KUNMING-Kemasan-kemasan kopi bergambar gajah Asia berjajar di satu sisi, sementara pohon-pohon kopi yang buahnya masih hijau tampak berderet di sisi lain. Pada Sabtu (12/9), lebih dari 20 pejabat desa dari Indonesia berjalan di antara pohon-pohon kopi di Perkebunan Kopi Puteng di Desa Chengganhe di Puwen, Kota Jinghong, Provinsi Yunnan, Tiongkok barat daya. Mereka mengamati pengolahan kopi, mendiskusikan teknik budi daya, mencicipi kopi, dan menjajaki potensi kerja sama antara industri-industri pedesaan di kedua negara.
Adamal Tampubolon, kepala desa Hutagodang di Provinsi Sumatera Utara, berdiri di depan sebuah kemasan kopi spesial. Dia mengambil kemasan tersebut, dengan cermat mengamati desain gajah Asia di kemasan itu, kemudian berjalan ke arah pohon-pohon kopi dan membungkuk untuk memeriksa buah kopi yang menyembul di antara rimbunan daun. Dari waktu ke waktu, Adamal bertukar pandangan dengan staf setempat tentang metode budi daya.
“Desa kami terdampak parah oleh banjir di Sumatera tahun lalu, dan rumah-rumah kami mengalami kerusakan berat. Saat ini, kami sedang membangun kembali,” ujar Adamal Tampubolon.
Meskipun banjir mengganggu kehidupan penduduk setempat, pohon-pohon kopi di perbukitan tetap bertahan. Dia datang ke Tiongkok dengan harapan dapat melihat bagaimana komunitas penanam kopi di Yunnan mengubah biji kopi menjadi produk bernilai lebih tinggi, dan membawa pengalaman itu kembali ke desanya untuk membantu petani meningkatkan nilai tambah kopi mereka dan mendapatkan kembali kepercayaan diri dalam mengembangkan industri tersebut.
Di Perkebunan Kopi Puteng, perjalanan dari biji kopi hingga menjadi secangkir kopi dapat dilihat di setiap tahapnya. Buah kopi segar diproses dan disangrai sebelum diolah menjadi espreso, kopi instan berperisa, dan minuman beralkohol rasa kopi. Di fasilitas pengolahan, prosedur produksi terstandardisasi dan sistem daur ulang air tertutup beroperasi secara teratur, dengan air limbah diolah dan didaur ulang.
“Kami juga sangat tertarik pada pengolahan washed coffee, pengolahan air limbah, dan pembangunan berkelanjutan. Ini merupakan pengalaman yang layak dibawa pulang,” kata Mulyadin Malik, Kepala Badan Pengembangan dan Informasi (BPI) Desa dan Daerah Tertinggal, Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Kemendes PDT).
Saat mencicipi espreso, Malik mengangguk berulang kali, menunjukkan ketertarikannya pada rantai industri kopi Yunnan, yang menghubungkan budi daya dengan pengolahan.
“Indonesia memiliki banyak jenis kopi yang berbeda, masing-masing dengan karakteristiknya sendiri. Kopi luwak, misalnya, merupakan produk yang khas, dan kopi yang diproduksi di desa-desa dapat memiliki kualitas yang sangat baik. Namun, kemasannya tidak cukup menarik, sehingga sulit menjualnya dengan harga yang baik,” kata Malik. Dia berharap kunjungan itu akan membantu mereka mempelajari cara Yunnan mengembangkan kemasan, merek, dan pemasaran kopi, sehingga kopi berkualitas tinggi dapat dijual dengan harga yang lebih baik.
Pertukaran Hasilkan kemajuan
Daodelong, manajer umum Puteng Trading Co., Ltd., sebelumnya pernah mengunjungi Indonesia untuk mempelajari industri kopi di Indonesia dan sangat terkesan dengan kualitas biji kopi Indonesia serta ketekunan para petani dalam membudidayakannya. Pada hari kunjungan ke Perkebunan Kopi Puteng tersebut, Daodelong dan Tampubolon mencapai kesepakatan kerja sama awal untuk membawa biji kopi Indonesia ke pasar Tiongkok agar diproses lebih lanjut di Yunnan.
“Ke depannya, akan ada produk kopi yang memadukan cita rasa Indonesia dan Tiongkok,” ujar Daodelong.
Perusahaan tersebut saat ini mengimpor sejumlah biji kopi dari luar negeri dan juga membeli biji kopi yang dibudidayakan oleh para petani di desa-desa sekitar untuk diolah. Ke depannya, perusahaan tersebut berharap dapat membawa lebih banyak biji kopi Indonesia berkualitas tinggi ke pasar Tiongkok.
Yunnan merupakan provinsi penghasil kopi terbesar di Tiongkok. Setelah melakukan pengembangan selama bertahun-tahun, provinsi tersebut telah membangun rantai industri kopi yang lengkap, mencakup pembibitan, budi daya, pengolahan, dan penjualan, sembari terus meningkatkan proporsi kopi istimewa, atau specialty coffee, dan produk kopi olahan.
Puwen terletak di Kota Jinghong bagian utara. Dengan musim dingin yang sejuk, musim panas yang tidak terlalu ekstrem, serta perbedaan suhu yang relatif besar antara siang dan malam, Puwen menyediakan kondisi yang mendukung untuk budi daya kopi arabika. Dalam beberapa tahun terakhir, Puwen mendorong pengembangan terpadu yang mencakup perkebunan, pengolahan, pemasaran, pariwisata, dan budaya kopi.
Menurut data setempat, Puwen memiliki perkebunan kopi seluas 34.790 mu (sekitar 2.319 hektare), yang menghasilkan sekitar 26.500 ton buah kopi segar setiap tahun, dengan total nilai output sekitar 480 juta yuan (1 yuan = Rp2.624).
“Jika petani berproduksi secara terpisah, akan sulit untuk menjaga stabilitas harga atau membangun merek yang kuat,” kata Tampubolon. Setelah kembali ke tanah air, dirinya berharap dapat mendorong lebih banyak petani kopi untuk bekerja sama melalui organisasi di tingkat desa, memperkuat daya tawar mereka, dan mengembangkan merek kopi mereka sendiri.
Saat bersiap meninggalkan perkebunan, para pejabat desa dari Indonesia masih enggan beranjak dari perkebunan tersebut. Sebagian membungkuk untuk mengamati buah kopi di pohon, sebagian mempelajari kemasan kopi, sementara yang lainnya berdiskusi tentang teknik pengolahan.
Kopi yang ditanam di negara dan kawasan yang berbeda memiliki cita rasa yang dibentuk oleh bentang alam dan kondisi penanaman yang berbeda-beda. Namun, di pegunungan Yunnan ini, sebutir biji kopi menjadi sarana baru untuk pertukaran. Mulai dari berbagi pengalaman budi daya hingga bertukar teknologi pengolahan dan menjajaki kerja sama di pasar, industri kopi yang terpisahkan oleh jarak ribuan kilometer secara bertahap saling mendekat melalui rantai industri yang nyata dan kian terhubung.[]
Penulis : Nara J Afkar
Editor : Rudi Alfian
Sumber Berita : Jakarta

















