BEIJING-Universitas Peking, salah satu kampus paling tersohor di Tiongkok, untuk pertama kalinya menggelar Forum Indonesia Universitas Peking, forum yang berfokus pada penelitian tentang Indonesia, pada 14 hingga 20 Oktober di Beijing. Acara tersebut mempertemukan para peneliti dan akademisi asal Tiongkok, Indonesia, Australia, dan berbagai negara lainnya untuk saling bertukar pandangan terkait hasil penelitian mereka mengenai topik “Transisi Indonesia: Pembangunan, Masyarakat dan Tatanan Regional”. Forum ini bertujuan mengukuhkan fondasi persahabatan dan rasa saling kenal antara Tiongkok dan Indonesia.
Forum itu diselenggarakan bersama oleh Institut Studi Negara dan Kawasan (Institute of Country and Region Studies) Universitas Peking dan beberapa institut terkait di perguruan tinggi tersebut, serta didukung oleh Grup Sinar Mas, kantor perwakilan Bank Indonesia di Beijing dan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Beijing.
Wakil Kepala Perwakilan Republik Indonesia Parulian George Andreas Silalahi menyampaikan pidato dalam sesi forum terbuka pada Jumat (16/10). “Forum ini akan menjadi peluang yang baik untuk mengetahui proses transformasi Indonesia dan membahas bagaimana Indonesia dan Tiongkok bersama-sama mengatasi tantangan yang dihadapinya. Pembangunan ekonomi, kemajuan sosial dan kemakmuran regional adalah hal-hal yang terhubung, sehingga diperlukan penelitian akademis yang mendalam dan kerja sama internasional yang erat untuk mewujudkan hal tersebut,” ujar Parulian, sembari mengungkapkan apresiasi kepada Universitas Peking atas upayanya dalam mendorong pertukaran dan penelitian.
Sementara itu, dalam pidato yang disampaikan melalui video, Kuasa Usaha Ad Interim Kedutaan Besar Republik Rakyat Tiongkok untuk Indonesia Zhou Kan menyoroti pentingnya peran Indonesia di kawasan maupun dunia serta perlunya Tiongkok dan Indonesia secara lebih lanjut mengenal satu sama lain dalam berbagai bidang. Zhou juga berharap forum itu akan menghasilkan banyak manfaat bernilai tinggi bagi kedua bangsa untuk meningkatkan persahabatan dan rasa saling memahami di masa mendatang.
Menurut Universitas Peking, forum itu diharapkan menjadi platform unggulan di Tiongkok untuk penelitian tentang Indonesia. Forum ini direncanakan digelar setiap tahun serta menghubungkan lembaga-lembaga penelitian di Tiongkok, Indonesia dan seluruh dunia. “Studi terhadap negara-negara dan kawasan memiliki signifikansi yang sangat penting. Kami berharap semakin banyak akademisi muda dan perwakilan dari berbagai negara dapat berkumpul dan bertukar pandangan di sini,” ujar Wakil Direktur Institut Studi Negara dan Kawasan Universitas Peking Prof. Zhai Kun.
Dalam sesi forum terbuka tersebut, Lili Yan Ing dari International Economic Association memberi presentasi mengenai potensi kerja sama Indonesia-Tiongkok di bawah Kemitraan Ekonomi Komprehensif Regional (RCEP) dan di bidang-bidang seperti kecerdasan buatan dan robotika. Firman Witoelar dari Universitas Nasional Australia (Australian National University) menjelaskan kebijakan makroekonomi Indonesia dalam menghadapi berbagai guncangan. Adapun Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia di Beijing Yulian Wihantoro memperkenalkan hasil kerja sama keuangan Tiongkok dan Indonesia, di antaranya Local Currency Transaction atau LCT dan pembayaran berbasis kode QR. Lebih banyak diskusi spesifik akan dilakukan dalam konferensi akademik yang rencananya digelar pada Sabtu (17/10) di Universitas Peking.
Forum itu juga diisi dengan pameran budaya Indonesia, pemutaran film Indonesia, pertunjukan seni, serta dialog pemuda dan pelaku usaha Tiongkok-Indonesia.[]
Penulis : Romy Agus
Editor : Nara J Afkar
Sumber Berita : Jakarta




![Pemerintah Bahas Kawasan Industri Katibung [LL]](https://web.lintaslampung.com/wp-content/uploads/2026/10/Kawasan-Industri-Katibung-225x129.jpg)





![Pemerintah Bahas Kawasan Industri Katibung [LL]](https://web.lintaslampung.com/wp-content/uploads/2026/10/Kawasan-Industri-Katibung-129x85.jpg)





