ALI Zeinivand, wakil menteri dalam negeri untuk urusan politik sekaligus juru bicara resmi Kementerian Dalam Negeri Iran, pada Sabtu (19/9) mengatakan bahwa negaranya tidak khawatir mengenai pasokan barang-barang kebutuhan pokok alias sembako meski ada “propaganda musuh.”
Akibat tingginya volume impor barang-barang kebutuhan pokok, negara itu saat ini sedang menghadapi kekurangan fasilitas penyimpanan dan telah meminta bantuan dari sektor swasta, kata Zeinivand dalam sebuah konferensi pers di Teheran, menurut kantor berita semiresmi Iran, Fars.
“Rakyat Iran tidak perlu khawatir mengenai pasokan barang-barang kebutuhan pokok dan tidak perlu terpengaruh oleh propaganda palsu musuh. Kami sedang bekerja secara optimal dalam hal ini,” ujarnya.
Kendati demikian, Zeinivand mengakui adanya kenaikan harga produk-produk dalam negeri, seraya menuturkan bahwa para pejabat Iran sedang mengambil langkah-langkah untuk mengatasi isu tersebut.
Amerika Serikat (AS) mengintensifkan tekanan ekonominya terhadap Iran setelah Presiden AS Donald Trump bulan lalu mengumumkan “operasi ekonomi paling menghancurkan yang pernah dilakukan” terhadap negara mana pun yang memberikan bantuan vital kepada Iran.
“Hal ini akan menjadi Perang Ekonomi dan Isolasi dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya,” tutur Trump, seraya menyebut langkah itu sebagai “d-day ekonomi.”
Hal ini terjadi setelah pada 18 Juni, AS dan Iran menandatangani nota kesepahaman (MoU) untuk mengakhiri perang di semua front di kawasan tersebut, termasuk Lebanon. Berdasarkan MoU itu, mereka dijadwalkan menggelar perundingan dalam jangka waktu 60 hari, yang berakhir pada 17 Agustus, guna mencapai kesepakatan akhir-meski harus menelan pil pahit, perdamaian yang diharapkan gagal. []
Penulis : Heri Suroyo
Editor : Nara J Afkar
Sumber Berita : Jakarta
















