Satelit Lampung-1 Diluncurkan, Perluas Kerja Sama Antariksa 

Rabu, 5 Agustus 2026 | 16:34 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Gubernur Lampung dan rombongan saat peluncuran Satelit Lampung One di Tiongkok.
Ye Pingfan Li Aoqiu melaporkan untuk lintaslampung.

Gubernur Lampung dan rombongan saat peluncuran Satelit Lampung One di Tiongkok. Ye Pingfan Li Aoqiu melaporkan untuk lintaslampung.

SHANDONG-Perusahaan antariksa komersial China, STAR.VISION, berhasil meluncurkan satelit Oriental Smart Eye (OSE) Hyperspectral-01 dan Hyperspectral-02 ke orbit yang telah ditentukan pada Rabu (5/8) pagi menggunakan roket pengangkut Jielong-3 Y12 dari perairan lepas pantai Kota Haiyang, Provinsi Shandong, China timur, sekaligus merampungkan misi peluncuran tersebut.

Satelit OSE Hyperspectral-01 dikembangkan bersama oleh Starvision, Universitas Wuhan, dan sejumlah institusi terkait, termasuk pemerintah Provinsi Lampung, Indonesia. Satelit yang diberi nama “Lampung-1” oleh pihak Indonesia ini mengemban misi kerja sama Indonesia-China di bidang aplikasi penginderaan jauh, kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), dan pengembangan kapasitas antariksa.

Menurut Starvision, Lampung-1 memiliki bobot 300 kg dan membawa 22 saluran spektral yang telah dikalibrasi secara tepat, mencakup rentang panjang gelombang 400-1.650 nanometer. Satelit ini memiliki resolusi spasial hingga 5 meter dan lebar cakupan pencitraan (imaging swath) satelit tunggal sebesar 300 km. Jaringan kedua satelit ini mampu mencapai siklus kunjungan ulang (revisit cycle) global 5 hari.

Salah satu keunggulan satelit ini adalah kapasitas komputasi internal sebesar 400 TOPS yang memungkinkan dilakukannya inferensi kecerdasan buatan di luar angkasa. Satelit ini mampu memproses dan menginterpretasikan citra saat berada di orbit, termasuk mengidentifikasi tanaman dan mengevaluasi bencana, serta hanya mengirimkan hasil inferensi tersebut kembali ke Bumi, sehingga meningkatkan efisiensi transmisi informasi secara signifikan.

Bagi Indonesia, satelit AI hiperspektral memiliki potensi penerapan yang besar. Sebagai negara kepulauan besar dengan wilayah perairan yang luas dan sumber daya ekologis daratan yang kaya, Indonesia memiliki kebutuhan yang luas dalam hal perlindungan ekologis dan lingkungan, pengembangan pertanian, pengelolaan sumber daya mineral, serta pemantauan maritim. Dengan menganalisis karakteristik respons spektral dari berbagai jenis material, satelit hiperspektral dapat mengidentifikasi komposisi dan perubahan pada permukaan lahan, badan air, dan atmosfer, sehingga memberikan dukungan teknologi bagi produksi pertanian, perlindungan ekologis, survei sumber daya, dan tata kelola lingkungan di Indonesia.

Baca Juga:  Wagub Jihan Apresiasi Media Perempuan

“Desain spektral Lampung-1 sepenuhnya memperhitungkan karakteristik geografis dan struktur industri Provinsi Lampung, sehingga sangat cocok untuk pemantauan pertanian, pengelolaan sumber daya maritim, dan penanganan bencana alam,” ujar seorang perwakilan Starvision.

Perwakilan tersebut mengatakan bahwa proyek Lampung-1 mengutamakan pengembangan bersama skenario aplikasi, sistem darat, serta tim talenta dengan pemerintah daerah dan lembaga penelitian.

“Selama proses penelitian dan pengembangan, para ahli Indonesia memberikan kontribusi penting, yang menandai eksplorasi baru dalam memperkuat penelitian gabungan dan pengembangan bersama antara sektor antariksa China dan negara-negara Global South,” lanjut perwakilan tersebut.

China dan Indonesia telah lama menjalin kerja sama di sektor antariksa. Mulai dari layanan peluncuran satelit komunikasi dan kerja sama fasilitas darat hingga aplikasi data penginderaan jauh serta layanan antariksa yang lebih luas, kedua belah pihak terus memperluas cakupan kerja sama tersebut.

Dalam beberapa tahun terakhir, seiring meningkatnya permintaan Indonesia akan pemantauan lingkungan ekologis, pertanian, dan sumber daya mineral, kerja sama antariksa bilateral berkembang dari satelit komunikasi konvensional ke satelit penginderaan jauh, layanan informasi antariksa, serta aplikasi kecerdasan buatan.

Kerja sama Starvision dengan berbagai institusi di Indonesia merupakan salah satu contoh semakin eratnya kemitraan antariksa antara Indonesia dan China.

Pada Mei 2025, pemerintah Provinsi Lampung menandatangani nota kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) mengenai kerja sama antariksa dengan Starvision, Oriental Maritime Space Port, dan mitra-mitra lain di China untuk memajukan pembangunan Lampung-1, satelit AI hiperspektral pertama milik Indonesia.

