Mirza Kenalkan Anak Kyai Batua dan Sinta; Puspa dan Muli Sikop

Jumat, 22 Mei 2026 | 13:10 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

 

BANDARLAMPUNG -Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal-yang akrab disapa Kiyai Mirza menegaskan komitmen pemerintah daerah dalam mendukung konservasi satwa liar saat memperkenalkan dua anak Harimau Sumatera di Taman Satwa Lembah Hijau, Bandarlampung, Jumat (22/5/2026).

Dua anak harimau betina tersebut diberi nama Puspa dan Muli Sikop. Keduanya lahir pada 14 Februari 2026 dari pasangan Harimau Sumatera Kyai Batua dan Sinta.

Kelahiran Puspa dan Muli Sikop menjadi sejarah baru karena merupakan keberhasilan pertama kelahiran Harimau Sumatera melalui program konservasi ex-situ di Provinsi Lampung.

Nama Puspa diberikan oleh istri Gubernur Lampung, Purnama Wulan Sari Mirza. Nama tersebut memiliki arti bunga yang melambangkan keindahan dan kecantikan. Sementara Muli Sikop berasal dari bahasa Lampung yang berarti gadis cantik.

Gubernur Mirza mengaku bersyukur atas lahirnya dua anak Harimau Sumatera tersebut. Ia menyebut keberhasilan itu menjadi bukti nyata bahwa upaya pelestarian satwa langka masih memberikan harapan besar.

“Alhamdulillah, Lampung mendapatkan kabar bahagia dengan lahirnya dua anak Harimau Sumatera yang sehat. Ini menunjukkan bahwa upaya konservasi yang dilakukan bersama mampu memberikan harapan bagi kelestarian satwa langka Indonesia,” ujar Mirza.

Ia menilai keberhasilan tersebut tidak lepas dari kolaborasi antara Pemerintah Provinsi Lampung, Kementerian Kehutanan, serta pihak Taman Satwa Lembah Hijau.

Mirza juga menyoroti kisah kedua induk harimau yang sebelumnya menjadi korban jerat liar di habitatnya masing-masing.

Baca Juga:  Trump Bingung soal Iran, Damai atau Lanjut Perang

Kyai Batua, induk jantan, diselamatkan pada 2019 setelah terkena jerat di Lampung Barat. Akibat luka parah yang dialami, tim dokter harus mengamputasi kaki kanan depannya demi menyelamatkan nyawanya.

Sementara induk betina, Sinta, mengalami kejadian serupa setelah terkena jerat di Bengkulu pada akhir 2024. Luka berat membuat kaki kanan belakangnya harus diamputasi sebelum akhirnya dirawat di Lembah Hijau.

“Kisah Kyai Batua dan Sinta menjadi pengingat bagi kita semua bahwa ancaman jerat liar masih nyata dan membahayakan satwa dilindungi. Karena itu, menjaga hutan dan satwa liar harus menjadi tanggung jawab bersama,” katanya.

Menurut Mirza, lahirnya dua anak harimau dari induk yang sama-sama bertahan hidup dengan tiga kaki menjadi simbol keberhasilan konservasi dan ketulusan para perawat satwa dalam menjaga satwa langka.

“Ini bukan hanya tentang kelahiran satwa, tetapi juga tentang harapan dan semangat untuk terus menjaga kekayaan alam Indonesia,” ucapnya.

Ia juga mengajak masyarakat untuk menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan sejak usia dini agar generasi muda memiliki rasa cinta terhadap alam dan satwa liar.

Sementara itu, Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) Kementerian Kehutanan Satyawan Pudyatmoko mengatakan ancaman terhadap Harimau Sumatera hingga kini masih sangat tinggi, terutama akibat pemasangan jerat di kawasan hutan.

Menurutnya, kedua induk harimau yang kini dirawat di Lembah Hijau merupakan satwa hasil penyelamatan setelah terkena jerat, baik yang dipasang pemburu maupun jerat untuk babi hutan.

