Sendari Lampung, Satu-satunya Duo yang Masih Bertahan di Primadona Pantura 2024

Rabu, 31 Januari 2024 | 17:47 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Laporan: Heri
PADA saat babak Panggung Goyang Primadona Pantura, Sendari, duo asal Lampung berhasil melaju ke babak 8 besar. Sendari (Lampung) tergabung dengan 5 orang lainnya di grup A yang tampil pada Kamis (18/1) lalu.

Sendari bertemu dengan Syntia peserta asal Palangkaraya. Mereka beradu penampilan dengan menyanyikan lagu Bang Jono dipadukan dengan aksi panggung khas mereka goyang petir.

Baca Juga:  Gubernur Mirza Minta Fatayat Perkuat Kualitas SDM

Meskipun menurut vote juri VIP yang ada di panggung, Sendari kalah telak dari Syntia namun ternyata di akhir episode, keadaan pun berbalik, mereka berhasil lanjut ke babak 8 besar, dengan voting sejumlah 15,89% dan Syntia harus tereliminasi.

Temukan berita-berita menarik lainnya

Berita Terkait

PW Muhammadiyah Lampung Dukung Penuh Film ‘Ageman’, Sebut Ageman Sebagai Simbol Kedamaian Dukungan terhadap keberadaan film edukasi kebangsaan bertajuk Ageman terus mengalir deras. Kali ini, Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Provinsi Lampung menyatakan dukungan penuh atas hadirnya karya sinematik yang mengusung pesan moderasi, toleransi, dan kerukunan antarumat beragama tersebut. Karya visual yang lahir dari inspirasi dan gagasan putra-putri terbaik serta tokoh masyarakat di Lampung ini dinilai sangat krusial dalam memperkokoh tali persaudaraan di tengah dinamika masyarakat Indonesia yang heterogen. Ketua PWM Provinsi Lampung, Prof. Dr. H. Sudarman, M.Ag., menyambut hangat peluncuran film yang digagas para sineas dan tokoh lokal Bumi Ruwa Jurai ini sebagai sarana dakwah kebangsaan yang sejuk. Prof. Sudarman menjelaskan, kata Ageman yang diserap dari khazanah budaya Nusantara sejatinya bermakna pakaian atau pegangan hidup. Filosofi mendalam tersebut merefleksikan bahwa keberagaman suku, ras, budaya, dan agama adalah anugerah sekaligus amanah untuk saling melengkapi. “Ageman itu artinya pakaian sesuatu yang melekat dalam kehidupan kita sehari-hari. Yakni pakaian masyarakat Indonesia yang senang dengan kedamaian, menyukai kerukunan, serta mampu hidup berdampingan secara harmonis di dalam perbedaan,” ujar Prof. Sudarman, Kamis (1/10/2026). Lebih lanjut, Prof. Sudarman menggarisbawahi bahwa benih-benih intoleransi serta paham ekstremisme kerap kali muncul akibat minimnya ruang dialog dan pemahaman yang kurang utuh terhadap perbedaan. Oleh sebab itu, hadirnya film Ageman diharapkan bisa menjadi media pencerahan sekaligus benteng moral agar masyarakat khususnya generasi muda terhindar dari paparan radikalisme. Sebagai wujud pilar dukungan nyata, PW Muhammadiyah Lampung mendorong seluruh jaringan lembaga pendidikan, mulai dari sekolah, perguruan tinggi, hingga pondok pesantren di lingkungan Muhammadiyah untuk menjadikan film Ageman sebagai materi refleksi dan edukasi kebangsaan. Metode nonton bareng (nobar) yang dilanjutkan dengan ruang diskusi interaktif dianggap sebagai cara efektif agar pelajar dan mahasiswa dapat menyerap serta membedah pentingnya merawat harmoni sosial. Di akhir penyampaiannya, Prof. Sudarman mengajak seluruh elemen masyarakat luas untuk menyaksikan film ini serta menjadikan nilai-nilai toleransi sebagai pegangan hidup sehari-hari demi mewujudkan kehidupan berbangsa yang damai, inklusif, dan berkemajuan, punkas Prof. Sudarman.
Kemenko IPK Atensi Pemanfaatan Disposal Oleh Pemkab Mesuji
Flydubai Mendarat Darurat, Dua Pilot Terlibat Insiden
Lampung Fokus Deteksi Dini pada Penyakit Kanker
Marindo: Nilai Pancasila Harus Jadi Landasan Pembangunan
Kwaran Kasui Adakan Rapat Program Kerja 
Bupati Ayu Pimpin Upacara Hari Kesaktian Pancasila
PT BTB Rutin Pastikan Rambu dan Marka Tetap Layak

