Riyono Ingatkan Ancaman Karhutla Bisa Memuncak pada 2027, Minta Mitigasi Sejak Dini

Rabu, 2 September 2026 | 18:29 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

JAKARTA — Anggota Komisi IV DPR RI Fraksi PKS, Riyono, meminta pemerintah tidak lengah menghadapi ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Ia mengingatkan, kondisi yang terjadi sepanjang 2026 harus menjadi alarm untuk memperkuat langkah pencegahan karena potensi ancaman lebih besar diperkirakan terjadi pada 2027.

Riyono mengatakan kebakaran yang saat ini terjadi di sejumlah daerah, terutama di Kalimantan dan Sumatera, menunjukkan pentingnya kesiapan pemerintah dalam melakukan mitigasi sejak awal

Menurutnya, kebakaran hutan dan lahan tidak boleh hanya ditangani ketika api sudah meluas. Pemerintah harus memiliki peta kawasan rawan serta sistem pencegahan yang lebih kuat sebelum memasuki periode dengan risiko kebakaran yang lebih tinggi.

“Ini belum puncaknya. Karena itu, mitigasi harus disiapkan dari sekarang. Jangan sampai kita menunggu kejadian besar baru kemudian sibuk melakukan penanganan,” kata Riyono dalam diskusi Dialektika Demokrasi dengan tema: “Dukung Penegakan Hukum Karhutla untuk Beri Efek Jera”, di Ruang Abdul Muis, Gedung Nusantara, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (2/9/2026).

Ia menyinggung pengalaman kebakaran besar yang pernah terjadi pada 2015 dan 2019. Meski berdasarkan data dalam beberapa tahun terakhir luas lahan terbakar cenderung mengalami penurunan, Riyono menilai kondisi tersebut tidak boleh membuat pemerintah terlena.

Menurut dia, perubahan kondisi iklim dan musim kering ekstrem dapat kembali meningkatkan risiko kebakaran, terutama di kawasan gambut.

Riyono menuturkan, dirinya sebelumnya telah mengingatkan Kementerian Kehutanan mengenai potensi meningkatnya ancaman kebakaran pada 2026 dibandingkan tahun sebelumnya.

“Yang terjadi sekarang membuktikan bahwa peringatan dini harus benar-benar menjadi perhatian. Titik-titik kebakaran muncul di sejumlah wilayah dan ini harus menjadi pelajaran untuk mempersiapkan langkah menghadapi tahun-tahun berikutnya,” ujarnya.

Baca Juga:  Tingkatkan Pajak , Pemerintah Perluas Basis Ekonomi Digital Dan Shadow Economy 

Ia juga mengingatkan besarnya dampak ekonomi akibat karhutla. Riyono menyebut kerugian akibat kebakaran besar pada 2019 mencapai ratusan triliun rupiah.

Karena itu, menurutnya, kegagalan melakukan pencegahan sejak dini berpotensi menimbulkan kerugian yang jauh lebih besar, baik bagi negara, masyarakat maupun lingkungan.

Selain memperkuat mitigasi, Riyono menilai persoalan keterbatasan sumber daya manusia di sektor kehutanan harus segera mendapat perhatian.

Ia menyoroti minimnya jumlah personel yang bertugas mengawasi kawasan hutan yang luas. Kondisi tersebut membuat pengawasan di lapangan belum berjalan secara maksimal.

“Dengan wilayah hutan yang sangat luas, tentu tidak mungkin hanya mengandalkan jumlah petugas yang ada sekarang. Kita membutuhkan penguatan SDM, baik penyuluh kehutanan, Manggala Agni maupun polisi hutan,” katanya.

Riyono mendukung adanya penambahan personel untuk memperkuat pengawasan kawasan hutan secara menyeluruh. Menurutnya, pengamanan hutan tidak hanya dilakukan saat kebakaran terjadi, tetapi harus dimulai dari pencegahan terhadap aktivitas yang berpotensi merusak kawasan.

Ia juga menekankan pentingnya melibatkan masyarakat dalam menjaga hutan.

Menurut Riyono, masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan hutan dapat menjadi bagian penting dalam sistem pengawasan dan pencegahan kebakaran. Dengan keterlibatan masyarakat, potensi kebakaran dapat lebih cepat diketahui sebelum api berkembang menjadi lebih besar.

“Pelibatan masyarakat harus menjadi bagian dari strategi utama. Mereka yang berada paling dekat dengan kawasan hutan tentu bisa membantu dalam pencegahan dan pengawasan,” ujarnya.

