BEIJING-Presiden Tiongkok Xi Jinping melakukan kunjungan kenegaraan ke Amerika Serikat Rabu (23/9) hingga Jumat (25/9). Dalam kunjungan tersebut, Xi Jinping dan Presiden AS Donald Trump bertukar pandangan secara mendalam serta mencapai banyak kesepahaman mengenai isu-isu utama yang menyangkut hubungan Tiongkok-AS, serta perdamaian dan pembangunan dunia.
Para pengamat dari berbagai negara yang telah dengan cermat mengikuti kunjungan tersebut mengatakan bahwa kunjungan itu telah meningkatkan kepercayaan bahwa visi membangun hubungan Tiongkok-AS dengan stabilitas strategis yang konstruktif berdasarkan rasa hormat, keadilan, dan timbal balik akan diwujudkan melalui tindakan nyata yang sejalan dengan visi tersebut, sehingga membawa manfaat yang lebih besar bagi masyarakat kedua negara dan seluruh dunia.
Cendekiawan AS Robert Lawrence Kuhn mengatakan pencapaian utama dari pertemuan puncak Xi-Trump adalah mengirimkan sinyal kuat bahwa para pemimpin dua negara besar dunia, sembari mengakui adanya persaingan, tetap dapat bertemu dalam suasana harmonis dan dengan semangat positif.
“Hubungan Tiongkok-AS yang stabil dan konstruktif kini merupakan kebaikan global, yang memengaruhi perdamaian internasional dan stabilitas ekonomi,” ujar Kuhn.
Dalam kunjungannya, Xi menekankan bahwa “Jebakan Thucydides dapat diatasi” dan “mencapai peremajaan besar bangsa Tiongkok serta menjadikan Amerika hebat kembali dapat berjalan beriringan.”
Hal ini menunjukkan visi Tiongkok yang lebih luas, yakni memandang hubungan Tiongkok-AS dari perspektif pembangunan kedua negara dan dunia secara keseluruhan, alih-alih mengejar permainan bermentalitas menang-kalah (zero-sum), kata Gu Qingyang, associate professor di Lee Kuan Yew School of Public Policy di Universitas Nasional Singapura, seraya menambahkan bahwa hal itu juga mewujudkan logika kerja sama budaya Tiongkok.
Saat bertemu dengan Trump, Xi mengatakan kedua negara perlu berupaya menuju hubungan yang menjadikan kerja sama sebagai unsur utama, persaingan yang moderat, perbedaan yang dapat dikelola, dan janji perdamaian.
Cavince Adhere, seorang cendekiawan hubungan internasional yang berbasis di Kenya, mengatakan bahwa kerja sama Tiongkok-AS yang lebih kuat sangat penting bagi pembangunan global dengan memulihkan prediktabilitas bagi dua ekonomi terbesar di dunia, menurunkan hambatan perdagangan, dan menciptakan ruang untuk mengatasi tantangan bersama.
“Menjaga persaingan dalam batas-batas yang dapat dikelola dapat membantu menciptakan kondisi untuk stabilitas keseluruhan dalam hubungan bilateral dan untuk kerja sama di bidang-bidang seperti perdagangan dan ekonomi, perubahan iklim, serta kesehatan masyarakat,” kata Adhere.
Dalam pertemuan mereka, kedua presiden itu juga mencapai kesepahaman bersama untuk mempertahankan dialog dan memperkuat kerja sama di bidang kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI). “Konsensus ini bukanlah akhir dari tantangan; sebaliknya, ini menandai awal dari eksplorasi jalan yang tepat ke depan,” ujar Jinrui Zhang, ilmuwan AI senior di Shell di Belanda.
Dengan bekerja sama untuk mencegah penyalahgunaan dan pelanggaran, Tiongkok dan AS dapat membantu merancang arah yang jelas untuk pengembangan AI yang bertanggung jawab dan tertib, kata Zhang.[]
Penulis : Romy Agus
Editor : Heri Suroyo
Sumber Berita : Jakarta








![Presiden AS Larangan Beberapa media liputan di Gedung Putih. Menurutnya larangan itu karena media tersebut sering membuat laporan palsu.[Xinhua]](https://web.lintaslampung.com/wp-content/uploads/2026/09/Trump-Panik-Larang-Media-Tertentu-Larang-Liputan-di-Gedug-Putih-225x129.jpg)





![Presiden AS Larangan Beberapa media liputan di Gedung Putih. Menurutnya larangan itu karena media tersebut sering membuat laporan palsu.[Xinhua]](https://web.lintaslampung.com/wp-content/uploads/2026/09/Trump-Panik-Larang-Media-Tertentu-Larang-Liputan-di-Gedug-Putih-129x85.jpg)

