JAKARTA-Di tengah hiruk-pikuk Kota Jakarta, terdapat kedai makan yang tidak sekadar menawarkan sepiring panganan, tetapi juga mengajak pengunjung sejenak berjalan mundur ke masa lalu. Warung Roekoen, yang berada di Jl. Kramat Pulo Dalam 1 No. B72, Kelurahan Kramat, Kecamatan Senen, Kota Jakarta Pusat, hadir dengan suasana yang berbeda dari tempat makan biasanya.
Dari luar, bangunan Warung Roekoen mungkin tampak seperti rumah lama pada umumnya. Namun, begitu memasuki area warung, nuansa klasik perpaduan budaya Tiongkok dan sedikit sentuhan Eropa mulai terasa. Interiornya masih mempertahankan berbagai elemen dari masa lalu, menciptakan suasana yang berbeda dari rumah makan pada umumnya.
Nama Roekoen sendiri merupakan gabungan dari “Roemah Koenoe”, yang berarti rumah kuno. Nama tersebut seolah menjadi gambaran singkat tentang tempat ini, yang masih menghadirkan atmosfer nostalgia melalui bangunan dan interior yang dijaga hingga kini.
Kesan pertama yang muncul bukan seperti sedang memasuki sebuah warung makan, melainkan seperti bertamu ke rumah keluarga yang akrab dan penuh kenangan. Nuansa vintage yang kuat menjadi salah satu daya tarik Warung Roekoen. Berbagai barang antik dan dekorasi klasik membuat tempat ini menghadirkan atmosfer rumah nenek yang mungkin akrab bagi sebagian pengunjung. Di balik suasana yang terasa akrab itu, tersimpan sejarah sebuah bangunan yang usianya jauh lebih tua daripada warung itu sendiri.

Berawal dari Kos Putri
Warung Roekoen resmi didirikan pada 29 April 2024 oleh Dade (62) dan istrinya, yang keduanya merupakan keturunan Tionghoa. Namun, cerita mengenai tempat ini sebenarnya bermula dari sebuah kos-kosan khusus perempuan yang didirikan lebih dahulu oleh Dade, yakni Koes Roekoen.
Menurut Dade, kebiasaan anak-anak perempuan yang gemar mencari camilan menjadi salah satu alasan munculnya ide untuk membuka warung di bawah bangunan kos. Awalnya, warung tersebut hanya ditujukan untuk memenuhi kebutuhan penghuni kos. Menu yang disajikan pun sederhana, berupa berbagai masakan rumahan dan camilan.
“Sebelumnya saya bikin kos-kosan premium khusus perempuan. Anak-anak perempuan ini kan biasanya suka ngemil, jadi saya pikir kenapa tidak dibuat warung di bawahnya. Saat itu memang untuk anak-anak kos saja,” ujar Dade kepada Xinhua-lintaslampung.com saat ditemui pada Sabtu (15/8) kemarin.
Pemanfaatan rumah tersebut sebagai kos menjadi salah satu cara keluarga Dade tetap menggunakan bangunan lama itu dalam kehidupan sehari-hari. Dari kebutuhan penghuni kos, sebagian ruang kemudian dimanfaatkan sebagai warung yang awalnya hanya menyediakan makanan sederhana bagi para penghuni. Seiring waktu, warung tersebut mulai menarik perhatian masyarakat di luar lingkungan kos, yang datang bukan hanya untuk menikmati makanan, tetapi juga merasakan suasana khas bangunan lama tersebut.
“Mulanya memang untuk memenuhi kebutuhan anak kos. Tapi lama-lama orang luar mulai datang. Mereka mungkin penasaran dengan tempatnya, makanannya juga. Akhirnya yang datang bukan cuma anak kos, tetapi semakin banyak pengunjung dari luar,” tutur Dade.
Dari konsep awal yang sederhana, Warung Roekoen kemudian berkembang menjadi tempat makan yang menjangkau lebih banyak kalangan.
Warisan Tionghoa Berusia 100 Tahun Lebih
Salah satu hal yang membuat Warung Roekoen berbeda adalah bangunannya. Tempat yang kini menjadi ruang santap tersebut merupakan peninggalan dari keluarga istri Dade. Lebih tepatnya rumah itu dibangun oleh kakek sang istri dan telah berusia lebih dari 100 tahun. Latar belakang keluarga Tionghoa turut menjadi bagian dari sejarah bangunan dan benda-benda yang kini menghiasi ruangannya.