Baca Juga:  HUT ke-81 PMI, Purnama Wulan Sari Mirza Perkuat Gerakan Kemanusiaan di Lampung

“Jerat tidak mengenal jenis satwa. Walaupun tujuannya untuk menangkap babi hutan, jika yang terkena harimau maka dampaknya tetap sama dan sangat membahayakan,” ujarnya.

Satyawan menegaskan Lampung masih menjadi salah satu habitat penting bagi Harimau Sumatera sehingga diperlukan dukungan semua pihak, termasuk pemerintah daerah, untuk meningkatkan kesadaran masyarakat agar tidak lagi memasang jerat liar di kawasan hutan.

Ia mengatakan keberhasilan konservasi Harimau Sumatera nantinya dapat dilihat dari pertumbuhan populasi di habitat alaminya. Namun demikian, upaya pelestarian juga harus tetap memperhatikan keseimbangan ekosistem agar tidak memicu konflik antara manusia dan satwa liar.

“Harimau harus tetap bisa berkembang biak dengan baik di habitat yang masih utuh dan minim aktivitas manusia, sehingga keseimbangan antara kelestarian satwa dan keselamatan masyarakat tetap terjaga,” katanya.

Satyawan juga mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama mendukung kampanye pelestarian Harimau Sumatera sebagai satwa kebanggaan Indonesia dan warisan penting Pulau Sumatera.

“Konservasi tidak bisa dilakukan sendiri. Kami mengajak pemerintah, masyarakat, dunia usaha, akademisi, media massa, hingga para influencer untuk bersama-sama mengkampanyekan pelestarian Harimau Sumatera,” ujarnya.

Dalam kesempatan tersebut, Gubernur Mirza juga berkesempatan berinteraksi dan berfoto bersama Gajah Sumatera bernama Mega dan anaknya, Rawana.[]


Penulis : Desty Efriyani


Editor : Nara J Afkar


Sumber Berita : Lampung Adpim

Temukan berita-berita menarik lainnya

Berita Terkait

BPBD Lampung Utara Berbenah Hadapi Musim Penghujan
Kuasa Hukum Pertanyakan Penyidikan Dugaan Korupsi Jalan Lampung Utara, Sebut Perkara Sudah SP3
Musda XI MUI, Lampung Dorong Sinergi Ulama dan Umaro
Normalisasi Sungai Way Pisang Lampung Selatan Capai 90%
Jambore Nasional PPAJI, Spirit of Krakatoa
Revitalisasi Sekolah: Menilai Kebijakan dari Kebutuhan, Bukan Prasangka
AS Gertak Iran akan Serang Pakai “MOAB”
18 Tewas Akibat Atap Sekolah Ambruk

Berita Terkait

Jumat, 16 Oktober 2026 - 13:40 WIB

BPBD Lampung Utara Berbenah Hadapi Musim Penghujan

Jumat, 16 Oktober 2026 - 10:28 WIB

Kuasa Hukum Pertanyakan Penyidikan Dugaan Korupsi Jalan Lampung Utara, Sebut Perkara Sudah SP3

Jumat, 16 Oktober 2026 - 07:55 WIB

Musda XI MUI, Lampung Dorong Sinergi Ulama dan Umaro

Jumat, 16 Oktober 2026 - 04:04 WIB

Normalisasi Sungai Way Pisang Lampung Selatan Capai 90%

Jumat, 16 Oktober 2026 - 03:53 WIB

Jambore Nasional PPAJI, Spirit of Krakatoa

Berita Terbaru

Berita Utama

BPBD Lampung Utara Berbenah Hadapi Musim Penghujan

Jumat, 16 Okt 2026 - 13:40 WIB

Berita Utama

Musda XI MUI, Lampung Dorong Sinergi Ulama dan Umaro

Jumat, 16 Okt 2026 - 07:55 WIB

Berita Utama

Normalisasi Sungai Way Pisang Lampung Selatan Capai 90%

Jumat, 16 Okt 2026 - 04:04 WIB

Berita Utama

Jambore Nasional PPAJI, Spirit of Krakatoa

Jumat, 16 Okt 2026 - 03:53 WIB