Sejarawan UIN RIL Jadi Pembicara di BRIN dan FIB UI

Kamis, 25 September 2025 | 15:07 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

JAKARTA – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) kembali menggelar A.B. Lapian Memorial Lecture, forum tahunan yang ditujukan untuk menghormati sekaligus melanjutkan warisan pemikiran Prof. Adrian Bernard Lapian, pelopor historiografi maritim Indonesia.

Tahun ini, forum dalam bentuk seminar tersebut mengusung tema “Laut sebagai Ruang Ingatan dan Perubahan: Warisan A.B. Lapian untuk Masa Depan Maritim yang Berkeadilan”. Kegiatan berlangsung pada Selasa (23/09/2025) di Auditorium Widya Graha BRIN, Jakarta, serta disiarkan secara hybrid melalui Zoom.

Acara ini merupakan kolaborasi Pusat Riset Masyarakat dan Budaya (PRMB) BRIN, Pusat Riset Arkeologi Lingkungan, Maritim, dan Budaya Berkelanjutan (PRALMBB) BRIN, serta Yayasan Negeri Rempah, dan menjadi bagian dari rangkaian International Forum on Spice Route (IFSR) 2025.

Dua sejarawan maritim dihadirkan sebagai pembicara, yakni Dr. Abd. Rahman Hamid dosen sekaligus Ketua Prodi S1 Sejarah Peradaban Islam Fakultas Adab UIN Raden Intan Lampung dan Dr. Didik Pradjoko dari Departemen Sejarah FIB Universitas Indonesia.

Sebagai salah satu narasumber utama, Dr. Abd. Rahman Hamid membawakan materi berjudul Dari Rempah ke Kopra: Membaca Jejak Historis Jalur Maritim dalam Perspektif Keadilan Sosial.

Dalam paparannya, ia menekankan warisan pemikiran Lapian yang menyoroti pentingnya pelabuhan sebagai simpul sejarah maritim.
“Tidak mungkin ada dua pelabuhan yang sama di lokasi yang berdekatan,” tutur Lapian, sebagaimana dikutip Abd. Rahman.

Ia menjelaskan pergeseran komoditas dagang dari rempah, teripang (abad ke-18–19), hingga kopra (akhir abad ke-19 hingga abad ke-20). Pergeseran ini, menurutnya, bukan sekadar munculnya barang dagangan baru, melainkan juga menegaskan peran pelaut dan pedagang Indonesia yang kerap terabaikan dalam historiografi perdagangan, yang cenderung menempatkan bangsa Eropa sebagai aktor utama.

Baca Juga:  Perkim Akan Tinjau Ulang Keputusan Serah Terima PSU Perumahan Griya Suka Rame

Abd. Rahman Hamid menyinggung peran Makassar sebagai entrepôt kopra di awal abad ke-20. Mengutip Lapian, ia mengatakan: “Sejauh-jauh kapal berlayar, sekali kelak ia masuk pelabuhan.” Pelabuhan, lanjutnya, menjadi penghubung vital antara jalur maritim dan jalur darat.

Makassar, kata Rahman, tumbuh sebagai pusat perdagangan karena memiliki pelabuhan alam yang baik, fasilitas gudang yang memadai, serta pasokan air bersih dan makanan bagi para pedagang. Dari kota ini, terbentuk jaringan perdagangan yang dijalankan pelaut Bugis, Makassar, Mandar, dan Buton menggunakan perahu tradisional seperti Padewakang, Palari, Lambo, dan Lete.

Ia juga memaparkan jalur perdagangan Utara–Selatan dan Timur–Barat. Kopra dari Donggala hingga Polewali dibawa ke Makassar oleh pelaut Mandar dan Bugis.

Bahkan, jelasnya, pada masa revolusi, perdagangan kopra sempat menjadi rebutan antara tentara dan gerilyawan sehingga menimbulkan penderitaan rakyat pesisir. Sementara itu, pelaut Buton membuka poros pelayaran Maluku–Jawa–Singapura dengan pola pelayaran musiman, termasuk praktik penyelundupan (smokol) ke Singapura.

Sementara itu, Dr. Didik Pradjoko membawakan topik Timor dalam Global: Perdagangan Cendana. Ia menekankan bahwa studi maritim mampu mengangkat kembali peran Timor yang selama ini kurang mendapat perhatian dalam historiografi Indonesia.

“Dengan mengkaji perdagangan kayu cendana di wilayah Timor, kita bisa melihat bagaimana pulau ini masuk dalam jaringan perdagangan global, meskipun masyarakatnya tidak memiliki tradisi maritim yang kuat,” jelasnya.

