengendara kini juga mengalami luka yang cukup serius. Karena tubuh dan wajahnya pun harus mencium aspal. Saat jasad Nurlinawati dibawa keluarga kembali ke kediaman , si pengendara masih di rawat intensif di UGD rumah sakit Imanuel.
Bukan mencari benar dan salah atau hitam putih atas peristiwa kecelakaan ini. Tapi bagaimana ini dapat menjadi refleksi agar tidak menggunakan handphone saat berkendaraan.
Karena apa? Menggunakan handphone saat berkendara adalah pelanggaran serius yang mengancam keselamatan diri sendiri dan orang lain. Selamat Jalan Mami, Opung, Kakak, Uwak… mudah-mudahan Khusnul Khotimah-Kuburmu diterangi cahaya bak taman surga… Allahummafirlaha warhamha waafihi wa’fuanha. []
Penulis : Anis
Editor : Anis
Sumber Berita : Bandarlampung

