Di sisi lain, Riyono menyoroti masih maraknya pemanfaatan kawasan hutan tanpa izin untuk berbagai kepentingan, mulai dari perkebunan hingga pertambangan.

Baca Juga:  Dasco : Pembahasan RUU Ketenagakerjaan Ditarget Selesai Sebelum 31 Oktober 2026

Ia menilai persoalan tersebut harus ditangani melalui penegakan hukum yang lebih tegas. Riyono menyebut pemerintah memiliki potensi penerimaan yang cukup besar dari denda administratif terhadap pelanggaran di sektor kehutanan.

Namun, menurutnya, besarnya nilai denda seharusnya menjadi gambaran bahwa masih banyak pelanggaran yang terjadi di kawasan hutan

“Jangan sampai kita melihat denda sebagai sumber penerimaan negara. Yang harus menjadi tujuan utama adalah mencegah kerusakan hutan itu terjadi,” tegas Riyono.

Lebih lanjut, ia mengatakan salah satu persoalan penting yang perlu segera diselesaikan adalah kepastian tata ruang dan peta kawasan hutan.

Kejelasan mengenai batas kawasan konservasi, kawasan yang dapat dimanfaatkan, hingga wilayah yang harus dilindungi dinilai menjadi kunci untuk memperkuat tata kelola kehutanan.

Karena itu, DPR RI saat ini tengah mendorong penyelesaian revisi Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan.

Riyono berharap perubahan regulasi tersebut dapat memberikan perlindungan yang lebih kuat terhadap hutan Indonesia sekaligus memperbaiki sistem pencegahan dan penegakan hukum terhadap pelaku perusakan hutan.

Ia mengatakan terdapat berbagai usulan mengenai penguatan sanksi dalam revisi undang-undang tersebut, termasuk terhadap tindakan perusakan hutan yang dilakukan secara sengaja. Namun, seluruh usulan masih akan dibahas lebih lanjut dan belum menjadi keputusan final.

“Harapannya, revisi Undang-Undang Kehutanan bisa segera diselesaikan. Spirit utamanya adalah menjaga hutan kita tetap lestari, memperkuat pencegahan, dan memastikan kerusakan hutan tidak terus berulang,” pungkas Riyono.(*)


Penulis : Heri Suroyo


Editor : Desty Efriyani


Sumber Berita : DPR RI

Temukan berita-berita menarik lainnya

Berita Terkait

Fasilitas Minyak & Listrik Libya Disabotase
Ketua Parlemen Iran: Agresi? Dibalas Lebih Menyakitkan
Warga Diminta Kurangi Aktivtas Luar Ruang
Netanyahu Ancam Iran dengan Serangan Besar-Besaran
The Death of Expertise
Pemda Diminta Ciptakan Mesin Pertumbuhan Baru
Entry Meeting BPK Dimulai, Marindo Tegaskan Pemeriksaan untuk Pastikan APBD Tepat Sasaran
Polres Mesuji Gerak Cepat Bagikan Masker Kepada Masyarakat Pasca Erupsi GAK
Tag :

Berita Terkait

Senin, 7 September 2026 - 17:40 WIB

Fasilitas Minyak & Listrik Libya Disabotase

Senin, 7 September 2026 - 15:52 WIB

Ketua Parlemen Iran: Agresi? Dibalas Lebih Menyakitkan

Senin, 7 September 2026 - 15:31 WIB

Warga Diminta Kurangi Aktivtas Luar Ruang

Senin, 7 September 2026 - 15:12 WIB

Netanyahu Ancam Iran dengan Serangan Besar-Besaran

Senin, 7 September 2026 - 15:04 WIB

The Death of Expertise

Berita Terbaru

#indonesiaswasembada

Fasilitas Minyak & Listrik Libya Disabotase

Senin, 7 Sep 2026 - 17:40 WIB

#indonesiaswasembada

Ketua Parlemen Iran: Agresi? Dibalas Lebih Menyakitkan

Senin, 7 Sep 2026 - 15:52 WIB

#indonesiaswasembada

Warga Diminta Kurangi Aktivtas Luar Ruang

Senin, 7 Sep 2026 - 15:31 WIB

PM Israel Benjamin Netanyahu

#indonesiaswasembada

Netanyahu Ancam Iran dengan Serangan Besar-Besaran

Senin, 7 Sep 2026 - 15:12 WIB

#indonesiaswasembada

The Death of Expertise

Senin, 7 Sep 2026 - 15:04 WIB