Mengarungi Laut Dalam: Sebuah Visi Baru Bagi Indonesia-Tiongkok

Sabtu, 7 November 2026 | 22:55 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Yustian Rovi Alfiansah menghadiri Forum Kerja Sama Inovasi Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Internasional (International Science and Technology Innovation Cooperation Forum/ISTICF) dan Konferensi Inovasi Teknologi Laut Dalam (Deep-Sea Technology Innovation Conference/DSTIC) Pelabuhan Perdagangan Bebas Hainan 2026, yang merupakan edisi keempat, di Sanya, Provinsi Hainan, Tiongkok selatan, pada 4 November 2026. (Xinhua)

Yustian Rovi Alfiansah menghadiri Forum Kerja Sama Inovasi Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Internasional (International Science and Technology Innovation Cooperation Forum/ISTICF) dan Konferensi Inovasi Teknologi Laut Dalam (Deep-Sea Technology Innovation Conference/DSTIC) Pelabuhan Perdagangan Bebas Hainan 2026, yang merupakan edisi keempat, di Sanya, Provinsi Hainan, Tiongkok selatan, pada 4 November 2026. (Xinhua)

SANYA- Yustian Rovi Alfiansah kembali mengunjungi Tiongkok. Pada Rabu (4/10), dalam Forum Kerja Sama Inovasi Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Internasional (International Science and Technology Innovation Cooperation Forum/ISTICF) dan Konferensi Inovasi Teknologi Laut Dalam (Deep-Sea Technology Innovation Conference/DSTIC) Pelabuhan Perdagangan Bebas Hainan 2026, yang merupakan edisi keempat dan diselenggarakan di Sanya, Provinsi Hainan, Tiongkok selatan, peneliti laut dalam dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Indonesia itu berkata, “Kerja sama ilmiah di bidang laut dalam antara Indonesia dan Tiongkok memiliki potensi yang tak terbatas.”

Yustian dikenal luas di kalangan peneliti laut dalam Tiongkok berkat Ekspedisi Palung Jawa yang diselenggarakan bersama oleh Tiongkok dan Indonesia pada 2024. Dalam misi tersebut, Yustian menyelam menggunakan kapal selam berawak Tiongkok, Fendouzhe, hingga kedalaman sekitar 7.000 meter, sehingga menjadikannya peneliti Indonesia pertama yang mencapai kedalaman tersebut. Pencapaian ini telah mendapatkan sertifikat Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI), dan menjadi tonggak penting dalam kerja sama penelitian laut dalam antara kedua negara.

Ekspedisi itu dilaksanakan bersama oleh Institut Ilmu Pengetahuan dan Teknik Laut Dalam (Institute of Deep-sea Science and Engineering/IDSSE), yang berada di bawah naungan Akademi Ilmu Pengetahuan Tiongkok (Chinese Academy of Sciences/CAS), dan BRIN. Tim peneliti tersebut melakukan survei terhadap fitur-fitur geologis Zona Subduksi Sunda, keanekaragaman hayati laut dalam, serta ekosistem abisal. Ekspedisi laut dalam inilah yang memperkuat kemitraan akademis Yustian dengan tim-tim peneliti Tiongkok.

Baca Juga:  Kuasa Hukum Pertanyakan Penyidikan Dugaan Korupsi Jalan Lampung Utara, Sebut Perkara Sudah SP3

Meskipun kerja sama ilmiah laut dalam antara Tiongkok dan Indonesia masih tergolong baru, kerja sama tersebut telah membuahkan berbagai hasil penelitian yang nyata. Menyusul ekspedisi tahun 2024 tersebut, kedua belah pihak melanjutkan penelitian bersama mengenai berbagai topik, termasuk degradasi plastik laut. Sejak 2024, Yustian telah berkunjung ke Sanya hampir setiap tahun. Dia menghabiskan waktu tiga hingga empat bulan setiap kunjungan untuk melakukan penelitian bersama para ilmuwan dari IDSSE, CAS, dan berbagai universitas di Tiongkok.

Menurut Yustian, Sanya menawarkan platform yang luar biasa untuk penelitian laut dalam. Kota ini memiliki infrastruktur penelitian yang saling terhubung, laboratorium dengan peralatan yang lengkap, serta klaster fasilitas penelitian laut dalam yang dapat dengan cepat mendukung eksperimen dan membantu para peneliti menghasilkan temuan.

“Perairan laut mencakup sekitar 70 persen luas wilayah Indonesia. Kita perlu mempercepat pengembangan sumber daya manusia dan mengatasi kekurangan peralatan untuk penelitian laut dalam,” kata Yustian.

Ketika membahas prospek kerja sama di masa depan, Yustian meyakini bahwa kemaslahatan bersama merupakan kunci kerja sama yang berkelanjutan. Di satu sisi, pelajar Indonesia dapat menempuh program magister dan doktoral di Tiongkok untuk mempelajari teknologi canggih dan metodologi penelitian dari rekan-rekan mereka di negara tersebut. Setelah para peneliti itu kembali ke tanah air, para ilmuwan Tiongkok dapat diundang ke Indonesia untuk ikut serta dalam ekspedisi lapangan dan menganalisis sampel laut bersama-sama.