Berita Terbaru

Berita Utama

PW Muhammadiyah Lampung Dukung Penuh Film ‘Ageman’, Sebut Ageman Sebagai Simbol Kedamaian Dukungan terhadap keberadaan film edukasi kebangsaan bertajuk Ageman terus mengalir deras. Kali ini, Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Provinsi Lampung menyatakan dukungan penuh atas hadirnya karya sinematik yang mengusung pesan moderasi, toleransi, dan kerukunan antarumat beragama tersebut. Karya visual yang lahir dari inspirasi dan gagasan putra-putri terbaik serta tokoh masyarakat di Lampung ini dinilai sangat krusial dalam memperkokoh tali persaudaraan di tengah dinamika masyarakat Indonesia yang heterogen. Ketua PWM Provinsi Lampung, Prof. Dr. H. Sudarman, M.Ag., menyambut hangat peluncuran film yang digagas para sineas dan tokoh lokal Bumi Ruwa Jurai ini sebagai sarana dakwah kebangsaan yang sejuk. Prof. Sudarman menjelaskan, kata Ageman yang diserap dari khazanah budaya Nusantara sejatinya bermakna pakaian atau pegangan hidup. Filosofi mendalam tersebut merefleksikan bahwa keberagaman suku, ras, budaya, dan agama adalah anugerah sekaligus amanah untuk saling melengkapi. “Ageman itu artinya pakaian sesuatu yang melekat dalam kehidupan kita sehari-hari. Yakni pakaian masyarakat Indonesia yang senang dengan kedamaian, menyukai kerukunan, serta mampu hidup berdampingan secara harmonis di dalam perbedaan,” ujar Prof. Sudarman, Kamis (1/10/2026). Lebih lanjut, Prof. Sudarman menggarisbawahi bahwa benih-benih intoleransi serta paham ekstremisme kerap kali muncul akibat minimnya ruang dialog dan pemahaman yang kurang utuh terhadap perbedaan. Oleh sebab itu, hadirnya film Ageman diharapkan bisa menjadi media pencerahan sekaligus benteng moral agar masyarakat khususnya generasi muda terhindar dari paparan radikalisme. Sebagai wujud pilar dukungan nyata, PW Muhammadiyah Lampung mendorong seluruh jaringan lembaga pendidikan, mulai dari sekolah, perguruan tinggi, hingga pondok pesantren di lingkungan Muhammadiyah untuk menjadikan film Ageman sebagai materi refleksi dan edukasi kebangsaan. Metode nonton bareng (nobar) yang dilanjutkan dengan ruang diskusi interaktif dianggap sebagai cara efektif agar pelajar dan mahasiswa dapat menyerap serta membedah pentingnya merawat harmoni sosial. Di akhir penyampaiannya, Prof. Sudarman mengajak seluruh elemen masyarakat luas untuk menyaksikan film ini serta menjadikan nilai-nilai toleransi sebagai pegangan hidup sehari-hari demi mewujudkan kehidupan berbangsa yang damai, inklusif, dan berkemajuan, punkas Prof. Sudarman.

Berita Terkait

Jumat, 2 Oktober 2026 - 07:53 WIB

PW Muhammadiyah Lampung Dukung Penuh Film ‘Ageman’, Sebut Ageman Sebagai Simbol Kedamaian Dukungan terhadap keberadaan film edukasi kebangsaan bertajuk Ageman terus mengalir deras. Kali ini, Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Provinsi Lampung menyatakan dukungan penuh atas hadirnya karya sinematik yang mengusung pesan moderasi, toleransi, dan kerukunan antarumat beragama tersebut. Karya visual yang lahir dari inspirasi dan gagasan putra-putri terbaik serta tokoh masyarakat di Lampung ini dinilai sangat krusial dalam memperkokoh tali persaudaraan di tengah dinamika masyarakat Indonesia yang heterogen. Ketua PWM Provinsi Lampung, Prof. Dr. H. Sudarman, M.Ag., menyambut hangat peluncuran film yang digagas para sineas dan tokoh lokal Bumi Ruwa Jurai ini sebagai sarana dakwah kebangsaan yang sejuk. Prof. Sudarman menjelaskan, kata Ageman yang diserap dari khazanah budaya Nusantara sejatinya bermakna pakaian atau pegangan hidup. Filosofi mendalam tersebut merefleksikan bahwa keberagaman suku, ras, budaya, dan agama adalah anugerah sekaligus amanah untuk saling melengkapi. “Ageman itu artinya pakaian sesuatu yang melekat dalam kehidupan kita sehari-hari. Yakni pakaian masyarakat Indonesia yang senang dengan kedamaian, menyukai kerukunan, serta mampu hidup berdampingan secara harmonis di dalam perbedaan,” ujar Prof. Sudarman, Kamis (1/10/2026). Lebih lanjut, Prof. Sudarman menggarisbawahi bahwa benih-benih intoleransi serta paham ekstremisme kerap kali muncul akibat minimnya ruang dialog dan pemahaman yang kurang utuh terhadap perbedaan. Oleh sebab itu, hadirnya film Ageman diharapkan bisa menjadi media pencerahan sekaligus benteng moral agar masyarakat khususnya generasi muda terhindar dari paparan radikalisme. Sebagai wujud pilar dukungan nyata, PW Muhammadiyah Lampung mendorong seluruh jaringan lembaga pendidikan, mulai dari sekolah, perguruan tinggi, hingga pondok pesantren di lingkungan Muhammadiyah untuk menjadikan film Ageman sebagai materi refleksi dan edukasi kebangsaan. Metode nonton bareng (nobar) yang dilanjutkan dengan ruang diskusi interaktif dianggap sebagai cara efektif agar pelajar dan mahasiswa dapat menyerap serta membedah pentingnya merawat harmoni sosial. Di akhir penyampaiannya, Prof. Sudarman mengajak seluruh elemen masyarakat luas untuk menyaksikan film ini serta menjadikan nilai-nilai toleransi sebagai pegangan hidup sehari-hari demi mewujudkan kehidupan berbangsa yang damai, inklusif, dan berkemajuan, punkas Prof. Sudarman.

