Wilayah Pesisir Rentan ISPA Akibat Variabilitas Iklim dan Penurunan Kualitas Lingkungan

Jumat, 19 Desember 2025 | 13:30 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Indah Rasio Nita Dewi, Mahasiswa Program Magister Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kedokteran UNILA

Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) merupakan salah satu penyakit menular yang masih menjadi masalah kesehatan masyarakat, khususnya di negara-negara berkembang seperti Indonesia. Variabilitas iklim semakin dirasakan dampaknya oleh masyarakat, khususnya mereka yang tinggal di wilayah pesisir. Perubahan suhu, peningkatan kelembapan, serta kejadian cuaca ekstrem yang terjadi secara musiman maupun antar-tahun terbukti memengaruhi kualitas lingkungan dan kesehatan masyarakat. Salah satu dampak yang mengemuka adalah meningkatnya risiko Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di kawasan pesisir.

Sebuah kajian kualitatif menunjukkan bahwa wilayah pesisir memiliki tingkat kerentanan yang tinggi terhadap dampak variabilitas iklim. Karakteristik ekologis seperti kelembapan udara yang tinggi, intrusi air laut, serta perubahan mikroklimat berpadu dengan kondisi sosial-ekonomi masyarakat yang relatif rentan. Kombinasi faktor tersebut memperbesar risiko gangguan kesehatan pernapasan, terutama ISPA, kelembapan tinggi berkontribusi terhadap pertumbuhan mikroorganisme penyebab infeksi, dan curah hujan memengaruhi kondisi lingkungan yang memperburuk kualitas udara dalam ruangan

Baca Juga:  Pemprov Lampung Raih Penghargaan Adhi Manawa Nugraha Madya dari BKN

Penelitian ini juga mengungkapkan bahwa penurunan kualitas lingkungan akibat factor antropogenik berperan sebagai penghubung utama antara variabilitas iklim dan kejadian ISPA. Kualitas udara yang memburuk, sanitasi lingkungan yang tidak terkelola dengan baik  seperti pengelolaan sampah rumah tangga, kondisi ventilasi rumah yang tidak memadai, kepadatan hunian, pencahayaan dan kelembaban, serta kebersihan lingkungan rumah memperbesar peluang terjadinya infeksi saluran pernapasan. Kondisi tersebut menjadikan anak-anak dan lansia sebagai kelompok yang paling rentan terdampak.

Tidak hanya faktor lingkungan, aspek sosial juga memperkuat kerentanan masyarakat pesisir terhadap ISPA. Keterbatasan ekonomi, rendahnya akses layanan kesehatan, serta minimnya kapasitas adaptasi terhadap perubahan lingkungan membuat upaya pencegahan penyakit belum dapat dilakukan secara optimal. Akibatnya, risiko ISPA cenderung berulang dan sulit dikendalikan.

Para peneliti menegaskan bahwa penanganan ISPA di wilayah pesisir tidak dapat mengandalkan pendekatan medis semata. Upaya perbaikan kualitas lingkungan, penataan permukiman yang lebih sehat, serta peningkatan literasi iklim dan kesehatan masyarakat perlu dilakukan secara terpadu. Pendekatan berbasis komunitas dinilai penting untuk memperkuat ketahanan masyarakat terhadap dampak variabilitas iklim.

Baca Juga:  BPBL Lampung Turun, dari 10.800 jadi 9.800 Yang Dialokasikan

Kajian ini juga merekomendasikan perlunya kolaborasi lintas sektor antara pemerintah, tenaga kesehatan, akademisi, dan masyarakat. Pengendalian sumber pencemaran udara, perbaikan ventilasi rumah, pengelolaan sampah rumah tangga serta peningkatan akses terhadap layanan kesehatan menjadi langkah strategis untuk menurunkan risiko ISPA secara berkelanjutan.

Melalui temuan ini, variabilitas iklim dipandang bukan sekadar fenomena alam, melainkan isu kesehatan masyarakat yang nyata dan mendesak. Wilayah pesisir sebagai kawasan yang berada di garis depan dampak perubahan iklim memerlukan perhatian dan kebijakan adaptif agar kesehatan masyarakat dapat terlindungi secara berkelanjutan.


Penulis : Indah Rasio Nita Dewi


Editor : Ahmad Novriwan

Temukan berita-berita menarik lainnya

Berita Terkait

Fatikhatul Khoiriyah dan Agus Sulistio Dipercaya Pimpin DPC PKB Lampung Utara Periode 2026–2031
BPBL Lampung Turun, dari 10.800 jadi 9.800 Yang Dialokasikan
Kelistrikan Lampung Andal, Tapi, 50% Pasokannya dari Daerah Lain
KDMP Jangan Berorientasi Kuantitas, Tapi Akhirnya Mangkrak
Lampung Torehkan Prestasi Nasional, Gubernur Mirza Raih Penghargaan Pemimpin Daerah Inspiratif Sektor Pertanian
Masyarakat Adat Harus Diberi Ruang yang Luas, Bukan Pelengkap Seremonial
Gubernur Mirza Ajak Perantau Minang Berkolaborasi Bangun Lampung
Ketua Perhimpunan Persahabatan Sambut Baik Kehadiran Dubes Korut yang Baru
Tag :

Berita Terkait

Jumat, 12 Juni 2026 - 16:06 WIB

Fatikhatul Khoiriyah dan Agus Sulistio Dipercaya Pimpin DPC PKB Lampung Utara Periode 2026–2031

Jumat, 12 Juni 2026 - 12:20 WIB

BPBL Lampung Turun, dari 10.800 jadi 9.800 Yang Dialokasikan

Jumat, 12 Juni 2026 - 10:13 WIB

Kelistrikan Lampung Andal, Tapi, 50% Pasokannya dari Daerah Lain

Jumat, 12 Juni 2026 - 09:10 WIB

KDMP Jangan Berorientasi Kuantitas, Tapi Akhirnya Mangkrak

Jumat, 12 Juni 2026 - 08:52 WIB

Lampung Torehkan Prestasi Nasional, Gubernur Mirza Raih Penghargaan Pemimpin Daerah Inspiratif Sektor Pertanian

Berita Terbaru

#indonesiaswasembada

BPBL Lampung Turun, dari 10.800 jadi 9.800 Yang Dialokasikan

Jumat, 12 Jun 2026 - 12:20 WIB

#indonesiaswasembada

Kelistrikan Lampung Andal, Tapi, 50% Pasokannya dari Daerah Lain

Jumat, 12 Jun 2026 - 10:13 WIB

#indonesiaswasembada

KDMP Jangan Berorientasi Kuantitas, Tapi Akhirnya Mangkrak

Jumat, 12 Jun 2026 - 09:10 WIB