Menyikapi fenomena maraknya peredaran dan penyalahgunaan narkotika di wilayah Kabupaten Way Kanan, kita dihadapkan pada sebuah realitas sosial yang menuntut kejernihan berpikir, keterpaduan langkah, dan komitmen moral yang mendalam.
Hal tersebut merupakan Pernyataan yang disampaikan oleh Ketua DPC Granat Way Kanan, Machiavelli Herman Tarmizi, S.S.T.P., M.I.P, menyikapi mataknya peredaran dan Penyalahgunaan Narkoba di Kabupaten Ranik Ragom ini .
Beli juga menyatakan, Pernyataan yang dibuat ibu bukan sekadar sebuah respons normatif, melainkan sebuah refleksi dari kesadaran kolektif yang mendesak untuk diimplementasikan.
Sebagai seorang Birokrat sekaligus penggerak sosial, beliau meletakkan fondasi pemikiran yang sangat mendasar: bahwa perang melawan narkoba bukanlah tugas tunggal satu instansi, melainkan sebuah ikhtiar semesta yang melibatkan seluruh elemen peradaban.
Tentunya kita harus melakukan langkah strategis dan komprehensif untuk mengatasi keadaan ini seperti :
1. Menjaga Keseimbangan Hukum dan Pendekatan Humanis
Dalam perspektif ketatanegaraan yang bijak, penanganan narkotika tidak boleh hanya bersandar pada aspek punitif (hukuman) semata. Kita harus melihat masalah ini dari hulu ke hilir melalui tiga pilar utama:
Pencegahan (Preventif): Membentengi moralitas dan kesadaran masyarakat sebelum terpapar.
Penindakan (Represif): Menegakkan hukum tanpa pandang bulu terhadap para bandar yang merusak sendi-sendi bangsa.
Rehabilitasi (Kuratif-Humanis): Memandang para pengguna bukan sebagai kriminal yang harus dibuang, melainkan sebagai korban, anak-anak bangsa yang sakit dan butuh disembuhkan agar dapat kembali berkontribusi bagi tanah air.
2. Restorasi Sosial Melalui Kearifan Lokal
Rencana pembatasan waktu hiburan malam hingga pukul 17.00 WIB, serta pelibatan tokoh adat, tokoh agama, dan tokoh pemuda, adalah sebuah langkah taktis yang sarat akan nilai kearifan lokal (local wisdom).
Kebijakan ini tidak boleh dipandang sebagai pembatasan kebebasan, melainkan sebuah “kontrak sosial baru” untuk menjaga ruang publik tetap suci, aman, dan produktif. Menghidupkan kembali Siskamling adalah bentuk modernisasi dari semangat gotong royong, di mana setiap warga negara menjadi benteng pertahanan bagi tetangganya.
3. Keluarga Sebagai Benteng Perlindungan Utama
Kehancuran sebuah bangsa selalu dimulai dari rapuhnya unit sosial terkecil, yaitu keluarga. Ajakan untuk meningkatkan pengawasan orang tua terhadap pergaulan anak adalah sebuah pesan edukatif yang mendalam. Ketahanan nasional yang sejati tidak dibangun dari barak-barak militer, melainkan dari meja makan keluarga, tempat nilai-nilai moral, kasih sayang, dan integritas pertama kali diajarkan.
Ketika pemerintah daerah, aparat penegak hukum, lembaga swadaya, dan tokoh masyarakat mampu meleburkan ego sektoral demi satu tujuan luhur, maka penyelamatan generasi penerus bangsa bukan lagi sekadar retorika politik, melainkan sebuah kepastian sejarah.
Way Kanan sedang memanggil kepedulian kita semua. Ini adalah momentum bagi seluruh elemen masyarakat untuk bersatu, bergerak dengan empati, bertindak dengan tegas, dan berpikir dengan kecerdasan intelektual demi masa depan yang bersih, bermartabat, dan bercahaya.
Penulis : Romy
Editor : Desty
Sumber Berita : Way Kanan

















