Pemandangan tak biasa menghiasi layar sinema edukasi toleransi bertajuk Ageman.
Karya visual yang disutradarai Jasper Lance Piscasio dan diproduseri Ken Setiawan ini menyedot perhatian publik berkat kehadiran pemeran spesial, yakni perempuan nomor satu di Lampung, Ibu Gubernur Purnama Wulan Sari Mirza.
Tampil apik dan natural, Purnama Wulan Sari beradu akting memerankan sosok Kepala Sekolah.
Film ini sendiri mengangkat kisah inspiratif perjalanan hidup Ken Setiawan mantan aktivis radikal yang kini insyaf dan berbalik menjadi mitra pemerintah dalam mengampanyekan perdamaian dan pencegahan paham intoleransi.
Secara filosofis, kata Ageman diserap dari bahasa Jawa, Sunda, dan Bali yang berarti pakaian, pedoman, atau keyakinan. Judul ini menyimpan pesan mendalam bahwa identitas suku, agama, ras, dan budaya merupakan amanah yang melekat sejak lahir untuk saling melengkapi, bukan alasan untuk memicu kebencian.
Salah satu adegan sentral memperlihatkan Purnama Wulan Sari berdiri di hadapan ratusan siswa. Dengan tegas dan penuh kehangatan, ia menyampaikan pesan mendalam mengenai bahaya perundungan (bullying) serta intoleransi yang dapat merusak kesehatan mental hingga menjadi pintu masuk ideologi ekstremisme.
“Stop perundungan di sekolah sekarang juga! Sekolah harus menjadi tempat belajar yang aman, nyaman, dan menyenangkan.
Jika melihat atau mengalami tindakan perundungan, jangan diam dan segera laporkan. Kepala sekolah dan guru siap mendampingi,” tegas Purnama Wulan Sari dalam adegan tersebut.
Tak hanya mengedukasi di lapangan, adegan berlanjut ke ruang rapat bersama para guru yang diperankan oleh jajaran pejabat Pemprov Lampung seperti Ibu Sekda Agnesia Bulan Rurianti, Thomas Amirico (Kadisdikbud), Ganjar Jationo (Kadiskominfotik), Ir. Tony Ferdinansyah (Kadisparekraf), dan Dra. Hanita Farial (Kadis PPPA).
Dalam adegan rapat tersebut, terjadi diskusi hangat mengenai pentingnya mengenalkan seni berpikir filosofis sejak dini untuk melatih nalar kritis siswa.
Purnama Wulan Sari menekankan bahwa belajar filsafat tidak harus selalu berkiblat ke Yunani atau Timur Tengah, melainkan bisa digali dari khazanah kebudayaan Nusantara yang sarat akan pesan memanusiakan manusia.
Khusus untuk Lampung, ia menyoroti pentingnya meresapi lima falsafah hidup luhur (Piil Pesenggiri) yakni Nemui Nyimah (ramah dan dermawan), Pi’il Pesenggiri (menjaga harga diri), Bejuluk Beadek (tata krama gelar adat), Nengah Nyappur (suka bergaul), serta Sakai Sembayan (gotong royong) sebagai pilar penangkal provokasi dan berita bohong (hoax).
Sementara itu, Eksekutif Produser Film Ageman sekaligus Ketua FKPT Provinsi Lampung, Dr. M. Firsada, berharap pesan inklusif dalam film ini dapat mengetuk hati seluruh lapisan masyarakat.
“Film ini sangat layak ditonton oleh masyarakat luas agar kita semakin menyadari pentingnya menjaga kerukunan dan saling menghargai di tengah perbedaan.
Harapannya, Indonesia tetap damai dan kondusif tanpa ada lagi celah bagi potensi intoleransi maupun radikalisme,” pungkas Firsada.[]
Penulis : Desty Efriyani
Editor : Nara
Sumber Berita : Pemprov Lampung

