Baca Juga:  Tapis Karnaval Dimeriahkan Defile Pasukan Berkuda

Selanjutnya, STAR.VISION bekerja sama dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Republik Indonesia untuk peningkatan penerapan data penginderaan jauh, membuka layanan data satelit bagi pengguna di Indonesia melalui program OSE Early Bird, serta menyerahkan platform aplikasi penginderaan jauh satelit TerraVista kepada BRIN, yang turut memperkuat kemampuan penerapan informasi antariksa lokal.

Lampung-1 juga menjadi tonggak penting dalam pengembangan Konstelasi Satelit AI China-ASEAN. Sebagai satelit pertama dalam konstelasi tersebut, keberhasilannya memasuki orbit menunjukkan kemajuan dalam kerja sama antariksa China-ASEAN, dari yang semula berupa kolaborasi berbasis proyek, kini menjadi pengerahan berbasis konstelasi dan pemanfaatan di tingkat regional.

Diluncurkan dalam ajang China-ASEAN Expo 2025, Konstelasi Satelit AI China-ASEAN mengusung prinsip “satu negara satu satelit, pembangunan bersama dan manfaat bersama”. Inisiatif ini bertujuan membangun infrastruktur cerdas spasio-temporal lintas perbatasan yang dapat digunakan bersama, guna memenuhi kebutuhan negara-negara ASEAN di bidang produksi pertanian, perlindungan ekologis dan lingkungan, tata kelola maritim, peringatan bencana, serta layanan informasi antariksa.

Seiring pengembangan satelit-satelit lanjutan dan sistem aplikasi di darat, konstelasi tersebut diharapkan dapat memperdalam kerja sama antara China dan ASEAN dalam pengembangan satelit, layanan data, penerapan AI, serta koordinasi industri, sehingga memberikan dorongan teknologi baru bagi pembangunan ekonomi digital regional. []


Penulis : Romy Agus- Ye Pingfan- Li Aoqiu


Editor : Rudi Alfian


Sumber Berita : Xinhua News

Temukan berita-berita menarik lainnya

Berita Terkait

Waketum Golkar Minta Publik Melihat Secara Proposional dan Faktual Polemik Misbakhun 
186 PT Vokasi Indonesia Pakai Standar AI Tiongkok-Indonesia
Film Ageman Merestrukturisasi Logika dengan Mistika
Arab Saudi Gempur Houthi Yaman 300 an Kali dalam Sepekan ini
Trump Larang CNN, MS NOW, dan Politico Liputan di Gedung Putih
Bangga! Pocil Polres Mesuji Raih Juara Umum II di Ajang Polisi Cilik Tingkat Polda Lampung  
Peringati Hari Lalu Lintas Bhayangkara ke 71, Ditlantas Polda Lampung Gelar Lomba Pocil 
Panglima TNI Kunjungi ITS Giuseppe Garibaldi, Lampung Kelak jadi Pangkalan Kapal Induk Ini

Berita Terkait

Minggu, 20 September 2026 - 10:21 WIB

Waketum Golkar Minta Publik Melihat Secara Proposional dan Faktual Polemik Misbakhun 

Sabtu, 19 September 2026 - 23:14 WIB

186 PT Vokasi Indonesia Pakai Standar AI Tiongkok-Indonesia

Sabtu, 19 September 2026 - 22:25 WIB

Film Ageman Merestrukturisasi Logika dengan Mistika

Sabtu, 19 September 2026 - 22:23 WIB

Arab Saudi Gempur Houthi Yaman 300 an Kali dalam Sepekan ini

Sabtu, 19 September 2026 - 14:41 WIB

Trump Larang CNN, MS NOW, dan Politico Liputan di Gedung Putih

Berita Terbaru


Foto yang diabadikan pada 7 Agustus 2026 ini menunjukkan seorang dosen kejuruan asal Indonesia berjabat tangan dengan sebuah robot humanoid saat berkunjung ke sebuah perusahaan AI berwujud yang terletak di Kota Liuzhou, Daerah Otonom Etnis Zhuang Guangxi, Tiongkok selatan. (Xinhua)

#indonesiaswasembada

186 PT Vokasi Indonesia Pakai Standar AI Tiongkok-Indonesia

Sabtu, 19 Sep 2026 - 23:14 WIB

Ken Stiawan Sutradara FIlm Ageman

#indonesiaswasembada

Film Ageman Merestrukturisasi Logika dengan Mistika

Sabtu, 19 Sep 2026 - 22:25 WIB

Peperangan di Yaman dan Houthi Yaman

#indonesiaswasembada

Arab Saudi Gempur Houthi Yaman 300 an Kali dalam Sepekan ini

Sabtu, 19 Sep 2026 - 22:23 WIB

Presiden AS Larangan Beberapa media liputan di Gedung Putih. Menurutnya larangan itu karena media tersebut sering membuat laporan palsu.[Xinhua]

#indonesiaswasembada

Trump Larang CNN, MS NOW, dan Politico Liputan di Gedung Putih

Sabtu, 19 Sep 2026 - 14:41 WIB