TAIYUAN-Baru-baru ini, delegasi pemuda asal Indonesia mengunjungi Provinsi Shanxi di Tiongkok utara, menjelajahi sejumlah landmark historis dan budaya selama lawatan lima hari untuk mendapatkan pengalaman langsung dari kekayaan warisan budaya daerah tersebut yang terbentang hingga ribuan tahun.
“Ini kunjungan perdana saya ke Taiyuan, Provinsi Shanxi. Saya sangat terkesan dengan bagaimana Jalan Zhonglou memadukan warisan sejarahnya yang kaya dengan suasana komersial modern yang dinamis,” ujar Fathie Alwina Sampaguita, sekretaris Perhimpunan Persahabatan Indonesia-Tiongkok, saat berjalan-jalan pada sore hari di sepanjang jalan bersejarah tersebut.
Kunjungan tersebut merupakan bagian dari Program Pertukaran Pemuda Indonesia-Provinsi Shanxi Tiongkok pertama, yang diselenggarakan oleh Asosiasi Rakyat untuk Persahabatan dengan Negara-Negara Asing Provinsi Shanxi. Program itu menandai hasil nyata dari pertukaran antarmasyarakat menyusul beberapa putaran konsultasi antara perhimpunan persahabatan dari kedua pihak.
Setibanya di Shanxi, delegasi tersebut memulai eksplorasi budaya di Jalan Zhonglou, sebuah distrik komersial berumur satu abad di Taiyuan. Produk budaya dan kreatif yang terinspirasi oleh landmark setempat, termasuk Pagoda Kayu Yingxian, Kuil Jinci, dan Menara Bangau, langsung menarik perhatian para pengunjung.
Ardy Susanto, wakil direktur di Departemen Pemuda Perhimpunan Persahabatan Indonesia-Tiongkok, membeli dua suvenir, yaitu peta kreatif yang menampilkan landmark di seluruh Shanxi dan magnet kulkas bergambar Guan Yu, tokoh sejarah termasyhur yang juga dikenal sebagai Guan Gong.
Dia mengatakan budaya Guan Gong memiliki akar yang sangat kuat di Indonesia, di mana kuil-kuil yang didedikasikan untuk tokoh sejarah tersebut dapat ditemukan di berbagai daerah dan aktivitas budaya terkait rutin diselenggarakan. Membeli suvenir bertema Guan Gong di provinsi asal tokoh itu memberinya rasa keakraban tersendiri, imbuh Ardy.
Dalam kunjungan itu, delegasi tersebut juga mengunjungi Kota Kuno Pingyao dan Kompleks Keluarga Wang, dua landmark terkemuka yang berkaitan dengan sejarah pedagang Shanxi. Di Pingyao, sebuah Situs Warisan Dunia UNESCO, para pengunjung muda tersebut menaiki tembok kota kuno itu di sepanjang tanjakan berlapis bata dan menikmati pemandangan panorama tata kota yang terpelihara dengan baik dari era dinasti Ming dan Qing (1368-1911).
Mereka menyusuri Jalan Selatan, yang dipenuhi deretan toko bersejarah dan bisnis tradisional, merasakan suasana semarak di kota kuno tersebut. Di Rishengchang, yang dikenal luas sebagai bank wesel pertama Tiongkok, para pengunjung tersebut mempelajari operasional industri keuangan awal Tiongkok melalui rekonstruksi adegan bersejarah. Mereka juga memperoleh wawasan tentang filosofi bisnis para pedagang Shanxi, yang menekankan integritas, kepercayaan, dan pentingnya menempatkan prinsip etika di atas keuntungan.
Aswen Susisyo Utomo, wakil sekretaris jenderal di Perhimpunan Persahabatan Indonesia-Tiongkok yang juga kepala delegasi tersebut, menyampaikan bahwa penekanan pedagang Shanxi pada pemenuhan komitmen dan pemeliharaan kepercayaan sangat selaras dengan nilai-nilai bisnis yang sejak lama dipegang teguh oleh para wirausahawan Tionghoa di Indonesia.
Di Museum Jinci, rombongan delegasi tersebut berjalan-jalan di antara bangunan kuno dan taman yang indah, mengagumi pohon cemara berumur seribu tahun, aliran air di Mata Air Nanlao, dan Panggung Shuijing, sebuah teater opera kuno, yang berhiaskan ornamen rumit. Kunjungan itu menawarkan gambaran sekilas tentang pesona khas taman persembahan tradisional di Tiongkok utara.
Delegasi tersebut juga mengunjungi Museum Shanxi, di mana benda-benda pameran mulai dari artefak perunggu Dinasti Shang (1600-1046 SM) yang berharga, termasuk bejana anggur ritual berbentuk burung hantu, hingga pameran yang menelusuri perkembangan budaya pedagang Shanxi menawarkan gambaran komprehensif tentang sejarah daerah itu.
Pertukaran timbal balik tersebut diharapkan dapat semakin memperkuat hubungan antarmasyarakat dan saling pengertian melalui keterlibatan pemuda, sehingga menyuntikkan momentum baru bagi persahabatan yang langgeng antara Indonesia dan Tiongkok. []
Penulis : Heri Suroyo
Editor : Hadi
Sumber Berita : Jakarta













