TEHERAN-Iran pada Minggu (18/10) memperingatkan bahwa “miskalkulasi” lebih lanjut oleh Amerika Serikat (AS) dan Israel akan memicu respons yang lebih keras dari angkatan bersenjata Iran, seiring Teheran mengumumkan rencana pembentukan otoritas regional untuk mengawasi arus data digital di tengah eskalasi ketegangan.
Kepala Staf Angkatan Bersenjata Iran Ali Abdollahi mengatakan dalam sebuah pernyataan yang dikutip media Iran bahwa jika AS dan Israel benar-benar mampu melaksanakan ancaman mereka terhadap Iran, mereka tentu sudah melakukannya saat ini.
“Anda harus tahu bahwa setiap miskalkulasi baru akan ditanggapi dengan respons yang berbeda dan jauh lebih keras dibandingkan respons sebelumnya,” ujar kepala militer Iran tersebut.
Pada Minggu yang sama, Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran Mohsen Rezaei mengatakan melalui platform media sosial X, “Angkatan bersenjata Iran telah menyiapkan rencana yang lebih menghancurkan dibandingkan perang 12 hari dan 40 hari untuk petualangan yang baru.”
Menyebut tentang “pernyataan yang tidak berdasar dan ancaman berulang” dari para pejabat AS dan Israel belakangan ini, Rezaei memperingatkan bahwa “rencana operasional baru Iran tidak akan dilanjutkan dengan aturan-aturan yang mereka ketahui.”
Sementara itu, Ketua Parlemen Iran Mohammad Baqer Qalibaf “dengan hormat menyarankan” kepada pemerintah, lembaga keuangan, dan perusahaan di kawasan Asia Barat agar “tidak memberikan sumber daya kepada perusahaan kecerdasan buatan (AI) atau perusahaan data apa pun yang membantu invasi (terhadap Iran) atau membunuh anak-anak.”
Qalibaf mengatakan Iran akan membentuk otoritas baru untuk mengendalikan arus data digital di kawasan tersebut, yang akan diberi nama “Otoritas Data Teluk Persia”.
Pernyataan-pernyataan tersebut disampaikan di tengah meningkatnya retorika ancaman terhadap Iran.
Dalam wawancara dengan Newsmax pada Kamis (15/10) malam, Presiden AS Donald Trump mengatakan AS mungkin perlu menargetkan Gunung Pickaxe di Iran, yang diklaim terkait dengan program nuklir negara tersebut. Trump menegaskan Washington berupaya memastikan Teheran tidak akan mengembangkan senjata nuklir.
Mengutip sejumlah pejabat AS yang mengetahui persoalan tersebut, CNN pada Kamis melansir bahwa militer AS telah mengembangkan rencana serangan baru yang dapat mencakup penggunaan apa yang disebut “Induk dari Segala Bom” (Mother of All Bombs) untuk menargetkan infrastruktur energi dan fasilitas nuklir Iran jika Presiden Donald Trump memerintahkan dimulainya kembali operasi tempur, baik sebelum maupun setelah pemilihan umum sela.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov dijadwalkan tiba di ibu kota Iran, Teheran, pada Senin (19/10) untuk mengadakan pembicaraan mengenai perkembangan regional dan internasional, kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei pada Minggu.
Baghaei mengatakan kunjungan menteri luar negeri Rusia tersebut akan berlangsung dalam kerangka konsultasi yang sedang berjalan antara Teheran dan Moskow, dengan tujuan menindaklanjuti implementasi kesepakatan bilateral serta membahas perkembangan regional dan internasional.[]
Penulis : Heri Suroyo
Editor : Nara J Afkar
Sumber Berita : Jakarta
















