Pelajar Indonesia Nikmati Festival Musim Gugur di Tiongkok

Minggu, 27 September 2026 | 11:31 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Beatrice Faustina Jesslyn, pelajar Indonesia berusia 19 tahun, tampil dalam acara malam Festival Pertengahan Musim Gugur yang diselenggarakan di Universitas Tianjin, Tiongkok utara, pada 24 September 2026. (Xinhua)

Beatrice Faustina Jesslyn, pelajar Indonesia berusia 19 tahun, tampil dalam acara malam Festival Pertengahan Musim Gugur yang diselenggarakan di Universitas Tianjin, Tiongkok utara, pada 24 September 2026. (Xinhua)

TIANJIN- Menyambut Festival Pertengahan Musim Gugur tahun ini, Beatrice Faustina Jesslyn, seorang pelajar Indonesia berusia 19 tahun, menyanyikan lagu berbahasa Mandarin bersama teman-teman sekelasnya dari berbagai negara dalam acara gala Festival Pertengahan Musim Gugur yang digelar oleh Universitas Tianjin.

Sesaat setelah pertunjukan berakhir, dia melakukan panggilan video dengan keluarganya. Sambil mengarahkan kamera ke panggung dan kerumunan orang di belakangnya, dia berbagi cerita tentang suasana perayaan festival di Tiongkok.

“Kami berasal dari berbagai negara, tetapi kami menyanyi bersama dalam bahasa Mandarin. Hal itu sendiri terasa benar-benar seperti sebuah kebersamaan,” ujar Jesslyn.

Sebelum datang ke Tiongkok, pemahamannya tentang Festival Pertengahan Musim Gugur hanya terbatas pada Bulan dan kue bulan. Suatu ketika, seorang teman Tiongkok mengundangnya ke rumah untuk merayakan festival tersebut. Pengalaman itu benar-benar membuatnya mengenal festival tersebut secara lebih dalam. Keluarga temannya menyediakan tempat duduk khusus untuknya, dan dengan hangat memperkenalkannya pada berbagai jenis kue bulan dengan isian berbeda.

“Pada saat itu, meskipun saya jauh dari keluarga saya di Indonesia, saya merasakan kehangatan di Tiongkok yang terasa seperti di rumah,” ujar Jesslyn. “Kue bulan bukan sekadar makanan penutup. Bentuknya yang bulat melambangkan kebersamaan keluarga dan kehidupan yang utuh serta sempurna.”

Sebagai salah satu festival tradisional terpenting bagi bangsa Tiongkok, Festival Pertengahan Musim Gugur berawal dari tradisi pemujaan Bulan pada zaman kuno, ketika masyarakat berdoa memohon panen yang melimpah dan kedamaian. Pada masa Dinasti Tang, pemujaan Bulan secara bertahap berkembang menjadi tradisi menikmati keindahan Bulan. Pada masa Dinasti Song, festival tersebut secara resmi menjadi sebuah hari raya.

Wang Yi, associate professor di Fakultas Humaniora dan Seni, Universitas Tianjin, menilai festival tersebut telah bertahan selama ribuan tahun karena lekat dengan kehidupan masyarakat sehari-hari. Berbagai tradisi yang dapat dilihat, dinikmati, dan dirasakan, seperti memandangi Bulan, menebak teka-teki, menampilkan tari naga api, dan menyantap kepiting, telah menjadi bentuk ekspresi nyata bagi emosi yang abstrak dan mendalam.

Wang mengatakan, “keutuhan” yang dilambangkan oleh bentuk lingkaran penuh merupakan salah satu kerinduan terdalam di hati masyarakat Tiongkok. Bulan purnama, orang-orang yang kembali berkumpul, segala sesuatu yang berjalan sesuai harapan, serta keluarga yang utuh, merupakan wujud dari kerinduan tersebut. Festival Pertengahan Musim Gugur memberikan ruang bagi kerinduan akan “keharmonisan dan keutuhan” serta “segala sesuatu yang berjalan sesuai harapan” untuk diungkapkan pada satu malam tertentu, ketika setiap orang dapat menyampaikan harapan mereka di bawah Bulan yang sama.

