Muktamar NU Pilih Mekanisme AHWA

Minggu, 30 Agustus 2026 | 05:33 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Prof. Mohammad Nuh

Prof. Mohammad Nuh

JOMBANG – Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) mengubah arah mekanisme pemilihan Ketua Umum PBNU. Peserta memilih mekanisme AHWA melalui voting setelah Komisi Organisasi membahas dua pilihan, yaitu one man one vote dan mekanisme AHWA. Keputusan tersebut disampaikan Prof. Dr. Ir. H. K.H. Mohammad Nuh, DEA., dalam wawancara dengan Battikpost pada dini hari, Sabtu (29/8/2026), di sela rangkaian Muktamar ke-35 di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang.

Prof. Mohammad Nuh menjelaskan, Komisi Organisasi sebelumnya berupaya mencari titik temu mengenai mekanisme pemilihan Ketua Umum PBNU. Pembahasan mempertemukan sistem one man one vote dengan mekanisme AHWA yang mempertimbangkan persetujuan Rais ‘Aam. Namun, upaya mencari titik temu tersebut akhirnya menghasilkan keputusan melalui pemungutan suara.

“Kita sudah berusaha untuk mencari titik temu, tapi akhirnya titik temunya ketemu dengan cara voting,” ujar Prof. Mohammad Nuh.

Dalam voting tersebut, mayoritas peserta memilih perubahan mekanisme pemilihan Ketua Umum PBNU. Prof. Mohammad Nuh menyampaikan, sebanyak 401 peserta menyetujui perubahan mekanisme. Sementara itu, 150 peserta memilih mempertahankan mekanisme lama. Satu suara lainnya dinyatakan tidak sah.

“401 menyetujui untuk dilakukan perubahan mekanisme pemilihan Ketua Umum, 150 berkeinginan tetap, dan 1 suara tidak sah,” katanya.

Hasil tersebut menjadi dasar bagi Komisi Organisasi untuk melanjutkan pembahasan mengenai teknis pemilihan Ketua Umum PBNU. Prof. Mohammad Nuh mengatakan, pembahasan teknis akan dilanjutkan pada Sabtu pagi. Ia berharap seluruh ketentuan dapat segera dirampungkan sebelum memasuki tahapan pemilihan berikutnya.

Baca Juga:  Dua Kapal Tanker UEA Diserang saat Melintasi Selat Hormuz

Dalam mekanisme yang tengah disiapkan, proses pemilihan tidak langsung menentukan Ketua Umum PBNU. Tahapan pertama akan menentukan Rais ‘Aam melalui proses AHWA. Setelah Rais ‘Aam terpilih, barulah proses pencalonan Ketua Umum PBNU berjalan.

“Pertama Rais ‘Aam dulu. Setelah Rais ‘Aam terpilih, sudah, maka kita proses pencalonan Ketua Umum,” jelasnya.

Menurut Prof. Mohammad Nuh, calon Ketua Umum juga harus mendapatkan persetujuan tertulis dari Rais ‘Aam terpilih. Karena itu, penetapan Rais ‘Aam menjadi tahapan penting sebelum proses pemilihan Ketua Umum. Prof. Mohammad Nuh juga menjelaskan rancangan teknis pencalonan Ketua Umum yang masih akan dibahas lebih lanjut dalam sidang berikutnya. Dalam draf opsi B, setiap cabang, PW, maupun PCINU dapat mengusulkan maksimal lima nama calon Ketua Umum.

Seluruh nama yang masuk kemudian akan ditabulasi. Dari proses tersebut, panitia akan mencari lima nama dengan jumlah usulan terbanyak. Namun, Prof. Mohammad Nuh menegaskan bahwa mekanisme tersebut masih berupa draf. Ketentuan final tetap menunggu keputusan sidang.

“Dari lima yang terbesar/terbanyak tadi itu, disampaikan kepada Rais ‘Aam terpilih untuk mendapatkan restu,” ungkapnya.

Para calon tersebut juga harus memenuhi komitmen melalui pakta integritas. Setelah mendapatkan persetujuan Rais ‘Aam, nama-nama tersebut kembali dibahas bersama AHWA untuk menentukan Ketua Umum PBNU periode berikutnya. Hasil voting Komisi Organisasi menandai salah satu tahapan penting dalam perjalanan Muktamar ke-35 NU. Perubahan mekanisme tersebut sekaligus membuka jalan menuju tahapan penetapan Rais ‘Aam dan pemilihan Ketua Umum PBNU. Prof. Mohammad Nuh berharap seluruh rangkaian proses dapat selesai sesuai target.