Baca Juga:  Musda XI MUI, Lampung Dorong Sinergi Ulama dan Umaro

Menurut Yustian, fasilitas penelitian di Indonesia juga dapat dibuka bagi para peneliti Tiongkok, sama seperti para ilmuwan Indonesia yang kini memiliki akses penuh ke platform-platform penelitian di Sanya. Sementara itu, pendanaan dari program-program penelitian, seperti Program Kemitraan Internasional CAS, akan terus mendukung pelaksanaan proyek-proyek penelitian bersama, yang akan menghasilkan manfaat bagi kedua belah pihak.

“Tiongkok merupakan pemimpin regional dalam penelitian laut dalam di Asia. Lautan yang luas dan belum dikenal menuntut para ilmuwan dari seluruh negara untuk bersatu dan mengungkap misterinya,” kata Yustian. Dia berharap makin banyak peneliti dan pelajar muda Indonesia akan datang ke Sanya, memanfaatkan platform ilmu pengetahuan dan inovasi laut dalam di Pelabuhan Perdagangan Bebas Hainan untuk semakin memperluas dan memperdalam kerja sama Tiongkok-Indonesia di bidang laut dalam. Bersama mengarungi laut dalam: Sebuah visi baru bagi kerja sama laut dalam Indonesia-Tiongkok.[]


Penulis : Nara J Afkar


Editor : Rudi Alfian


Sumber Berita : Jakarta

Temukan berita-berita menarik lainnya

Berita Terkait

Curhat dengan AI, Sejauh Mana Batas Toleransi?
782 Anak Terpapar Radikalisme: DPRD Lampung Ingatkan Bahaya Doktrinasi Muda
Mantan PM Malaysia Najib Razak Kembali ke Penjara
Trump Tunjuk Stephen Miller jadi Kepala Staf Putih
Raksasa Undustri Kertas Indonesia, Pamerkan Inovasi Hijau di CIIE
Netty Prasetyani Soroti Modus Narkotika di Cairan Vape
Siarkan Sidang Terbuka, Setjen DPR Sabet State Institution Award CNN 2026
Unjuk Rasa di Prancis, Menara Eiffel Ditutup

Berita Terkait

Sabtu, 7 November 2026 - 22:55 WIB

Mengarungi Laut Dalam: Sebuah Visi Baru Bagi Indonesia-Tiongkok

Sabtu, 7 November 2026 - 22:03 WIB

Curhat dengan AI, Sejauh Mana Batas Toleransi?

Sabtu, 7 November 2026 - 21:45 WIB

782 Anak Terpapar Radikalisme: DPRD Lampung Ingatkan Bahaya Doktrinasi Muda

Sabtu, 7 November 2026 - 20:14 WIB

Mantan PM Malaysia Najib Razak Kembali ke Penjara

Sabtu, 7 November 2026 - 20:10 WIB

Trump Tunjuk Stephen Miller jadi Kepala Staf Putih

Berita Terbaru

Yustian Rovi Alfiansah menghadiri Forum Kerja Sama Inovasi Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Internasional (International Science and Technology Innovation Cooperation Forum/ISTICF) dan Konferensi Inovasi Teknologi Laut Dalam (Deep-Sea Technology Innovation Conference/DSTIC) Pelabuhan Perdagangan Bebas Hainan 2026, yang merupakan edisi keempat, di Sanya, Provinsi Hainan, Tiongkok selatan, pada 4 November 2026. (Xinhua)

Berita Utama

Mengarungi Laut Dalam: Sebuah Visi Baru Bagi Indonesia-Tiongkok

Sabtu, 7 Nov 2026 - 22:55 WIB

Infografis ini menampilkan ketersediaan psikiater dan psikolog klinis di Indonesia. Data nasional per 1 September 2026 bersumber dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (RI), sedangkan sebaran per provinsi bersumber dari kajian Info Singkat DPR RI (Oktober 2023). (Xinhua)

Berita Utama

Curhat dengan AI, Sejauh Mana Batas Toleransi?

Sabtu, 7 Nov 2026 - 22:03 WIB

Mantan perdana menteri (PM) Malaysia Najib Razak (pertama dari kiri) terlihat di Kuala Lumpur, Malaysia, pada 22 Desember 2025. Mantan PM Malaysia Najib Razak gagal dalam upaya bandingnya untuk dipindahkan ke tahanan rumah setelah Pengadilan Tinggi Kuala Lumpur menolak permohonannya pada hari itu. (Bernama/Xinhua)

Berita Utama

Mantan PM Malaysia Najib Razak Kembali ke Penjara

Sabtu, 7 Nov 2026 - 20:14 WIB

Berita Utama

Trump Tunjuk Stephen Miller jadi Kepala Staf Putih

Sabtu, 7 Nov 2026 - 20:10 WIB