Gubernur Lampung Dorong Unila Jadi Motor Hilirisasi

Rabu, 23 September 2026 | 14:39 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

BANDAR LAMPUNG — Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal mendorong Universitas Lampung (Unila) menjadi motor transformasi ekonomi daerah dengan mengembangkan inovasi dan hilirisasi komoditas unggulan Lampung. Menurutnya, perguruan tinggi memiliki posisi penting untuk mengubah kekayaan sumber daya alam daerah menjadi produk bernilai tambah.

“Unila ke depan setelah 61 tahun ini harus bisa menjadi kampus, menjadi motor transformasi. Bagaimana ekonomi yang diputar ini, yang diubah ini, motor transformasinya adalah Unila,” ucap Gubernur Rahmat Mirzani Djausal saat menghadiri Rapat Luar Biasa Senat Unila dalam rangka Dies Natalis ke-61 di Gedung Serba Guna (GSG) Unila, Rabu (23/9/2026).

Dalam kegiatan tersebut, Gubernur Mirza menyampaikan bahwa Pemerintah Provinsi Lampung ingin memperkuat keterhubungan antara potensi pangan, industri, sumber daya manusia, dan perguruan tinggi. Ia menilai Unila dapat mengambil peran melalui riset dan inovasi yang disesuaikan dengan karakteristik daerah.

Gubernur mengatakan Lampung memiliki kekuatan utama pada sektor pangan dan pertanian. Provinsi ini memiliki sejumlah komoditas unggulan seperti padi, jagung, singkong, nanas, pisang, lada, tebu, kopi, kelapa, kakao, dan kelapa sawit.

Menurut Gubernur Mirza, sekitar 70 persen penduduk Lampung bekerja pada sektor pertanian, perkebunan, dan peternakan. Karena itu, perubahan harga komoditas secara langsung memengaruhi kondisi ekonomi masyarakat, termasuk daya beli dan tingkat kesejahteraan petani.

Gubernur menilai peningkatan harga komoditas telah memberikan dampak terhadap daya beli masyarakat Lampung. Ia menyebut pembelian sepeda motor secara tahunan meningkat 20 persen, sedangkan pembelian mobil meningkat 40 persen pada 2026.

Namun, peningkatan harga komoditas dinilai belum cukup untuk mendorong pertumbuhan ekonomi Lampung secara maksimal. Gubernur menyebut pertumbuhan ekonomi Lampung saat ini berada di angka 5,5 persen, sementara target yang ingin dicapai untuk mendukung Indonesia Emas adalah pertumbuhan 8 persen.

Salah satu persoalan yang disebutnya masih dihadapi Lampung adalah rendahnya tingkat hilirisasi. Dari sekitar Rp165 triliun nilai sektor primer, menurut Gubernur, baru sekitar 40 persen yang telah dihilirisasi, sedangkan sekitar 65 persen lainnya masih dijual dalam bentuk bahan mentah.

Baca Juga:  Ketua Parlemen Iran: Agresi? Dibalas Lebih Menyakitkan

Karena itu, Pemprov Lampung ingin mendorong hilirisasi dengan pendekatan yang menyesuaikan kebutuhan dan sumber daya daerah. Gubernur menilai pengembangan industri tidak harus selalu mengandalkan teknologi dari luar, tetapi dapat dikembangkan bersama sumber daya manusia dan perguruan tinggi di Lampung.

“Enggak banyak anak Unila yang terlibat hilirisasi tebu menjadi gula. Enggak banyak anak-anak Unila yang terlibat hilirisasi jagung jadi pakan. Enggak banyak anak-anak Unila yang terlibat hilirisasi dari singkong jadi tapioka, jadi glukosa, jadi sorbitol dan lain-lain,” ujar Gubernur.

Ia mengatakan hilirisasi diarahkan untuk memberikan nilai tambah sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap produk turunan komoditas yang masih diimpor. Gubernur mencontohkan tapioka yang dikirim ke luar negeri, sementara sejumlah produk turunannya seperti glukosa masih didatangkan dari luar.

Dalam konteks itu, Gubernur Mirza meminta Unila memperkuat peran sebagai pusat inovasi dan pengembangan teknologi yang sesuai dengan karakter Lampung. Pemprov Lampung juga berharap kerja sama dengan Unila dapat menghasilkan teknologi industri, tenaga kerja, dan model hilirisasi yang dapat diterapkan pada komoditas daerah.

Salah satu kerja sama yang didorong adalah pengembangan National Cassava Center. Gubernur menyebut produktivitas sejumlah komoditas Lampung masih memiliki ruang peningkatan, termasuk padi yang saat ini sekitar 6 ton per hektare dari potensi 10 ton, jagung sekitar 5 ton dari potensi 10 ton, dan singkong sekitar 25 ton dari potensi 40 hingga 60 ton.

Khusus singkong, Gubernur mengatakan Lampung memiliki posisi strategis karena sekitar 70 persen produksi tapioka Indonesia berasal dari daerah ini. Namun, produktivitas singkong Lampung masih di bawah 25 ton, sedangkan negara lain telah mencapai lebih dari 40 ton.

