Intervensi Pemerintah Dibutuhkan untuk Tekan Prevalensi Diabetes di Tanah Air

Rabu, 15 November 2023 | 21:06 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Laporan : Heri Suroyo

JAKARTA – Intervensi pemerintah melalui penerapan kebijakan, terkait penanggulangan penyakit tidak menular mesti dilakukan secara konsisten agar upaya menekan prevalensi diabetes di tanah air.

“Problem diabetes ada di depan mata kita, sehingga membutuhkan perhatian serius semua pihak,” kata Wakil Ketua MPR RI, Lestari Moerdijat saat membuka diskusi daring bertema Waspada Diabetes Menggerogoti Usia Produktif yang digelar Forum Diskusi Denpasar 12, Rabu (15/11).

Diksusi yang dimoderatori Anggiasari Puji Aryatie (Tenaga Ahli Wakil Ketua MPR RI) itu menghadirkan Dr. Eva Susanti, S.Kp., M.Kes. (Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular, Kemenkes RI), Dr. Muhammad Adib Khumaidi, Sp.OT (Ketua Umum Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dan Prof. Dr. Ir. Hardinsyah, MS (Ketua Umum Perhimpunan Pakar Gizi dan Pangan Indonesia) sebagai narasumber.

Selain itu hadir pula Drg. Hj. Hasnah Syams, MARS.(Anggota Komisi IX DPR RI) sebagai penanggap.

Menurut Lestari, ancaman tersebut harus diantisipasi dan dicermati agar bonus demografi yang diharapkan tidak berubah menjadi beban.

Apalagi, ujar Rerie sapaan akrab Lestari, berdasarkan catatan WHO angka kasus diabetes di dunia yang terbanyak adalah type 2 yang bisa dicegah dengan pemahaman dan upaya yang tepat.

Kondisi tersebut, tambah Rerie yang juga legislator dari Dapil II Jawa Tengah itu, harus menjadi perhatian apalagi diabetes menyerang usia produktif.

Anggota Majelis Tinggi Partai NasDem itu mendorong agar para pemangku kepentingan benar-benar aktif melakukan pencegahan melalui penerapan sejumlah kebijakan yang relevan.

Selain itu, tambah dia, juga harus diinisiasi gerakan peningkatan kualitas hidup sehat melalui edukasi dan peningkatan layanan kesehatan melalui sistem kesehatan terpadu demi memaksimalkan manfaat bonus demografi pada Indonesia Emas 2045.

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular, Kemenkes RI, Eva Susanti sependapat bahwa kesiapan mewujudkan bonus demografi harus diiringi dengan upaya membangun generasi emas yang sehat.

Karena kondisi saat ini di Asia Tenggara, ungkap Eva, kasus diabetes menduduki peringkat ke-6 dengan jumlah penderita 90,2 juta atau 8,7% dari populasi.

Baca Juga:  Penembakan di Sekolah Terjadi di Manila, 2 Tewas

Jumlah kasus tersebut, ujar Eva, akan terus naik bila tidak ada upaya untuk mengendalikan faktor resiko. Apalagi, tegas dia, diabetes merupakan ibu dari segala penyakit.

Menurut Eva gaya hidup seperti merokok, kurangnya aktivitas fisik dan kurang makan buah dan sayuran dapat meningkatkan risiko terkena penyakit tidak menular seperti diabetes.

Sejatinya, tegas dia, bila diterapkan tata laksana yang tepat diabetes dapat diatasi.

Pemerintah, ungkap Eva, juga sudah berupaya melakukan langkah-langkah pencegahan dengan deteksi dini pada sistem layanan kesehatan yang ada hingga penatalaksanaan terhadap para penderita.

Eva mendorong agar masyarakat melakukan pengukuran gula darah minimal satu kali dalam satu bulan.

Di sisi lain, tambah dia, penguatan pembiayaan pada jaminan kesehatan nasional untuk mendukung sejumlah upaya preventif dan pengobatan diabetes juga terus diupayakan.

Eva juga mendorong regulasi terkait kewajiban mencantumkan informasi nilai gizi pada makanan yang beredar ditegakkan secara konsisten dan masyarakat peduli terhadap informasi tersebut.

Ketua Umum Ikatan Dokter Indonesia, Muhammad Adib Khumaidi berpendapat bila kita bicara diabetes yang harus dilakukan adalah kenali risiko Anda dan bagaimana pencegahannya.

Terpenting, ujar Adib, masyarakat memiliki akses yang sama bila terkena diabetes untuk mendapat penatalaksanaan yang tepat.

Apalagi, tegas dia, diprediksi jumlah penderita diabetes akan terus meningkat di masa datang. Diakui Adib perubahan pola hidup sudah mulai terlihat pada masyarakat di perkotaan, tetapi belum terlihat secara masif.

Adib juga mendorong agar dilakukan kampanye untuk mengurangi konsumsi yang manis lewat regulasi yang mewajibkan informasi kandungan gula dalam makanan yang beredar.

Menurut Adib, awareness masyarakat terkait ancaman diabetes adalah pekerjaan rumah bagi kita semua dalam penanganan diabetes di tanah air.

Bila gejala-gejala klinis diabetes bisa disosialisasikan dengan baik kepada masyarakat, tegas Adib, bisa menjadi cara untuk meningkatkan kepedulian masyarakat luas dalam upaya mendorong pencegahan diabetes.

