Ini Cerita Duka Longsor Nepal-Tiongkok

Sabtu, 29 Agustus 2026 | 23:14 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto dari udara yang diabadikan menggunakan drone pada 28 Agustus 2026 ini menunjukkan pemandangan area di sekitar danau bendungan alami yang terbentuk usai tanah longsor di hulu Pelabuhan Gyirong di wilayah Gyirong, Daerah Otonom Xizang, Tiongkok barat daya. (Xinhua)

Foto dari udara yang diabadikan menggunakan drone pada 28 Agustus 2026 ini menunjukkan pemandangan area di sekitar danau bendungan alami yang terbentuk usai tanah longsor di hulu Pelabuhan Gyirong di wilayah Gyirong, Daerah Otonom Xizang, Tiongkok barat daya. (Xinhua)

GYIRONG-Tanah longsor dahsyat yang melanda wilayah perbatasan Tiongkok-Nepal dipicu oleh runtuhnya gletser di kawasan dataran tinggi di sisi Nepal, kata para ahli, seraya memperingatkan bahwa bencana glasial semacam itu semakin sering dan parah di tengah pemanasan global.

Tanah longsor tersebut menerjang Pelabuhan Gyirong, salah satu titik perlintasan perbatasan darat utama Tiongkok-Nepal di Daerah Otonom Xizang, Tiongkok barat daya, pada Rabu (26/8) pagi waktu setempat. Hingga Jumat (28/8) pukul 15.00 waktu setempat, sebanyak lima orang terkonfirmasi meninggal dunia dan 558 orang masih dinyatakan hilang, menurut statistik resmi terbaru.

Menurut laporan wartawan lintaslampung di lokasi kejadian, lapisan lumpur di area inti bencana mencapai kedalaman lebih dari 1,5 meter, sehingga menimbulkan risiko tinggi bagi orang-orang untuk terjebak dan menambah tantangan dalam upaya penyelamatan.

Dipicu Runtuhnya Gletser

Citra satelit dan analisis pakar geologi Tiongkok menunjukkan bahwa runtuhnya gletser di dataran tinggi Nepal memicu tanah longsor dahsyat tersebut.

Perbandingan citra satelit menunjukkan bahwa gletser di ketinggian 5.200 hingga 5.400 meter retak dan menyeret puing-puing batuan bersamanya, membentuk aliran puing glasial, kata Kang Shichang, direktur Institut Bahaya dan Lingkungan Pegunungan di bawah naungan Akademi Ilmu Pengetahuan Tiongkok (Chinese Academy of Sciences/CAS).

Peristiwa ini menunjukkan efek berantai bencana yang klasik, kata Yao Tandong, seorang akademisi di CAS sekaligus ketua tim ekspedisi ilmiah Dataran Tinggi Qinghai-Tibet kedua Tiongkok. Menurut para ahli, setelah gletser tersebut runtuh, bukan hanya es yang meluncur turun. Puing-puing es dan batuan dalam jumlah besar meluncur menuruni alur sungai pegunungan, terus mengumpulkan material dan momentum seiring pergerakannya ke arah hilir.

Baca Juga:  Galon Bekas untuk Akuaponik,Budidaya Lele dan Kangkung

“Semakin jauh meluncur ke hilir, semakin besar daya rusaknya dan semakin nyata pula risiko sekundernya,” kata Yao.

“Tepatnya, ini merupakan bencana berantai yang terbentuk melalui evolusi berkelanjutan dari longsoran es di dataran tinggi menjadi aliran puing berkecepatan tinggi dan tanah longsor,” kata Guo Zhaocheng, seorang ahli dari Kementerian Sumber Daya Alam Tiongkok.

Mengapa Dampaknya Sangat Parah

Ouyang Chaojun, seorang ahli bahaya pegunungan dan keselamatan rekayasa di CAS, merangkum tiga faktor utama di balik bencana tersebut, yakni skala longsoran es-batuan awal yang besar dan berasal dari ketinggian ekstrem; transformasinya yang cepat menjadi aliran puing berkecepatan tinggi yang tetap memiliki kecepatan dan kedalaman besar; serta konsentrasi penduduk dan bangunan setempat di bantaran sungai yang datar, yang membuat warga terpapar langsung oleh aliran tersebut.

Menurut asesmen saat ini, kemungkinan hanya dibutuhkan waktu sekitar tujuh menit sejak terjadinya longsoran es hingga tanah longsor menerjang pelabuhan, kata Guo. Rentang waktu yang sangat singkat tersebut menyoroti sulitnya mendeteksi dan mengeluarkan peringatan dini untuk bencana berantai jarak jauh di dataran tinggi.

Tim penyelamat mengatakan tanah longsor tersebut meluncur turun dengan kecepatan tinggi tanpa adanya rintangan alami yang dapat meredam energi kinetiknya, sehingga menghasilkan daya hancur yang sangat besar saat menerjang pelabuhan.