Usia bangunan tersebut terasa dari karakter arsitekturnya. Tidak seluruh bagian dibuat untuk terlihat modern atau seragam. Sebaliknya, kesan lama justru dipertahankan, berpadu dengan berbagai ornamen bernuansa Tionghoa yang memperkuat karakter tempat tersebut.
“Bangunan ini peninggalan keluarga istri saya. Dibangun kakeknya istri. Umurnya sudah lebih dari seratus tahun. Jadi memang dari dulu sudah rumah seperti ini, bukan kita bikin baru supaya kelihatan tua,” ungkap Dade.
Di dalamnya, pengunjung dapat menemukan berbagai ornamen, koleksi barang antik dan dekorasi bergaya Tionghoa yang memiliki cerita tersendiri. Guci, keramik dan porselen, piring-piring, lukisan, lampion, hingga kuplet menghiasi sejumlah sudut ruangan.
Sebagian besar koleksi tersebut merupakan warisan keluarga, baik dari keluarga Dade maupun keluarga istrinya. Sebagian lainnya merupakan pemberian dari anggota keluarga atau barang yang dibeli Dade sendiri. Koleksi bernuansa Tionghoa itu kemudian berpadu dengan sejumlah benda dengan sentuhan Eropa, membentuk interior yang khas tanpa menghilangkan karakter rumah lamanya.
“Barang-barang yang ada di sini banyak yang memang punya keluarga. Ada yang punya saya, ada juga disumbangkan oleh keluarga kami yang lainnya. Kami tampung semuanya. Memanfaatkan barang-barang yang sudah ada,” ujar Dade.
Keberadaan benda-benda antik tersebut tidak hanya memperkuat suasana klasik Warung Roekoen, tetapi juga menjadi bagian dari cerita keluarga yang melekat pada bangunan tersebut.
Meski kental dengan unsur budaya Tionghoa, Warung Roekoen terbuka bagi pengunjung dari berbagai latar belakang.

Rasa Rumah dari Masa Kecil
Jika suasananya membawa pengunjung bernostalgia melalui benda-benda lama, makanan di Warung Roekoen membawa nostalgia melalui rasa. Menu yang disajikan mengusung konsep masakan rumahan. Bagi Dade, makanan tersebut bukan sekadar menu untuk dijual, melainkan makanan yang memiliki kedekatan dengan kehidupannya sejak kecil.
Dia memilih menghadirkan makanan yang sederhana dan familiar, seperti masakan yang dahulu biasa disantap di rumah. Konsep tersebut menjadi bagian dari upaya mempertahankan suasana akrab yang ingin dibangun di Warung Roekoen.
“Kalau makanan, saya memang maunya makanan rumahan. Ini makanan yang dulu saya makan waktu kecil. Bukan makanan yang sifatnya mewah, tetapi makanan yang sudah biasa kita makan di rumah,” tutur Dade.
“Saya ingin orang yang datang ke sini merasa seperti makan di rumah sendiri. Makanannya sederhana, tetapi justru itu yang enak. Yang paling penting bisa bikin orang merasa nyaman dan kembali lagi,” lanjutnya.
Pilihan menu yang ditawarkan pun cukup beragam, mulai dari nasi uduk, nasi ulam, lontong, mi keriting bakso pangsit lada hitam, nasi goreng kampung dadar, dimsum, es kopi gula aren, aneka jus, es teh susu, hingga es bunga telang jeruk soda. Ada pula pempek, tempe mendoan, donat, dan roti bakar sebagai pilihan lainnya. Menariknya, seluruh makanan dan minuman dijual dengan harga yang relatif terjangkau, yakni sekitar Rp30.000 per menu.
Ketika Marung Menjadi Ruang Mengabadikan Momen
Sejak didirikan, Warung Roekoen disebut Dade selalu ramai dikunjungi, terutama pada akhir pekan dan hari libur. Interior bernuansa Tionghoa juga menjadikannya pilihan bagi pengunjung yang ingin menikmati suasana sekaligus berfoto.