Ketua Umum Perhimpunan Pakar Gizi dan Pangan Indonesia, Hardinsyah mengungkapkan pencegahan diabetes bisa dilakukan melalui keseimbangan kadar lemak dalam tubuh.

Baca Juga:  Lewat Bed Dryer Diharap Penghasilan Petani Lebih Baik

Karena, menurut Hardinsyah, faktor risiko terbesar penimbunan lemak dalam tubuh adalah obesitas yang merupakan lima risiko utama pemicu diabates tipe 2. Pengendalian obesitas dan aktivitas fisik, ujar dia, bisa menjadi upaya pencegahan diabetes.

Upaya mengurangi konsumsi makanan yang berisiko, terutama yang berkadar gula tinggi, menurut Hardinsyah, harus diimbangi dengan meningkatkan konsumsi makanan berserat seperti ubi-ubian dan kue dengan taburan parutan kelapa.

Diakui Hardinsyah, hampir 50% masyarakat Indonesia mengalami defisiensi vitamin D yang penting untuk menjaga sistem metabolisme tubuh dalam mencegah obesitas.

Hardinsyah mendorong agar diet yang baik untuk mencegah obesitas harus diimbangi dengan aktivitas fisik yang tepat untuk mencegah obesitas.

Anggota Komisi IX DPR RI, Hasnah Syams mengungkapkan diabetes merupakan salah satu bagian dari kegawatdaruratan global.

Sementara, ungkap dia, 73,7% masyarakat tidak terdeteksi menderita diabetes yang menyebabkan diabetes di Indonesia sangat sulit diatasi karena yang bersangkutan tidak menyadari kalau terkena diabetes.

Langkah terpenting, menurut Hasnah, harus ada upaya meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat untuk melakukan deteksi dini, sehingga diabetes ditempatkan sebagai penyakit yang penting untuk diatasi.

Hasnah menilai upaya preventif dan promotif diabetes belum efektif dilaksanakan saat ini. Karena meski sudah ada kesadaran masyarakat untuk deteksi dini, tambah dia, seringkali menghadapi keterbatasan sarana di sejumlah fasilitas layanan kesehatan.

Sementara itu, wartawan senior Saur Hutabarat sepakat bila upaya preventif dan promotif merupakan bagian penting dalam penanganan diabetes. Namun, Saur menduga upaya tersebut belum sepenuhnya terwujud karena keterbatasan anggaran.

Selain itu, ujar Saur, upaya untuk mengurangi konsumsi gula harus diikuti dengan kebijakan yang ketat terkait standar kadar gula yang layak dikonsumsi dalam setiap produk makanan dan minuman yang diperdagangkan.

Saur mengingatkan rendahnya deteksi dini menyebabkan tingginya jumlah masyarakat yang tidak menyadari bahwa dirinya terkena diabetes. Kondisi tersebut bisa menjadi persoalan besar di masa datang.##

Temukan berita-berita menarik lainnya

Berita Terkait

Wujudkan Sekolah Berwawasan Lingkungan, DLH Lampung Target 160 SMA/SMK/MA Raih Adiwiyata 2026-2030
Trump Takut Kalah Saing di Antariksa, Paksa Perusahaan AS Tarik Diri dari KTT Paris
PP JMSI Tegaskan Akun Medsos Resmi Media Bagian Aktivitas Jurnalistik
Dari Bishkek hingga New Delhi, Xi Jinping Dorong Kerja Sama Global South
IRGC Iran Sebut Hantam Drone Laut AS di Selat Hormuz
Israel Mengaku Hancurkan Infrastruktur Hizbullah
Gubernur Mirza Dorong FKLPID Jadi Penghubung Tenaga Kerja dan Dunia Industri
GAK Tak Terdeteksi Erupsi, Hujan Turun, Pemprov Lampung Perkuat Kesiapsiagaan

Berita Terkait

Sabtu, 12 September 2026 - 11:17 WIB

Wujudkan Sekolah Berwawasan Lingkungan, DLH Lampung Target 160 SMA/SMK/MA Raih Adiwiyata 2026-2030

Sabtu, 12 September 2026 - 04:19 WIB

Trump Takut Kalah Saing di Antariksa, Paksa Perusahaan AS Tarik Diri dari KTT Paris

Jumat, 11 September 2026 - 19:18 WIB

PP JMSI Tegaskan Akun Medsos Resmi Media Bagian Aktivitas Jurnalistik

Jumat, 11 September 2026 - 18:54 WIB

Dari Bishkek hingga New Delhi, Xi Jinping Dorong Kerja Sama Global South

Jumat, 11 September 2026 - 18:43 WIB

IRGC Iran Sebut Hantam Drone Laut AS di Selat Hormuz

Berita Terbaru

#indonesiaswasembada

PP JMSI Tegaskan Akun Medsos Resmi Media Bagian Aktivitas Jurnalistik

Jumat, 11 Sep 2026 - 19:18 WIB

Xi Jinping

#indonesiaswasembada

Dari Bishkek hingga New Delhi, Xi Jinping Dorong Kerja Sama Global South

Jumat, 11 Sep 2026 - 18:54 WIB

Orang-orang menghadiri upacara pemakaman seorang komandan Korps Garda Revolusi Islam (Islamic Revolutionary Guard Corps/IRGC), yang tewas akibat serangan AS-Israel, di Teheran, Iran, pada 1 April 2026. (Xin)

#indonesiaswasembada

IRGC Iran Sebut Hantam Drone Laut AS di Selat Hormuz

Jumat, 11 Sep 2026 - 18:43 WIB