Guo mengutip estimasi yang menunjukkan bahwa aliran puing longsoran es tersebut meluncur dengan kecepatan sekitar 50 meter per detik, kecepatan ekstrem yang membuat warga praktis tidak memiliki waktu untuk bereaksi. Sebagai saluran penting bagi perdagangan perbatasan Tiongkok-Nepal sekaligus pelabuhan darat kelas satu tingkat nasional, Pelabuhan Gyirong biasanya ramai dengan aktivitas perdagangan, memiliki populasi yang padat, dan didukung infrastruktur yang luas.

Baca Juga:  Masyarakat yang Berbatasan dengan TNWK Wajib Waspada

Bencana tersebut menerjang pada jam kerja siang hari saat banyak orang berada di pelabuhan, sebuah faktor yang menurut tim penyelamat makin meningkatkan risiko jatuhnya korban jiwa.

Penyebab? Pemanasan Iklim

Selain Antarktika dan Arktik, Dataran Tinggi Qinghai-Tibet dan wilayah sekitarnya merupakan kawasan berselimut gletser terbesar di dunia, yang dikenal sebagai “Kutub Ketiga” Bumi.

Longsoran es serupa pernah terjadi di dataran tinggi tersebut pada 2016 dan di wilayah pegunungan India pada 2021. Menurut para ilmuwan, di tengah pemanasan global, bencana glasial di “Kutub Ketiga” dan wilayah sekitarnya menjadi semakin sering, semakin meluas, dan semakin destruktif.

Gletser sangat sensitif terhadap kenaikan suhu. Pemanasan iklim yang disebabkan oleh aktivitas manusia telah menjadi pendorong utama dari penyusutan gletser secara meluas yang teramati secara global sejak 1990-an.

Kang mengatakan bahwa pelelehan gletser yang terus berlanjut akan membuat gletser semakin tidak stabil, membuatnya lebih sensitif terhadap gangguan dari luar, serta meningkatkan frekuensi dan memperparah dampak bencana glasial beserta rangkaian bahaya yang ditimbulkannya. Oleh karena itu, mengurangi emisi gas rumah kaca dan menekan pemanasan global merupakan inti dari konservasi gletser jangka panjang, kata Kang.[]


Penulis : Heri Suroyo


Editor : Nara J Afkar


Sumber Berita : Jakarta

Temukan berita-berita menarik lainnya

Berita Terkait

Kapolda: Terimakasih Masyarakat Lampung
CEO Bhayangkara: Tim Bertalenta, Siap Raih 3 Besar
Launching Jersey, Gubernur Mirza Pasang Target 3 Besar
Ketum PBNU tak Boleh Rangkap Jabatan
Calon Ketum PBNU Sepakat Gunakan AHWA jika tak Mufakat
Pelantikan JMSI Sumbar 2026: Perkuat Barisan Media Siber, Lima Tokoh Raih JMSI Awards
Gubernur Mirza Dorong Teknologi Tepat Guna untuk Percepat Hilirisasi Komoditas Lampung
Krakatau Run 2026 Perkuat Sport Tourism, Festival Krakatau XXXV Makin Semarak

Berita Terkait

Sabtu, 29 Agustus 2026 - 23:14 WIB

Ini Cerita Duka Longsor Nepal-Tiongkok

Sabtu, 29 Agustus 2026 - 23:00 WIB

Kapolda: Terimakasih Masyarakat Lampung

Sabtu, 29 Agustus 2026 - 22:55 WIB

CEO Bhayangkara: Tim Bertalenta, Siap Raih 3 Besar

Sabtu, 29 Agustus 2026 - 22:47 WIB

Launching Jersey, Gubernur Mirza Pasang Target 3 Besar

Sabtu, 29 Agustus 2026 - 22:37 WIB

Ketum PBNU tak Boleh Rangkap Jabatan

Berita Terbaru

Foto dari udara yang diabadikan menggunakan drone pada 28 Agustus 2026 ini menunjukkan pemandangan area di sekitar danau bendungan alami yang terbentuk usai tanah longsor di hulu Pelabuhan Gyirong di wilayah Gyirong, Daerah Otonom Xizang, Tiongkok barat daya. (Xinhua)

#indonesiaswasembada

Ini Cerita Duka Longsor Nepal-Tiongkok

Sabtu, 29 Agu 2026 - 23:14 WIB

#indonesiaswasembada

Kapolda: Terimakasih Masyarakat Lampung

Sabtu, 29 Agu 2026 - 23:00 WIB

Tim Bertalenta Jersey Berbudaya Siap Rebut 3 Besar [PL]

#indonesiaswasembada

CEO Bhayangkara: Tim Bertalenta, Siap Raih 3 Besar

Sabtu, 29 Agu 2026 - 22:55 WIB

Bhayangkara Presisi Pasang Target 3 Besar di musim depan [PL]

#indonesiaswasembada

Launching Jersey, Gubernur Mirza Pasang Target 3 Besar

Sabtu, 29 Agu 2026 - 22:47 WIB

Prof. Dr. H. M. Asrorun Ni'am Sholeh, M.A

#indonesiaswasembada

Ketum PBNU tak Boleh Rangkap Jabatan

Sabtu, 29 Agu 2026 - 22:37 WIB