Dian (32), yang datang bersama keluarganya, menjadi salah satu pengunjung yang menikmati suasana tersebut. Menurutnya, karakter klasik dan nuansa vintage yang dipertahankan di Warung Roekoen membuat tempat ini cocok untuk menghabiskan waktu bersama keluarga pada akhir pekan.
“Saya sangat suka suasana di Warung Roekoen. Klasik dan penuh nostalgia, jadi terasa berbeda dari tempat-tempat lain. Cocok untuk melepas penat di akhir pekan bersama keluarga, dan juga bagus untuk foto-foto,” katanya.
Dade mengatakan, jumlah pengunjung dapat meningkat pada momen perayaan seperti Imlek. Pengunjung yang datang juga kerap membawa properti dan busana sendiri untuk mendukung suasana pemotretan.
“Biasanya mereka sudah bawa properti sendiri, ada yang pakai cheongsam, ada juga yang bawa macam-macam perlengkapan untuk foto seperti kipas lipat, lampion kecil dan lain sebagainya. Jadi memang mereka datang karena ingin menikmati suasananya sekaligus foto-foto,” tambah Dade.
Namun, aktivitas fotografi tidak hanya berlangsung saat Imlek. Warung Roekoen juga kerap menjadi lokasi foto tahunan sekolah, pemotretan pre-wedding, hingga perayaan ulang tahun. Untuk kegiatan khusus semacam itu, pengunjung biasanya datang sejak pukul 09.00 WIB, sebelum warung mulai beroperasi secara umum. Pengaturan waktu tersebut dilakukan agar kegiatan pemotretan maupun acara lainnya tidak mengganggu pengunjung yang datang untuk makan.
“Kalau untuk acara khusus biasanya mereka datang pagi, sekitar jam sembilan. Jadi sebelum warung ramai dan buka untuk pengunjung umum, mereka sudah selesai atau sudah mulai kegiatannya. Supaya sama-sama nyaman dan tidak mengganggu pengunjung yang mau makan,” ujar Dade.
Menariknya, pengunjung tidak dikenakan biaya sewa tempat untuk kegiatan tersebut.
“Kalau mau foto di sini sebenarnya tidak ada sewa tempat. Mau foto tahunan sekolah, pre-wedding, atau ulang tahun, silakan saja. Yang penting pesan makanan dan minuman dari sini,” lanjut Dade.
Kebijakan tersebut membuat Warung Roekoen terbuka bagi berbagai kebutuhan, mulai dari berfoto hingga merayakan momen-momen khusus.
Hangatnya Warung yang Tumbuh Bersama Lingkungan
Selain mempertahankan karakter bangunan dan suasananya, Dade juga menaruh perhatian pada pelayanan. Menurut Dade, kebersihan dan keramahan menjadi hal yang selalu dijaga di Warung Roekoen. Hal tersebut turut membentuk pengalaman positif bagi mereka yang datang dan mendapat respons baik dari pelanggan.
Para pekerja di Warung Roekoen berasal dari berbagai lingkungan. Sebagian merupakan orang-orang dari pesantren milik keluarga Dade, sementara lainnya berasal dari masyarakat sekitar. Kehadiran warung pun secara tidak langsung turut melibatkan dan memberi kesempatan kerja bagi orang-orang di lingkungan sekitarnya.
Pada akhirnya, Warung Roekoen menjadi salah satu cara keluarga Dade mempertahankan rumah yang telah diwariskan selama beberapa generasi. Dari rumah keluarga, kemudian menjadi kos, hingga kini menjadi warung makan, bangunan berusia lebih dari satu abad itu terus menemukan fungsi baru tanpa kehilangan jejak budaya Tionghoa yang melekat di dalamnya. []
Penulis : Heri Suroyo
Editor : Rudi Alfian
Sumber Berita : Jakarta








![Residivis Narkoba dapat hadiah timah panas [Na]](https://web.lintaslampung.com/wp-content/uploads/2026/08/Residivis-Narkobaa-225x129.jpg)





![Residivis Narkoba dapat hadiah timah panas [Na]](https://web.lintaslampung.com/wp-content/uploads/2026/08/Residivis-Narkobaa-129x85.jpg)