Baca Juga:  Xi Jinping dan Prabowo Hadiri KTT BRICS
Timothy Joseph Hutagaol (kiri), mahasiswa doktoral berusia 25 tahun asal Indonesia, tampil dalam acara malam Festival Pertengahan Musim Gugur yang diselenggarakan di Universitas Tianjin, Tiongkok utara, pada 24 September 2026. (Xinhua)

Turut tampil dalam acara gala tersebut adalah Timothy Joseph Hutagaol (25), mahasiswa doktoral asal Indonesia di Universitas Tianjin. Pada Festival Pertengahan Musim Gugur tahun ini, dia secara khusus mengunjungi Jalan Budaya Kuno Tianjin untuk melihat lampion, berjalan-jalan di kawasan tradisional, dan mencicipi kue bulan dengan isian kacang tanah, custard, dan pasta kacang manis.

“Dari pengalaman saya sebagai mahasiswa di Tiongkok dan setelah menyaksikan sisi menyentuh dari Festival Pertengahan Musim Gugur, saya memahami kebersamaan keluarga menyatukan kembali seluruh anggota keluarga setelah kesibukan bekerja, belajar, dan menjalani kehidupan sehari-hari. Bentuk kue bulan yang bulat melambangkan keutuhan dan keharmonisan,” ujar Hutagaol.

Hal tersebut mengingatkannya pada mudik, yakni tradisi tahunan masyarakat Indonesia untuk pulang ke kampung halaman saat Idul Fitri. Banyak orang yang bekerja atau menuntut ilmu di perantauan rela berdesakan di dalam kereta dan bus antarkota, atau menempuh perjalanan dengan mobil dan sepeda motor, bahkan menghabiskan tabungan untuk menempuh perjalanan panjang di tengah kepadatan arus mudik demi kembali berkumpul bersama keluarga di kampung halaman.

Jesslyn juga menemukan kesamaan antara Festival Pertengahan Musim Gugur dan Idul Fitri di Indonesia. Saat Idul Fitri, masyarakat pulang ke kampung halaman untuk berkumpul, saling meminta maaf, bertukar ucapan dan doa, serta makan bersama. Sementara itu, Festival Pertengahan Musim Gugur mengungkapkan kerinduan melalui Bulan, kue bulan, dan harapan akan kebersamaan.

“Keduanya sama-sama menekankan pulang ke rumah, kebersamaan, ikatan keluarga, dan kepedulian satu sama lain. Dalam berbagai budaya, kasih sayang manusia terhadap rumah dan keluarga pada dasarnya sama,” ujar Jesslyn.

Inilah alasan Festival Pertengahan Musim Gugur dapat melampaui batas-batas budaya. Wang mengatakan, Tiongkok memiliki Chang’e, Yunani memiliki Selene, India memiliki Dewa Bulan Soma, dan Jepang memiliki Kaguya-hime. Festival Pertengahan Musim Gugur menjadikan Bulan sebagai medium dan menemukan bahasa yang dapat dipahami bersama oleh umat manusia.

Baca Juga:  Iran Serang Target Militer AS di Yordania dan UEA

“Merindukan orang-orang terkasih, mendambakan kebersamaan, mensyukuri hasil panen, dan mendambakan kedamaian, semua itu bukanlah sesuatu yang hanya dimiliki masyarakat Tiongkok, melainkan termasuk di antara perasaan terdalam dan paling berharga umat manusia. Festival Pertengahan Musim Gugur menjadi wadah bagi emosi-emosi tersebut,” ujar Wang.

Wang menambahkan, semakin banyak orang dari berbagai latar belakang akan mencicipi kue bulan, mengamati fase Bulan, dan mendengarkan kisah Dewi Bulan Chang’e terbang ke Bulan pada hari tersebut, sebagai ungkapan kerinduan dan harapan akan kebersamaan.

“Merindukan keluarga, menghargai ikatan keluarga, dan berharap dapat berkumpul kembali, emosi-emosi ini bukan milik satu negara tertentu, melainkan dirasakan oleh seluruh umat manusia. Dari mana pun orang berasal, mereka akan merindukan keluarga yang berada jauh dan ingin dicintai, dikenang, serta dapat berkumpul kembali,” ujar Jesslyn.