Baca Juga:  Keselamatan Sekolah Prioritas Thailand Pasca Penembakan Massal

“Mudah-mudahan Minggu besok, Ahad besok, semuanya sudah bisa kita selesaikan,” katanya.

Dengan demikian, perhatian peserta Muktamar kini tertuju pada pembahasan teknis, tabulasi AHWA, penetapan Rais ‘Aam, hingga proses pencalonan dan penetapan Ketua Umum PBNU. Di tengah dinamika pembahasan organisasi, semangat “Muktamar Bergembira” tetap menjadi bagian penting dalam perjalanan Muktamar ke-35 NU di Tambakberas.

Perbedaan pilihan dalam menentukan mekanisme organisasi menjadi bagian dari proses demokrasi dan musyawarah. Seluruh tahapan diharapkan tetap berlangsung dalam suasana tertib, penuh persaudaraan, dan mengedepankan kepentingan jam’iyah.

Muktamar ke-35 bukan hanya momentum untuk menentukan arah kepemimpinan NU. Muktamar juga menjadi ruang untuk memperkuat ukhuwah dan menjaga kebersamaan warga Nahdliyin. Dari Tambakberas, semangat Muktamar Bergembira diharapkan terus menjadi energi bagi seluruh peserta untuk menyelesaikan setiap agenda dengan penuh kegembiraan, persaudaraan, dan khidmat untuk NU.


Penulis : Romy Agus


Editor : Rudi Alfian


Sumber Berita : Jakarta

Temukan berita-berita menarik lainnya

Berita Terkait

Gus Rozaq: RI 1 Tutup Muktamar NU Pukul 10 WIB
BADKO HMI Malut Desak Penghentian Operasi PT SWM dan Penyelamatan Hutan Adat Desa Dege
Ini Cerita Duka Longsor Nepal-Tiongkok
Kapolda: Terimakasih Masyarakat Lampung
CEO Bhayangkara: Tim Bertalenta, Siap Raih 3 Besar
Launching Jersey, Gubernur Mirza Pasang Target 3 Besar
Ketum PBNU tak Boleh Rangkap Jabatan
Calon Ketum PBNU Sepakat Gunakan AHWA jika tak Mufakat

Berita Terkait

Minggu, 30 Agustus 2026 - 05:40 WIB

Gus Rozaq: RI 1 Tutup Muktamar NU Pukul 10 WIB

Minggu, 30 Agustus 2026 - 05:33 WIB

Muktamar NU Pilih Mekanisme AHWA

Minggu, 30 Agustus 2026 - 00:51 WIB

BADKO HMI Malut Desak Penghentian Operasi PT SWM dan Penyelamatan Hutan Adat Desa Dege

Sabtu, 29 Agustus 2026 - 23:14 WIB

Ini Cerita Duka Longsor Nepal-Tiongkok

Sabtu, 29 Agustus 2026 - 23:00 WIB

Kapolda: Terimakasih Masyarakat Lampung

Berita Terbaru

Ketua Panitia Muktamar ke-35, KH. Abdurrozaq Sholeh

#indonesiaswasembada

Gus Rozaq: RI 1 Tutup Muktamar NU Pukul 10 WIB

Minggu, 30 Agu 2026 - 05:40 WIB

Prof. Mohammad Nuh

#indonesiaswasembada

Muktamar NU Pilih Mekanisme AHWA

Minggu, 30 Agu 2026 - 05:33 WIB

Foto dari udara yang diabadikan menggunakan drone pada 28 Agustus 2026 ini menunjukkan pemandangan area di sekitar danau bendungan alami yang terbentuk usai tanah longsor di hulu Pelabuhan Gyirong di wilayah Gyirong, Daerah Otonom Xizang, Tiongkok barat daya. (Xinhua)

#indonesiaswasembada

Ini Cerita Duka Longsor Nepal-Tiongkok

Sabtu, 29 Agu 2026 - 23:14 WIB

#indonesiaswasembada

Kapolda: Terimakasih Masyarakat Lampung

Sabtu, 29 Agu 2026 - 23:00 WIB