Oleh : Rohmi Yuhani’ah*)
Di tengah berbagai persoalan pendidikan yang semakin kompleks, Rohmi Yuhani’ah muncul dengan sebuah gagasan yang menarik perhatian dalam dunia pendidikan modern. Rohmi menawarkan konsep ekokonstruktivisme sebagai pendekatan baru dalam mengembangkan perilaku sosial mahasiswa.
Gagasan ini lahir dari keprihatinannya melihat mahasiswa yang semakin cerdas secara akademik, tetapi semakin jauh dari kepedulian sosial dan lingkungan. Banyak mahasiswa yang mampu berdebat tentang teori, tetapi kurang peka terhadap sampah yang berserakan di kampus, kurang peduli terhadap teman yang kesulitan, dan kurang terlibat dalam kegiatan sosial di masyarakat. Bagi Rohmi, kondisi ini adalah tanda bahwa pendidikan belum berhasil menyentuh sisi kemanusiaan peserta didik secara utuh.
Menurut Rohmi Yuhani’ah, ekokonstruktivisme memadukan dua fondasi penting. Pertama adalah konstruktivisme yang meyakini bahwa pengetahuan dibangun sendiri oleh pembelajar melalui pengalaman, interaksi, dan refleksi. Kedua adalah ekologi yang menekankan hubungan timbal balik antara manusia, alam, dan sesama.
Ketika dua fondasi ini digabungkan, belajar tidak lagi sekadar menghafal teori di ruang kelas, tetapi menjadi proses membangun kesadaran. Mahasiswa diajak untuk belajar dari kehidupan nyata, dari lingkungan kampus, dari masyarakat sekitar, dan dari persoalan ekologis yang mereka hadapi setiap hari. Dengan cara ini, pengetahuan tidak hanya tersimpan di kepala, tetapi juga menggerakkan hati dan tindakan.
Dalam konsep yang ditawarkan Rohmi, perilaku sosial tidak dapat dibentuk hanya dengan ceramah atau nasihat. Perilaku sosial harus dilatih melalui pengalaman yang bermakna. Oleh karena itu, ia mendorong pembelajaran berbasis proyek sosial dan lingkungan. Misalnya, mahasiswa diminta melakukan observasi terhadap pengelolaan sampah di fakultas, mewawancarai warga tentang persoalan banjir, membuat program penghijauan, atau terlibat dalam kegiatan bakti sosial. Dari kegiatan tersebut, mahasiswa belajar banyak hal sekaligus. Mereka belajar berkomunikasi, bekerja sama dalam tim, menghargai perbedaan pendapat, menyelesaikan konflik, dan mengambil tanggung jawab atas keputusan yang mereka buat. Nilai-nilai sosial seperti empati, gotong royong, toleransi, dan kepedulian tidak lagi diajarkan sebagai hafalan, tetapi dirasakan langsung melalui tindakan.
Rohmi juga menekankan peran dosen dalam konsep ekokonstruktivisme. Dosen tidak lagi berperan sebagai satu-satunya sumber pengetahuan yang berdiri di depan kelas. Dosen berperan sebagai fasilitator yang menciptakan ruang dialog, memberi tantangan, dan mendampingi mahasiswa dalam proses refleksi. Ketika mahasiswa mengalami kesulitan dalam proyek, dosen membantu mereka menemukan jalan keluar, bukan langsung memberikan jawaban. Ketika terjadi perbedaan pendapat dalam kelompok, dosen mengarahkan mereka untuk berdiskusi secara sehat. Peran ini membuat hubungan antara dosen dan mahasiswa menjadi lebih setara, lebih terbuka, dan lebih manusiawi. Pembelajaran pun menjadi lebih hidup karena setiap mahasiswa merasa dihargai dan didengar.
Konsep yang ditawarkan Rohmi Yuhani’ah ini juga menjawab tantangan pendidikan modern yang sangat individualistis dan bergantung pada teknologi. Di era digital, mahasiswa memang mudah terhubung melalui media sosial, tetapi sering kali merasa kesepian secara sosial. Ekokonstruktivisme mengajak mereka untuk kembali berinteraksi secara nyata, bekerja bersama, dan merasakan langsung dampak dari tindakan mereka terhadap orang lain dan lingkungan. Ketika seorang mahasiswa ikut menanam pohon, ia belajar bahwa tindakannya bermanfaat bagi banyak orang. Ketika ia membantu membersihkan lingkungan, ia belajar bahwa kepedulian kecil dapat memberi perubahan besar. Kesadaran seperti inilah yang menurut Rohmi menjadi dasar dari perilaku sosial yang matang.
Catatan penting dari gagasan Rohmi Yuhani’ah tentang ekokonstruktivisme bukan hanya sebuah teori baru dalam dunia pendidikan.
Gagasan ini adalah ajakan untuk mengembalikan pendidikan pada tujuan utamanya, yaitu membentuk manusia yang cerdas, peduli, dan bertanggung jawab. Melalui ekokonstruktivisme, mahasiswa diharapkan tidak hanya lulus sebagai sarjana yang pintar, tetapi juga tumbuh sebagai individu yang berempati, mampu bekerja sama, dan siap menjadi agen perubahan. Mereka akan menjadi generasi yang tidak hanya membangun pengetahuannya sendiri, tetapi juga membangun masyarakat yang lebih adil, lestari, dan manusiawi. []
*)Ketua Yayasan Tarbiyah Thariqul Iman Lampung.
Penulis : Anita Ajeng Violanita
Editor : Rudi Alfian
Sumber Berita : Lampung
















