PRINGSEWU – Pemerintah Provinsi Lampung memastikan pemanfaatan mesin bed dryer serta memberikan manfaat bagi petani, khususnya dalam mempercepat proses pengeringan dan menjaga kualitas gabah hasil panen.
Hal tersebut ditunjukkan saat Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal meninjau penggunaan bed dryer sebagai bagian dari Program Desaku Maju yang diarahkan untuk memperkuat pengolahan hasil pertanian di Desa Sumber Agung, Kecamatan Ambarawa, Kabupaten Pringsewu, Jumat (14/8).
Menurut Mirza, penggunaan teknologi bed dryer menjadi salah satu solusi atas persoalan yang selama ini dihadapi petani dalam proses pengeringan gabah. Dengan teknologi tersebut, petani tidak lagi sepenuhnya bergantung pada panas matahari yang prosesnya dapat berlangsung lebih lama, terutama ketika masa panen bertepatan dengan musim hujan.
“Ini namanya program Desaku Maju. Jadi nanti desa ini tadinya jual produksi mentah, nanti tahun depan sudah bisa produksi beras berkualitas tinggi, pakan ayam, hingga pakan ikan,” ujar Mirza.
Ia menjelaskan, pengeringan gabah langsung di desa tidak hanya mempercepat proses pascapanen, tetapi juga memberikan manfaat dari sisi penyimpanan dan pemasaran. Gabah yang telah mencapai tingkat kekeringan yang sesuai dapat disimpan lebih lama sehingga petani memiliki pilihan waktu yang lebih fleksibel untuk menjual hasil panennya.
“Manfaatnya harga gabahnya naik. Selain itu, petani tidak takut harga jatuh karena kalau sudah kering bisa disimpan sampai setahun dengan bagus,” katanya.
Selain menjaga kualitas dan daya simpan, pengeringan gabah di desa juga dinilai dapat meningkatkan efisiensi distribusi. Menurut Mirza, gabah yang masih basah memiliki kandungan air yang tinggi sehingga sebagian beban angkutan yang selama ini dibawa keluar desa sebenarnya merupakan air.
“Kalau kita keringkan di desa, mobil yang lewat desa lebih ringan dan lebih jarang, jadi jalan-jalan di desa akan lebih terjaga,” ujarnya.
Karena itu, Mirza menekankan bahwa keberadaan bed dryer tidak hanya dipandang sebagai bantuan peralatan, tetapi harus menjadi bagian dari perubahan pola pengelolaan hasil pertanian di desa. Setelah dikeringkan, gabah dapat dilanjutkan ke tahap penggilingan dan pengolahan produk turunan sehingga nilai ekonomi komoditas dapat lebih banyak dinikmati masyarakat desa.
Pengembangan pengolahan hasil pertanian tersebut, lanjut Mirza, juga perlu melibatkan generasi muda. Menurutnya, anak muda memiliki peran penting dalam mengoperasikan teknologi, mengembangkan produk, membangun merek, hingga memperluas pemasaran hasil pertanian.
“Tugasnya anak muda tidak boleh jadi petani saja, tapi harus membantu desa menghilirisasi komoditas agar punya nilai tambah. Anak muda harus jadi motor untuk teknologi dan marketing,” kata Mirza.
Selain mendorong hilirisasi, Gubernur menilai pengembangan agroindustri desa perlu diikuti dengan upaya menekan biaya produksi. Untuk itu, Pemerintah Provinsi Lampung turut mendorong pengembangan input pertanian secara mandiri di desa, termasuk pupuk organik cair (POC).[]
Menurutnya, apabila proses produksi, pengeringan, pengolahan, pemasaran, hingga penyediaan input pertanian dapat dilakukan secara bertahap di desa, maka semakin banyak nilai ekonomi yang dapat berputar dan memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.
“Jangan hanya jual gabah. Kalau sudah kering bisa dijadikan beras dan katul. Begitu juga jagung, bisa jadi pakan ayam dan ikan agar ekonomi berputar di desa,” ujarnya.[]
Penulis : Desty Efriyani
Editor : Nara J Afkar
Sumber Berita : Pringsewu

