Baca Juga:  Yayasan Tahfidz dan Panti Asuhan Rentan Terpapar Paham Radikalisme

Kayu cendana putih dari Timor (santalum album) menjadi komoditas unggulan sejak abad ke-15 karena kualitasnya yang tinggi dan aromatik. Catatan sejarah menunjukkan kayu ini diperdagangkan hingga India, Cina, dan Afrika. Tome Pires bahkan menulis pada 1515: “Tuhan menciptakan Timor untuk kayu cendana, Banda untuk pala, dan Maluku untuk cengkih.”

Didik juga menyoroti faktor politik dan ekonomi yang membuat Timor penting dalam perdagangan internasional. Portugis, Belanda, Makassar, hingga pedagang Cina bersaing ketat menguasai perdagangan cendana.

“Baik struktur geografi, ekonomi, maupun politik, ketiganya telah bekerja membentuk sebuah sistem yang saling terkoneksi sehingga berhasil menarik Timor masuk ke dalam jaringan perdagangan internasional,” paparnya.

Dari dua paparan tersebut, tergambar bahwa laut bukan sekadar jalur perdagangan, melainkan juga ruang ingatan kolektif dan arena perjuangan keadilan sosial. Warisan pemikiran A.B. Lapian tentang historiografi maritim terus hidup dan berkembang melalui kajian baru, menegaskan kembali peran masyarakat Nusantara dalam sejarah perdagangan global.

Selain Bicara Sejarah Maritim di seminar BRIN, Abd. Rahman Hamid juga berkesempatan mengisi kuliah umum di Departemen Sejarah FIB UI, Rabu (24/9/2025). Pada agenda ini, ia menyampaikan kuliah dengan tema “Makassar Mendunia: Entrepot Rempah dalam Jaringan Maritim Nusantara Abad XVI-XVII”.


Penulis : Desty


Editor : Hadi


Sumber Berita : UIN RIL

Temukan berita-berita menarik lainnya

Berita Terkait

Purna Paskibraka Indonesia Lampung Utara – BSI, Gelar Ngopi Emas, Ajak Generasi Muda Melek Investasi
AS Jual Rudal Patriot 2,1 miliar Dolar AS ke Ukraina
Pendidikan Pererat Hubungan Tiongkok dan Indonesia
RI dan Negara Produsen Sawit Dorong Kerja Sama dengan Tiongkok
DK PBB Gelar Jajak Pendapat, Grynspan Kandidat Sekjen
Iran Terima Surat “Damai” dari Wapres AS
Saham AS Jatuh, Pasar Minta AS-Iran Kembali Kemeja Perundingan
Houthi Yaman Klaim Serang Arab Saudi

Berita Terkait

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 18:55 WIB

Purna Paskibraka Indonesia Lampung Utara – BSI, Gelar Ngopi Emas, Ajak Generasi Muda Melek Investasi

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 16:48 WIB

AS Jual Rudal Patriot 2,1 miliar Dolar AS ke Ukraina

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 16:18 WIB

Pendidikan Pererat Hubungan Tiongkok dan Indonesia

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 16:12 WIB

RI dan Negara Produsen Sawit Dorong Kerja Sama dengan Tiongkok

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 16:07 WIB

DK PBB Gelar Jajak Pendapat, Grynspan Kandidat Sekjen

Berita Terbaru

Seorang pria mengamati bangunan tempat tinggal yang rusak pascaserangan drone dan rudal berskala besar oleh Rusia di Kiev, Ukraina, pada 9 Januari 2026. (Xinhua)

Berita Utama

AS Jual Rudal Patriot 2,1 miliar Dolar AS ke Ukraina

Sabtu, 31 Okt 2026 - 16:48 WIB

Foto yang diabadikan pada 22 Oktober 2026 ini menunjukkan seorang pemuda Indonesia sedang berlatih merakit panel kontrol listrik di ruang kelas pelatihan di Universitas Teknik Kejuruan Wuhu di Wuhu, Provinsi Anhui, Tiongkok timur. (Xinhua)

Berita Utama

Pendidikan Pererat Hubungan Tiongkok dan Indonesia

Sabtu, 31 Okt 2026 - 16:18 WIB

Foto yang diabadikan pada 27 Oktober 2026 ini menunjukkan Duta Besar Republik Indonesia untuk Tiongkok dan Mongolia Djauhari Oratmangun (ketiga dari kiri) berfoto bersama para peserta lain dalam Konferensi Minyak Nabati Berkelanjutan (Sustainable Vegetable Oils Conference) keempat yang digelar di Kota Shanghai, Tiongkok timur. (Xinhua)

Berita Utama

RI dan Negara Produsen Sawit Dorong Kerja Sama dengan Tiongkok

Sabtu, 31 Okt 2026 - 16:12 WIB

Para perwakilan melakukan pemungutan suara terhadap sebuah draf resolusi dalam rapat Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di markas besar PBB di New York City pada 30 Oktober 2026. (PBB/Xinhua)

Berita Utama

DK PBB Gelar Jajak Pendapat, Grynspan Kandidat Sekjen

Sabtu, 31 Okt 2026 - 16:07 WIB