TAIYUAN- Mulai dari membuat tembikar dengan roda putar, memainkan gong dan genderang tradisional, hingga melukis dengan tinta, delegasi pemuda Indonesia mengikuti serangkaian pengalaman imersif warisan budaya takbenda (intangible cultural heritage/ICH) di Provinsi Shanxi. Mencakup sanggar ICH di perdesaan dan program pelestarian berbasis universitas, berbagai aktivitas itu menawarkan pengamatan dari jarak dekat terhadap nilai seni kerajinan tradisional Tiongkok dan memperdalam pembelajaran budaya bersama antara kaum muda kedua negara.
Desa Liujiaobao di Kota Taiyuan, Shanxi, mengusung model khas “satu halaman, satu warisan budaya takbenda; satu halaman, satu tema budaya”. Halaman-halaman rumah warga yang terbengkalai di desa itu telah direvitalisasi dan kini menampung lebih dari 100 jenis warisan budaya takbenda.
Di sebuah sanggar tari barongsai di desa tersebut, deretan kepala barongsai dari berbagai gaya yang dibuat dengan apik berjajar di dinding, menciptakan kesan visual yang mencolok. Diiringi tabuhan gong dan genderang yang bergema, sebuah barongsai merah melompat dan berputar dengan lincah, memenuhi ruangan dengan semangat perayaan rakyat Tiongkok utara yang meriah serta mengundang tepuk tangan berulang kali dari para delegasi tersebut.
Di sebuah sanggar pembuatan tembikar, para delegasi mengenakan celemek dan duduk menghadap roda putar tembikar. Menggunakan tanah loes lokal dari Shanxi sebagai bahan baku, mereka mempraktikkan cara menguleni tanah liat, memusatkan, dan membentuk bejana di bawah bimbingan para pewaris kerajinan. Melalui ujung jari, mereka merasakan perubahan tekstur tanah liat dan mempelajari teknik pembakaran kuno keramik berglasir hitam.
Di “Meiyi Lacquer Workshop”, para delegasi mengeksplorasi tatahan pernis emas, sebuah warisan budaya takbenda tingkat provinsi di Shanxi. Kerajinan pernis yang mengilap dan berpola indah, dan belasan prosedur tradisional yang rumit di balik setiap karyanya, memberi mereka apresiasi mendalam terhadap keahlian pengerjaan yang teliti di balik bentuk seni tersebut.
Mereka juga mencicipi cuka tua Shanxi yang terkenal dan menjajal seni marbling air untuk membuat tas kreatif sesuai keinginan mereka, merasakan beragam daya tarik warisan takbenda Shanxi mulai dari seni kuliner hingga kerajinan tangan kreatif.
Di Universitas Normal Taiyuan (Taiyuan Normal University), kegiatan pertukaran di kampus dibuka dengan upacara penyambutan gong dan genderang Taiyuan yang meriah. Taiyuan dikenal sebagai “kampung halaman gong dan genderang”. Seni gong dan genderang tradisional Taiyuan masuk ke dalam daftar warisan budaya takbenda nasional pada 2008 dan menjadi simbol khas budaya Shanxi.
Kelompok Gong dan Genderang Xingzhi dari universitas tersebut menyuguhkan pertunjukan yang energik dan megah. Setelah itu, para delegasi mengambil simbal tembaga untuk turut bermain, mengikuti irama guna menguasai teknik dasar menabuh dan merasakan semangat yang lantang serta penuh energi dari musik perkusi Tiongkok utara.
Selanjutnya, mereka menikmati ensambel musik rakyat yang menampilkan alat musik tradisional Tiongkok, termasuk pipa, erhu, ruan, dan dizi, seraya meresapi pesona melodi musik Tiongkok. Di kelas melukis burung dan bunga gaya bebas, dengan arahan dari instruktur, mereka mencelupkan kuas ke dalam tinta dan pigmen untuk menciptakan karya lukisan tinta bunga magnolia mereka sendiri. Banyak delegasi mengatakan bahwa sesi praktik langsung itu merupakan pengalaman yang sangat berharga.
Yen Yen Kuswati, pengurus bidang pemuda Perhimpunan Persahabatan Indonesia-Tiongkok (PPIT), menyampaikan bahwa budaya Tiongkok sangat luas dan mendalam, kaya dengan kearifan dan pemikiran filosofis, serta memiliki makna yang istimewa dan mendalam bagi komunitas etnis Tionghoa di Indonesia.
“Setelah pewarisan dan integrasi selama beberapa generasi, budaya Tiongkok telah lama menjadi bagian penting dari tatanan multikultural di Indonesia. Ikatan emosional dari akar budaya yang sama menjadikan pertukaran ICH tersebut terasa sangat menyentuh,” ujar Yen Yen, seraya berharap acara itu akan semakin memperkuat dan memperdalam persahabatan antara kedua bangsa bagi generasi-generasi mendatang.
Dicky Larson, pendiri Link Education Group, mengharapkan penguatan pertukaran dan kerja sama antara sekolah-sekolah dari kedua pihak, termasuk program pertukaran pelajar dan guru, serta berbagi sumber daya pendidikan. Dia juga mengusulkan lebih banyak inisiatif yang berorientasi pada kaum muda, seperti pertunjukan budaya dan seni, serta aktivitas festival tradisional untuk meningkatkan pemahaman budaya bersama, sehingga generasi muda dapat meneruskan persahabatan Tiongkok-Indonesia.
Mulai dari praktik warisan budaya yang hidup di area perdesaan hingga pendidikan pewarisan yang sistematis di universitas, praktik pelestarian ICH Shanxi telah meninggalkan kesan mendalam bagi rombongan delegasi tersebut. Dialog budaya lintas batas ini tidak hanya memperkenalkan warisan budaya tradisional Tiongkok yang mendalam kepada kaum muda Indonesia, tetapi juga membangun jembatan yang kokoh bagi pembelajaran budaya bersama dan persahabatan kaum muda di antara kedua negara.[]
Penulis : Heri Suroyo
Editor : Rudi Alfian
Sumber Berita : Jakarta
















