FUZHOU-Rumput laut yang dipanen dari perairan negara-negara Asia Tenggara dan negara-negara kepulauan Pasifik telah lama dikirim ke Tiongkok sebagai bahan baku. Kini, setiap pengiriman membawa muatan kedua yang tak terlihat, yakni karbon yang diserap rumput laut selama pertumbuhannya.
Sebuah pengiriman rumput laut dari Kepulauan Solomon baru-baru ini tiba di Zhangzhou, satu dari tiga pusat industri pengolahan rumput laut Tiongkok. Pada saat yang sama, kredit karbon yang dihasilkan dari budi daya rumput laut tersebut tercatat di sebuah pusat perdagangan karbon di Xiamen, dengan perdagangan pertama sebanyak 61 ton senilai 6.000 yuan (1 yuan = Rp2.624).
Transaksi itu mencerminkan model “nilai ganda” untuk perdagangan rumput laut lintas perbatasan. Negara-negara pengekspor memperoleh pendapatan dari bahan baku dan, secara terpisah, dari karbon yang diserap dari atmosfer.
“Penyerap karbon laut, yang juga dikenal sebagai ‘karbon biru’, mengacu pada proses dan mekanisme di mana organisme laut menyerap karbon dioksida dari atmosfer dan mengikat serta menyimpan karbon tersebut di laut,” kata Cai Yangpeng, kepala Seksi Ekonomi Kelautan, Biro Kelautan dan Perikanan Zhangzhou. “Budi daya rumput laut skala besar merupakan salah satu jalur utama untuk karbon biru.”
Cai mengatakan bahwa dulu, kerja sama antara pengolah Tiongkok dan negara-negara penghasil rumput laut di Asia Tenggara dan Pasifik Selatan hampir seluruhnya berfokus pada produk fisik. Akibatnya, nilai ekologis rumput laut, yakni kemampuannya untuk menangkap karbon dan meningkatkan kualitas perairan pesisir, belum menghasilkan pendapatan bagi negara-negara yang membudidayakannya.
Zhangzhou merupakan salah satu dari tiga klaster pengolahan rumput laut utama di Tiongkok, yang menyumbang sekitar 30 persen dari kapasitas nasional. Perusahaan-perusahaan di sana mengimpor lebih dari 150.000 ton rumput laut kering setiap tahun dari negara-negara termasuk Indonesia dan Filipina untuk memproduksi karagenan dan agar-agar, yang merupakan hidrokoloid yang banyak digunakan dalam makanan, media kultur farmasi, dan bahan baru untuk produk perawatan pribadi.
“Kami membutuhkan sekitar 2.000 metrik ton bahan baku rumput laut setiap bulan,” ujar Hong Yanyan, seorang pembeli di Fujian Green Power Biotechnology Co., Ltd, “Sebagian besar bahan baku kami merupakan rumput laut tropis, yang hanya dapat tumbuh stabil dalam siklus panjang di perairan hangat sepanjang tahun, sehingga hampir semuanya diimpor dari Asia Tenggara. Kunjungan lapangan dan pengujian sampel menunjukkan bahwa rumput laut dari negara-negara Asia Tenggara dan Pasifik Selatan berkualitas baik, dengan tingkat ekstraksi gel yang tinggi, menjadikannya bahan baku yang ideal.”
“Kepulauan Solomon menjual rumput laut yang diproduksinya kepada kami dan memperoleh pendapatan perdagangan; karbon yang diserap melalui budi daya terstandar juga dapat dikembangkan menjadi produk kredit karbon yang dapat diperdagangkan, sehingga memberikan sumber pendapatan ekologis tambahan,” ujar Cai.
Menurutnya, pendapatan dari kredit karbon memberikan insentif bagi petani lokal untuk memperluas dan menstandarkan usaha mereka. Semakin luas dan semakin baik pengelolaan lahan, semakin banyak karbon yang dapat diverifikasi. Hal ini pada akhirnya memberikan pasokan bahan baku yang lebih stabil bagi perusahaan pengolahan di Zhangzhou, sehingga menciptakan siklus yang saling menguntungkan bagi kedua pihak.
Memverifikasi jumlah karbon yang benar-benar diserap oleh budi daya rumput laut yang tersebar di perairan kepulauan merupakan tantangan teknis utama dalam pengembangan karbon lintas perbatasan.
Cai mengatakan bahwa lebih dari 90 persen rumput laut yang diolah di Zhangzhou berasal dari Indonesia. Menurutnya, kota tersebut mulai menjajaki penghitungan karbon lintas batas dengan Indonesia pada 2024. Dalam proyek percontohan itu, sebanyak 878 metrik ton karbon dari rumput laut berhasil diverifikasi. Sebesar 60 persen dari hasil yang diperoleh, setelah dikurangi biaya pengembangan, dikembalikan kepada Asosiasi Rumput Laut Indonesia (ARLI) dan para petani yang terlibat, ujarnya.
Penghitungan tersebut dilakukan melalui berbagai tahapan yang saling diperiksa silang, kata Yan Jinpei, seorang peneliti di Institut Oseanografi Ketiga yang bernaung di bawah Kementerian Sumber Daya Alam Tiongkok.
“Pertama, kami menggunakan satelit penginderaan jauh untuk menentukan lokasi dan batas-batas area budi daya rumput laut, sehingga kami memperoleh informasi langsung,” tutur Yan. “Selanjutnya, kami mengumpulkan bukti transaksi penjualan antara petani dan distributor, serta dokumen masuk kepabeanan, lalu mengolah data pada setiap tahap untuk memverifikasi hasil produksi rumput laut yang sebenarnya. Setelah rumput laut kering tiba di Tiongkok, kami menguji sampel impor untuk mengetahui kadar air dan kandungan karbon berdasarkan metodologi yang relevan, sehingga dapat memverifikasi lebih lanjut hasil produksi alga dan menghitung penyerapan karbon.”
Yan mengatakan bahwa setelah melalui serangkaian perhitungan dan verifikasi silang, karbon yang dihasilkan dari rumput laut yang dibudidayakan di berbagai petak perairan kepulauan, yang sebelumnya “tidak terlihat dan tidak berwujud,” kini dapat memperoleh “sertifikat aset” yang kredibel dan didukung oleh data.
Bagi banyak negara Asia Tenggara dan negara-negara kepulauan Pasifik, laut merupakan sumber daya utama, tetapi keterbatasan teknologi dan akses pasar membuat nilai ekologisnya sulit menghasilkan nilai ekonomi.
Model yang sedang berkembang, yakni “teknologi Tiongkok ditambah sumber daya luar negeri ditambah pasar global”, bertujuan untuk mengubah kondisi tersebut. Tiongkok berkontribusi melalui teknologi penghitungan karbon yang matang, pengalaman dalam mengembangkan dan mengoperasikan proyek penyerap karbon, serta pasar pengolahan dan konsumen yang luas; negara-negara kepulauan Pasifik memanfaatkan kekayaan sumber daya laut tropis mereka; sementara kredit karbon yang dihasilkan diperdagangkan di berbagai pasar global, mulai dari sektor pelayaran hingga kebutuhan netralitas karbon perusahaan, sehingga memungkinkan nilai produk ekologis melintasi perbatasan negara. []
Penulis : Romy Agus
Editor : Heri Suroyo
Sumber Berita : Jakarta

