Jumat, 2 Oktober 2026 - 06:39 WIB

Kemenko IPK Atensi Pemanfaatan Disposal Oleh Pemkab Mesuji

Kamis, 1 Oktober 2026 - 23:58 WIB

Flydubai Mendarat Darurat, Dua Pilot Terlibat Insiden

Kamis, 1 Oktober 2026 - 21:16 WIB

Lampung Fokus Deteksi Dini pada Penyakit Kanker

Kamis, 1 Oktober 2026 - 21:09 WIB

Marindo: Nilai Pancasila Harus Jadi Landasan Pembangunan

Berita Terbaru

Berita Utama

PW Muhammadiyah Lampung Dukung Penuh Film ‘Ageman’, Sebut Ageman Sebagai Simbol Kedamaian Dukungan terhadap keberadaan film edukasi kebangsaan bertajuk Ageman terus mengalir deras. Kali ini, Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Provinsi Lampung menyatakan dukungan penuh atas hadirnya karya sinematik yang mengusung pesan moderasi, toleransi, dan kerukunan antarumat beragama tersebut. Karya visual yang lahir dari inspirasi dan gagasan putra-putri terbaik serta tokoh masyarakat di Lampung ini dinilai sangat krusial dalam memperkokoh tali persaudaraan di tengah dinamika masyarakat Indonesia yang heterogen. Ketua PWM Provinsi Lampung, Prof. Dr. H. Sudarman, M.Ag., menyambut hangat peluncuran film yang digagas para sineas dan tokoh lokal Bumi Ruwa Jurai ini sebagai sarana dakwah kebangsaan yang sejuk. Prof. Sudarman menjelaskan, kata Ageman yang diserap dari khazanah budaya Nusantara sejatinya bermakna pakaian atau pegangan hidup. Filosofi mendalam tersebut merefleksikan bahwa keberagaman suku, ras, budaya, dan agama adalah anugerah sekaligus amanah untuk saling melengkapi. “Ageman itu artinya pakaian sesuatu yang melekat dalam kehidupan kita sehari-hari. Yakni pakaian masyarakat Indonesia yang senang dengan kedamaian, menyukai kerukunan, serta mampu hidup berdampingan secara harmonis di dalam perbedaan,” ujar Prof. Sudarman, Kamis (1/10/2026). Lebih lanjut, Prof. Sudarman menggarisbawahi bahwa benih-benih intoleransi serta paham ekstremisme kerap kali muncul akibat minimnya ruang dialog dan pemahaman yang kurang utuh terhadap perbedaan. Oleh sebab itu, hadirnya film Ageman diharapkan bisa menjadi media pencerahan sekaligus benteng moral agar masyarakat khususnya generasi muda terhindar dari paparan radikalisme. Sebagai wujud pilar dukungan nyata, PW Muhammadiyah Lampung mendorong seluruh jaringan lembaga pendidikan, mulai dari sekolah, perguruan tinggi, hingga pondok pesantren di lingkungan Muhammadiyah untuk menjadikan film Ageman sebagai materi refleksi dan edukasi kebangsaan. Metode nonton bareng (nobar) yang dilanjutkan dengan ruang diskusi interaktif dianggap sebagai cara efektif agar pelajar dan mahasiswa dapat menyerap serta membedah pentingnya merawat harmoni sosial. Di akhir penyampaiannya, Prof. Sudarman mengajak seluruh elemen masyarakat luas untuk menyaksikan film ini serta menjadikan nilai-nilai toleransi sebagai pegangan hidup sehari-hari demi mewujudkan kehidupan berbangsa yang damai, inklusif, dan berkemajuan, punkas Prof. Sudarman.

Jumat, 2 Okt 2026 - 07:53 WIB

Berita Utama

Kemenko IPK Atensi Pemanfaatan Disposal Oleh Pemkab Mesuji

Jumat, 2 Okt 2026 - 06:39 WIB

flydubai [net]

Berita Utama

Flydubai Mendarat Darurat, Dua Pilot Terlibat Insiden

Kamis, 1 Okt 2026 - 23:58 WIB

Berita Utama

Lampung Fokus Deteksi Dini pada Penyakit Kanker

Kamis, 1 Okt 2026 - 21:16 WIB

Marindao Kurniawan

Berita Utama

Marindo: Nilai Pancasila Harus Jadi Landasan Pembangunan

Kamis, 1 Okt 2026 - 21:09 WIB