Negara Perlu Syahganda dan Jumhur: Figur Rakyat untuk Pemerintahan Baru

Selasa, 17 Juni 2025 | 09:54 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Luhut Parlinggoman Siahaan, Advokat, Eks Ketua Posko Pengaduan Pelanggaran Pemilu TKN Fanta, Tim Pengacara Prabowo–Gibran di MK

PEMERINTAHAN baru Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka tengah menghadapi tantangan besar dalam menyusun pemerintahan yang bukan hanya kuat secara politik, tetapi juga berpihak pada rakyat. Dalam konteks ini, muncul dua nama yang patut dipertimbangkan untuk masuk dalam struktur kekuasaan atau lingkaran strategis pemerintahan: Syahganda Nainggolan dan Jumhur Hidayat.

Keduanya bukanlah tokoh baru di tengah publik. Justru, mereka adalah figur yang sudah sejak lama berkiprah dan menunjukkan keberpihakan terhadap kaum tertindas, kelas pekerja, dan rakyat jelata. Dengan rekam jejak panjang, dedikasi tinggi, serta konsistensi narasi kerakyatan, Syahganda dan Jumhur merupakan wajah alternatif dari aktivisme yang bernyali dan bernalar.

Syahganda Nainggolan: Pemikir Kiri, Aktivis Jalanan, dan Intelektual Organik

Syahganda Nainggolan dikenal luas sebagai aktivis pergerakan mahasiswa era 1980-an yang ikut menentang otoritarianisme Orde Baru. Ia adalah pendiri Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) dan pernah menjadi salah satu motor gerakan moral anti-korupsi pasca-reformasi. Ia juga merupakan alumni Institut Teknologi Bandung (ITB), serta pernah mengambil program doktor di UI dan program post-doctoral di Jepang.

Syahganda konsisten berada di jalur advokasi sosial, demokrasi, dan keadilan ekonomi. Ia dikenal karena keberaniannya menyuarakan pandangan kritis terhadap kekuasaan, baik melalui media, demonstrasi, maupun kajian akademik. Ia juga menjadi pendiri dan Ketua Sabang Merauke Circle, sebuah lembaga kajian kebangsaan yang aktif memberikan kritik terhadap kebijakan ekonomi dan demokrasi yang tidak berpihak pada rakyat.

Baca Juga:  Tak Hanya Beras, Lampung Perkuat Ketahanan Pangan dari Jagung dan Singkong

Pada 3 Juni 2025, Syahganda meluncurkan GREAT Institute (Global Research on Economics, Advance Technology and Politics) sebagai bentuk konsolidasi intelektual yang menggabungkan teknologi, riset ekonomi, dan politik kerakyatan. Dalam peluncuran itu, hadir pula pejabat negara, termasuk Wakil Menteri Dalam Negeri Bima Arya, yang menyambut baik lembaga tersebut sebagai bagian dari “ikhtiar membangun basis kebijakan yang berpihak pada keadilan sosial.”

Jumhur Hidayat: Dari Buruh, Oleh Buruh, untuk Buruh

Nama Jumhur Hidayat dikenal luas dalam dunia perburuhan Indonesia. Ia adalah mantan Ketua Umum Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI), dan pernah menjabat sebagai Kepala BNP2TKI (Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia). Sebagai aktivis, Jumhur punya sejarah panjang dalam membela hak-hak pekerja, dari buruh pabrik di Karawang hingga TKI di luar negeri.

Jumhur pernah menjadi salah satu tokoh kunci dalam gerakan Reformasi 1998, serta pernah ditahan di masa Orde Baru karena aktivitas politiknya yang menentang rezim. Di era pemerintahan SBY, ia dikenal sebagai pejabat yang tetap berpihak pada buruh, meskipun berada di dalam sistem. Ia bahkan mundur dari jabatannya ketika tidak sejalan dengan kebijakan pemerintah waktu itu.

Baca Juga:  Soal Polemik Komplek Griya Sukarame, Warga Surati Walikota

Terbaru, pada 2 Juni 2025, Jumhur mewakili pekerja Indonesia dalam Konferensi Perburuhan Internasional (ILO ke-113) di Jenewa. Dalam pidatonya, ia menegaskan perlunya ratifikasi Konvensi ILO No. 188 tentang perlindungan nelayan dan pekerja sektor perikanan, serta menyoroti kerentanan pekerja digital yang belum terlindungi hukum. Sikap dan pidatonya menuai respons positif dari banyak delegasi dunia, dan menjadikan Indonesia diperhitungkan dalam isu ketenagakerjaan global.

