FILM Ageman disutradarai oleh Jasper Lance Piscasio dan di produseri langsung oleh Ken Setiawan, film ini tidak sekadar menjadi sarana hiburan, melainkan media edukasi untuk merawat keragaman di Indonesia. Seluruh jajaran pemeran mendayagunakan talenta lokal Lampung, mulai dari pemuda lintas etnis, akademisi, pejabat Pemprov Lampung, hingga tokoh lintas agama.
Secara filosofis, nama Ageman diserap dari tiga bahasa yakni Jawa, Sunda, dan Bali yang bermakna pakaian, pedoman, atau keyakinan. Judul ini membawa pesan mendalam bahwa identitas suku, ras, dan agama adalah amanah lahiriah untuk saling melengkapi, bukan pemicu kebencian.
Produser Film Ageman, Ken Setiawan, mengungkapkan bahwa lahirnya film ini dipicu oleh keprihatinan atas minimnya literasi dan edukasi masyarakat yang kerap memicu krisis moral, maraknya hoaks, hingga aksi perundungan dan intoleransi yang rentan menjadi pintu masuk radikalisme.
Menurut Ken, sebagian besar masyarakat saat ini masih terjebak dalam logika mistika sebuah pola pikir yang mengaitkan fenomena sosial dan alam dengan kekuatan gaib atau takdir mutlak tanpa penalaran sebab-akibat yang rasional. “Logika mistika ini menciptakan mental blocking.
Misalnya, ketika ada bencana alam dianggap azab untuk kelompok lain, tapi jika menimpa kelompok sendiri dianggap ujian. Begitu juga saat melihat keberhasilan orang lain yang beda keyakinan, dianggap hanya istidraj, bukan hasil kerja keras dan hukum ekonomi,” ujar Ken.
Melalui Ageman, Ken ingin mengajak masyarakat merestrukturisasi pola pikir tersebut. Agama, menurutnya, hadir justru untuk mendobrak takhayul dan mendidik akal agar manusia dapat berpikir rasional dalam mengelola dunia fisik, sembari menjaga keimanan yang sehat.
Senada, Eksekutif Produser Film Ageman sekaligus Ketua Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Provinsi Lampung, Dr. M. Firsada, menegaskan pentingnya pesan inklusivitas yang diusung film ini bagi seluruh lapisan masyarakat.
“Film ini sangat layak ditonton agar kita semakin menyadari pentingnya menjaga kerukunan.
Pendidikan ke depan bukan hanya membuat orang bisa membaca teks dengan logika mistika, tetapi juga dengan logika rasional agar mampu berpikir kritis, memilah informasi valid, dan terhindar dari penipuan maupun hoaks,” tegas Firsada. Ia optimistis, jika pesan filosofis dalam film Ageman ini mampu diresapi oleh masyarakat dan para pemimpin, Indonesia akan senantiasa damai dan kondusif tanpa ada celah bagi potensi intoleransi, radikalisme, maupun ekstremisme.[]
Penulis : Rudi Alfian
Editor : Nara J Afkar
Sumber Berita : Lampung






![Presiden AS Larangan Beberapa media liputan di Gedung Putih. Menurutnya larangan itu karena media tersebut sering membuat laporan palsu.[Xinhua]](https://web.lintaslampung.com/wp-content/uploads/2026/09/Trump-Panik-Larang-Media-Tertentu-Larang-Liputan-di-Gedug-Putih-225x129.jpg)





![Presiden AS Larangan Beberapa media liputan di Gedung Putih. Menurutnya larangan itu karena media tersebut sering membuat laporan palsu.[Xinhua]](https://web.lintaslampung.com/wp-content/uploads/2026/09/Trump-Panik-Larang-Media-Tertentu-Larang-Liputan-di-Gedug-Putih-129x85.jpg)