Hutagaol menilai Festival Pertengahan Musim Gugur berakar pada kerapuhan manusia, kebutuhan psikologis, dan pengalaman emosional yang dirasakan bersama oleh seluruh umat manusia, terlepas dari perbedaan bahasa, geografi, maupun agama. Bulan purnama yang bulat sempurna dan tanpa cela menjadi metafora langsung bagi lingkaran keluarga yang utuh dan tidak terputus. Setelah menghadapi kesibukan dan berbagai tantangan dalam kehidupan sehari-hari, keharmonisan dan kehangatan saat berkumpul kembali dengan keluarga memberikan apa yang benar-benar dibutuhkan manusia.

“Festival Pertengahan Musim Gugur dapat melampaui batas negara karena menyentuh bagian paling rapuh sekaligus indah dari kemanusiaan, yakni keinginan kita semua untuk tidak membiarkan jarak menghapus kasih sayang dan kerinduan terhadap satu sama lain,” ujar Hutagaol.

“Merayakan Festival Pertengahan Musim Gugur di Tiongkok bukan hanya tentang merasakan sebuah festival tradisional Tiongkok, melainkan juga tentang belajar memahami makna ‘rumah’ dan ‘cinta’ dengan cara masyarakat Tiongkok,” ujar Jesslyn.

Di bawah Bulan purnama yang sama, kerinduan terhadap orang-orang terkasih dan harapan akan kebersamaan kini menjadi bahasa bersama yang menghubungkan berbagai negara dan budaya.[]


Penulis : Desty Efriyani


Editor : Rudi Alfian


Sumber Berita : Jakarta

Temukan berita-berita menarik lainnya

Berita Terkait

Menlu Arab Saudi Berharap Hormus Kembali Pulih
GUSDURIAN: Film Ageman, Selaras dengan Pemikiran Gus Dur
Dany Amrul Ichdan: Lampung Lari Kencang, Saatnya Nilai Tambah Tumbuh di Daerah
Nasarudin: Ageman Menghapus Fanatisme Buta Masa Lalu
Ketua FGI Lepas Tri Wahyuni Perkuat Indonesia di Asian Games 2026
Pemprov Lampung Dorong Ekonomi Berbasis Teknologi dan Komunitas
Gubernur Mirza Tekankan Penghormatan terhadap Teman Tuli
Arab Saudi, Pakistan, dan Turkiye Bahas Pertahanan Bersama

Berita Terkait

Minggu, 27 September 2026 - 11:34 WIB

Menlu Arab Saudi Berharap Hormus Kembali Pulih

Minggu, 27 September 2026 - 11:31 WIB

Pelajar Indonesia Nikmati Festival Musim Gugur di Tiongkok

Minggu, 27 September 2026 - 11:09 WIB

GUSDURIAN: Film Ageman, Selaras dengan Pemikiran Gus Dur

Minggu, 27 September 2026 - 08:50 WIB

Dany Amrul Ichdan: Lampung Lari Kencang, Saatnya Nilai Tambah Tumbuh di Daerah

Sabtu, 26 September 2026 - 22:55 WIB

Nasarudin: Ageman Menghapus Fanatisme Buta Masa Lalu

Berita Terbaru


Debat Umum sesi ke-81 Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) diselenggarakan di markas besar PBB di New York City pada 22 September 2026. (Xinhua)

Berita Utama

Menlu Arab Saudi Berharap Hormus Kembali Pulih

Minggu, 27 Sep 2026 - 11:34 WIB

Beatrice Faustina Jesslyn, pelajar Indonesia berusia 19 tahun, tampil dalam acara malam Festival Pertengahan Musim Gugur yang diselenggarakan di Universitas Tianjin, Tiongkok utara, pada 24 September 2026. (Xinhua)

Berita Utama

Pelajar Indonesia Nikmati Festival Musim Gugur di Tiongkok

Minggu, 27 Sep 2026 - 11:31 WIB

Yogi Ketua Jaringan Gusdurian

Berita Utama

GUSDURIAN: Film Ageman, Selaras dengan Pemikiran Gus Dur

Minggu, 27 Sep 2026 - 11:09 WIB

#indonesiaswasembada

Dany Amrul Ichdan: Lampung Lari Kencang, Saatnya Nilai Tambah Tumbuh di Daerah

Minggu, 27 Sep 2026 - 08:50 WIB

Nasarudin Eks Napiter

Berita Utama

Nasarudin: Ageman Menghapus Fanatisme Buta Masa Lalu

Sabtu, 26 Sep 2026 - 22:55 WIB