Figur yang Dibutuhkan Pemerintahan Prabowo–Gibran

Baik Syahganda maupun Jumhur memiliki kapasitas strategis yang langka di republik ini. Keduanya memiliki kematangan ideologi, pengalaman lapangan, dan keberanian moral. Jika Syahganda cocok menempati posisi strategis dalam bidang kajian kebijakan, transformasi politik, atau ketahanan ideologi, maka Jumhur layak berada di posisi yang menyangkut buruh, migrasi tenaga kerja, atau pengembangan sumber daya manusia berbasis keadilan.

Memberikan peran formal kepada keduanya bukan hanya pilihan politik yang cerdas, tetapi juga langkah simbolik untuk menunjukkan bahwa pemerintahan Prabowo–Gibran benar-benar membuka ruang bagi rakyat yang sesungguhnya.

Kabinet tidak harus hanya diisi oleh elite partai atau profesional teknokrat. Dalam fase transformasi nasional, kita butuh tokoh yang punya akar sosial, bukan hanya karier politik. Syahganda dan Jumhur adalah dua wajah dari rakyat yang mampu menjadi penggerak dalam tubuh kekuasaan.


Sumber Berita : Jakarta

Temukan berita-berita menarik lainnya

Berita Terkait

RSM Indonesia dan RSM China Bentuk China Desk
Panda Eratkan Hubungan Tiongkok-Indonesia
Delegasi Pemuda Indonesia Rasakan Warisan Takbenda di Shanxi
Kukuhkan 3 Pengurus Korpri Daerah, Sekdaprov Marindo Tegaskan Kesiapan Lampung Jadi Tuan Rumah Pornas 2027
Pemimpin Demokrat di Senat AS akan Akhiri Perang dengan Iran
UU SDI Harus Hentikan Tumpang Tindih Data
Sungai Berbusa dan Bau, Warga Bernung Keluhkan Limbah Ayam
Pasar Digital Indonesia Paling Aktif

Berita Terkait

Kamis, 5 November 2026 - 22:05 WIB

RSM Indonesia dan RSM China Bentuk China Desk

Kamis, 5 November 2026 - 22:01 WIB

Panda Eratkan Hubungan Tiongkok-Indonesia

Kamis, 5 November 2026 - 20:50 WIB

Delegasi Pemuda Indonesia Rasakan Warisan Takbenda di Shanxi

Kamis, 5 November 2026 - 19:20 WIB

Kukuhkan 3 Pengurus Korpri Daerah, Sekdaprov Marindo Tegaskan Kesiapan Lampung Jadi Tuan Rumah Pornas 2027

Kamis, 5 November 2026 - 18:46 WIB

Pemimpin Demokrat di Senat AS akan Akhiri Perang dengan Iran

Berita Terbaru

Managing Partner International Business RSM China (kiri) dan Chief Strategy Officer sekaligus Senior Partner RSM Indonesia Angela Indirawati Simatupang (kanan) menandatangani nota kesepahaman pembentukan China Desk di RSM Indonesia di Xi'an, Tiongkok, pada 3 November 2026. (RSM Indonesia/Xinhua)

Berita Utama

RSM Indonesia dan RSM China Bentuk China Desk

Kamis, 5 Nov 2026 - 22:05 WIB

Jansen Manansang (ketiga dari kiri), pendiri Taman Safari Indonesia Group, menjadi pembicara dalam subforum Konferensi Mitra Panda Global (Global Panda Partners Conference) pada 3 November 2026.

Berita Utama

Panda Eratkan Hubungan Tiongkok-Indonesia

Kamis, 5 Nov 2026 - 22:01 WIB

Delegasi pemuda Indonesia menjajal pembuatan tembikar di Desa Liujiaobao, Provinsi Shanxi, Tiongkok utara, pada 29 Oktober 2026. (Xinhua)

Berita Utama

Delegasi Pemuda Indonesia Rasakan Warisan Takbenda di Shanxi

Kamis, 5 Nov 2026 - 20:50 WIB

Sejumlah pemilih bersiap memberikan suara dalam Hari Pemilihan Umum (Pemilu) untuk pemilu sela di sebuah tempat pemungutan suara di Los Angeles, California, Amerika Serikat, pada 3 November 2026. (Xinhua)

Berita Utama

Pemimpin Demokrat di Senat AS akan Akhiri Perang dengan Iran

Kamis, 5 Nov 2026 - 18:46 WIB