PBB-Menteri Luar Negeri (Menlu) Arab Saudi Pangeran Faisal bin Farhan Al Saud pada Sabtu (26/9) menekankan pentingnya memulihkan situasi di Selat Hormuz ke kondisi sebelum tanggal 28 Februari tanpa pengenaan biaya atau pembatasan apa pun.
Berbicara dalam Debat Umum sesi ke-81 Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Faisal menyerukan kebebasan navigasi di jalur perairan internasional, dengan menyoroti Selat Hormuz, Selat Bab al-Mandab, Laut Merah, dan Teluk Aden. Faisal menolak penggunaan jalur-jalur tersebut sebagai instrumen tekanan atau ancaman oleh pihak mana pun.
Keamanan kawasan Teluk merupakan bagian tak terpisahkan dari keamanan kawasan dan dunia secara keseluruhan, tuturnya, seraya menambahkan bahwa stabilitas di Teluk berkaitan langsung dengan keamanan energi global, perdagangan internasional, dan rantai pasokan.
Faisal menyampaikan bahwa Arab Saudi mendukung upaya dan inisiatif yang bertujuan meredakan ketegangan di kawasan tersebut, serta menekankan pentingnya memastikan seluruh kawasan tetap bebas dari senjata pemusnah massal.
Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan militer besar-besaran terhadap Iran pada 28 Februari, yang kemudian dibalas oleh Iran dengan menargetkan Israel dan sejumlah lokasi di berbagai wilayah Timur Tengah. Konflik tersebut telah mengganggu pelayaran di Selat Hormuz, sehingga berdampak signifikan terhadap ekspor minyak Arab Saudi ke pasar global.
Penulis : Heri Suroyo
Editor : Nara J Afkar
Sumber Berita : Jakarta
