Baca Juga:  Gubernur Mirza: KDKMP Jadi Penggerak Hilirisasi

Pemprov Lampung bersama Unila menargetkan pengembangan bibit unggul singkong pada tahun depan. Selanjutnya, pada 2027 produktivitas singkong ditargetkan meningkat dua kali lipat, dengan sasaran produksi tapioka Indonesia dapat menjadi yang terbesar di dunia.

Gubernur mengatakan peningkatan produktivitas singkong akan berdampak langsung kepada masyarakat karena hampir 500.000 penduduk Lampung menggantungkan aktivitas ekonominya pada komoditas tersebut. Peningkatan produksi juga diharapkan membuka peluang pengembangan produk turunan seperti glukosa dan maltosa sekaligus mengurangi impor.

Selain hilirisasi, Gubernur Mirza menekankan pentingnya penguatan sumber daya manusia. Ia menyebut generasi Z dan post-Gen Z mencapai 42,77 persen atau hampir 5 juta orang di Lampung, sehingga kelompok tersebut dinilai menjadi salah satu kekuatan penting dalam pembangunan ekonomi daerah ke depan.

Karena itu, transformasi ekonomi yang melibatkan Unila diharapkan tidak berhenti pada pengembangan teknologi dan produk. Kolaborasi pemerintah dan perguruan tinggi juga diarahkan untuk meningkatkan kualitas SDM, menciptakan lapangan kerja formal, serta memastikan potensi pangan Lampung memberikan nilai ekonomi yang lebih besar bagi masyarakat.

Pada Dies Natalis ke-61, Unila sendiri mengusung semangat “Be Strong” yang diarahkan dari kampus yang kuat menuju kampus yang berdampak. Rektor Unila Lusmeilia Afriani menyampaikan bahwa ukuran keberhasilan perguruan tinggi tidak hanya dilihat dari program dan capaian kelembagaan, tetapi juga dari manfaat riset, inovasi, kebijakan, dan pengabdian yang dirasakan masyarakat.

Kolaborasi tersebut diharapkan memperkuat posisi Unila sebagai penghubung antara pengetahuan, inovasi, pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat. Dengan hilirisasi yang berbasis komoditas lokal serta peningkatan produktivitas pertanian, kebijakan tersebut diarahkan untuk menciptakan nilai tambah, memperluas kesempatan kerja, meningkatkan pendapatan masyarakat, dan memperkuat perekonomian Lampung secara berkelanjutan.[]


Penulis : Desty Efriyani


Editor : Nara


Sumber Berita : Pemprov Lampung

Temukan berita-berita menarik lainnya

Berita Terkait

Putin-Salman Sepakat Diplomasi Jalan Keluar dari Krisis Timur Tengah
Sinergi dan Kolaborasi GTRA Mesuji, Perkuat Komitmen Reforma Agraria
Jasad ABK Arupadhatu 1 Terindentifikasi, PFI Minta Pencarian Dibuka Lagi
Kemdiktisaintek Kaji Biaya Pendidikan Gratis Hingga Perguruan Tinggi
BMKG Prediksi awal Musim Hujan Bulan November Lebih Lambat
Wamenaker Minta Peserta MagangHub Siap Hadapi Dunia Kerja
AS Pening, Rudal Iran Tiba 13′-15′ ke Israel dengan Jarak 1.700 Km
Disebut Trump ‘Negara Gagal’, Kuba WO dari Sidang PBB

Berita Terkait

Rabu, 23 September 2026 - 21:39 WIB

Putin-Salman Sepakat Diplomasi Jalan Keluar dari Krisis Timur Tengah

Rabu, 23 September 2026 - 18:22 WIB

Sinergi dan Kolaborasi GTRA Mesuji, Perkuat Komitmen Reforma Agraria

Rabu, 23 September 2026 - 16:14 WIB

Jasad ABK Arupadhatu 1 Terindentifikasi, PFI Minta Pencarian Dibuka Lagi

Rabu, 23 September 2026 - 14:39 WIB

Gubernur Lampung Dorong Unila Jadi Motor Hilirisasi

Rabu, 23 September 2026 - 12:56 WIB

Kemdiktisaintek Kaji Biaya Pendidikan Gratis Hingga Perguruan Tinggi

Berita Terbaru

#indonesiaswasembada

Sinergi dan Kolaborasi GTRA Mesuji, Perkuat Komitmen Reforma Agraria

Rabu, 23 Sep 2026 - 18:22 WIB

#indonesiaswasembada

Jasad ABK Arupadhatu 1 Terindentifikasi, PFI Minta Pencarian Dibuka Lagi

Rabu, 23 Sep 2026 - 16:14 WIB

#indonesiaswasembada

Gubernur Lampung Dorong Unila Jadi Motor Hilirisasi

Rabu, 23 Sep 2026 - 14:39 WIB

#indonesiaswasembada

Kemdiktisaintek Kaji Biaya Pendidikan Gratis Hingga Perguruan Tinggi

Rabu, 23 Sep 2026 - 12:56 WIB