JAKARTA-Selama tiga bulan yang sangat melelahkan, bahkan gerakan sederhana pun menimbulkan rasa sakit pada tangan Dr. Hetty Helen. Sebagai seorang dokter di Rumah Sakit Pusat Pertahanan Negara (RSPPN) Panglima Besar Soedirman di Jakarta, kelegaan akhirnya datang dari sumber yang tidak terduga, yaitu tangan seorang praktisi pengobatan tradisional Tiongkok (traditional Chinese medicine/TCM).
“Tangan terasa lebih ringan dan lebih baik,” kata Hetty, dengan raut wajah yang jelas menunjukkan kelegaan. Setelah sebelumnya pernah mencoba akupunktur, dia menyatakan bahwa teknik yang digunakan oleh tim medis Tiongkok terasa jauh lebih presisi karena secara tepat menargetkan sumber rasa sakitnya.
Pengalaman Hetty menegaskan nilai unik pengobatan tradisional Tiongkok dan peran vital pertukaran medis dalam meningkatkan kemampuan layanan kesehatan Indonesia.
Di bawah inisiatif “Stasiun Akupunktur Sabuk dan Jalur Sutra” (Belt and Road Acupuncture Station) yang diluncurkan di RSPPN Panglima Besar Soedirman, para spesialis Tiongkok bekerja berdampingan dengan tenaga medis Indonesia dari 13 hingga 15 Oktober. Program tersebut mencakup pelatihan klinis, konsultasi gratis bagi masyarakat, dan lokakarya praktik mengenai diagnostik TCM mutakhir berbantuan kecerdasan buatan (AI).
Diselenggarakan oleh Shenzhen Shouzheng Innovative TCM Development Foundation, pelatihan ini tidak sekadar membahas teori, tetapi juga membimbing para peserta dalam hal keselamatan penggunaan jarum, prosedur darurat, dan lokasi titik akupunktur yang tepat. Para dokter dan mahasiswa pun menyingsingkan lengan baju mereka untuk mempraktikkan teknik-teknik khusus untuk mengatasi masalah bahu dan lutut, serta akupunktur khusus pada kulit kepala dan perut.
Bagi para peserta pelatihan medis Indonesia, program ini menjembatani kesenjangan antara buku teks dan kenyataan klinis, memberikan mereka rasa percaya diri melalui praktik langsung yang jarang diperoleh di bawah bimbingan para ahli.
Natalia Santoso, seorang mahasiswa yang mempelajari akupunktur dan pengobatan herbal di Jakarta, mengalami momen pencerahan selama lokakarya tersebut. Dia mengatakan bahwa belajar secara langsung dari para ahli Tiongkok membantunya mengurai teknik-teknik yang telah lama membuatnya bingung.
“Mempelajari TCM, yang kami anggap sulit, ternyata tidak begitu sulit setelah kita memahami poin-poin utama atau titik-titik akupunktur,” katanya.
Natalia menambahkan bahwa mendengarkan konsep yang dijelaskan secara langsung dari penutur asli bahasa Mandarin memberinya pemahaman yang jauh lebih mendalam dibandingkan dengan membaca buku teks berbahasa Indonesia hasil terjemahan.
Selain teknik tradisional, program ini memperkenalkan para peserta pada perangkat diagnostik TCM berbasis AI, memberikan mereka kesempatan untuk melihat langsung masa depan layanan kesehatan digital. Hetty Helen Yanti, kepala departemen TCM di rumah sakit tersebut, menyatakan bahwa kolaborasi lintas negara seperti ini memungkinkan para dokter setempat untuk mengasah keterampilan mereka, khususnya dalam menguasai penentuan titik akupunktur dengan tingkat presisi yang tinggi.
Hafna Rosita dari Konsil Kesehatan Tradisional Indonesia memandang pertukaran tersebut sebagai peluang ganda, yakni meningkatkan keterampilan praktisi lokal sekaligus mendorong pengembangan pengobatan tradisional asli Indonesia.
“TCM telah berkembang pesat, dengan pendokumentasian, analisis, dan penelitian yang ekstensif,” ujar Hafna, seraya mengungkapkan bahwa pengobatan tradisional Indonesia juga memiliki potensi besar yang belum dimanfaatkan.
Kedua sistem tersebut dapat saling melengkapi, misalnya dengan mengintegrasikan teknik akupunktur presisi dengan kekayaan ramuan herbal Indonesia, ujar Hafna.
Dr. David Song, seorang dokter di divisi Pengobatan Tradisional Indonesia dan Tiongkok (TICM) di rumah sakit tersebut, menekankan bahwa inisiatif ini pada akhirnya bertujuan untuk memadukan pengobatan lokal Indonesia dengan praktik-praktik Tiongkok yang telah teruji oleh waktu.
Melalui divisi TICM di RSPPN Panglima Besar Soedirman, “kami berupaya mengintegrasikan ramuan herbal lokal Indonesia, yang dikenal sebagai jamu, dengan kearifan TCM yang telah ada selama ribuan tahun, guna melayani kebutuhan layanan kesehatan masyarakat kita dengan lebih baik,” ujar David.
Ke depan, David mengatakan dirinya yakin kemitraan dengan berbagai institusi Tiongkok akan mendorong pertukaran yang lebih mendalam di bidang teknologi medis, penelitian, dan pelatihan klinis.
Chen Zhigeng, direktur departemen medis di Wenzhi Traditional Chinese Medicine, sebuah perusahaan layanan kesehatan digital berbasis AI yang berfokus pada TCM, mengatakan bahwa hasil program tersebut jauh melampaui ekspektasi, seraya menyuarakan harapan kuat untuk kemitraan yang berkelanjutan.
Acara tersebut menjadi jembatan bagi pertukaran medis dan budaya, yang memungkinkan pihak Tiongkok dan mitranya dari Indonesia untuk saling belajar serta memperdalam kerja sama jangka panjang dalam bidang layanan kesehatan tradisional, katanya. []
Penulis : Nurul Fitri Ramadhani
Editor : Rudi Alfian
Sumber Berita : Jakarta
















