Mesir dan Kuwait Serukan Iran dan AS ke Meja Perundingan

Minggu, 30 Agustus 2026 | 18:30 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Mesir dan Kuwait Berharap Kembali Kemeja Perundingan {LL]

Mesir dan Kuwait Berharap Kembali Kemeja Perundingan {LL]

MENTERI Luar Negeri (Menlu) Mesir Badr Abdelatty dan Menlu Kuwait Sheikh Jarrah Jaber Al-Ahmad Al-Sabah pada Sabtu (29/8) menyerukan deeskalasi serta pelanjutan diplomasi dan perundingan antara Iran dan Amerika Serikat (AS) dalam sebuah pembicaraan via telepon, menurut Kementerian Luar Negeri Mesir.

Kedua menteri membahas perkembangan regional yang berlangsung cepat serta cara-cara untuk meredam eskalasi saat ini, kata Kementerian Luar Negeri Mesir dalam sebuah pernyataan.

Kedua menteri sepakat bahwa deeskalasi dan dimulainya kembali perundingan antara Iran dan AS harus menjadi prioritas, seraya menyoroti nota kesepahaman (memorandum of understanding/MoU) yang ditandatangani oleh Iran dan AS pada 18 Juni sebagai kerangka kerja untuk memulai kembali perundingan dan mencapai solusi politik yang dapat mencegah ketegangan dan ketidakstabilan lebih lanjut di kawasan itu, menurut pernyataan itu.

Baca Juga:  Seni Dekatkan Peradaban Mesir dan Tiongkok

Kedua menteri juga bertukar pandangan mengenai kekhawatiran keamanan regional dan menyerukan penanganan semua sumber ketegangan dengan cara-cara yang mendorong keamanan dan stabilitas regional, kata pernyataan tersebut.

Mereka juga menegaskan kembali prinsip hubungan bertetangga yang baik, penghormatan terhadap kedaulatan dan integritas teritorial negara, serta noninterferensi dalam urusan internal mereka, seraya menyerukan agar perselisihan diselesaikan melalui cara-cara damai dan diplomatik, menurut pernyataan tersebut.

Baca Juga:  Kompolnas RI Lakukan Penilaian 'Kompolnas Awards 2026'

Berdasarkan MoU untuk mengakhiri perang di kawasan tersebut, Teheran dan Washington dijadwalkan menggelar perundingan dalam jangka waktu 60 hari, yang berakhir pada 17 Agustus, guna mencapai kesepakatan final.

Nasib perundingan tersebut masih belum jelas menyusul eskalasi antara kedua negara pada bulan lalu.[]


Penulis : Romy Agus


Editor : Heri Suroyo


Sumber Berita : Jakarta

Temukan berita-berita menarik lainnya

Berita Terkait

Forum Bisnis BRICS 2026 Digelar di New Delhi
Xi Jinping dan Prabowo Hadiri KTT BRICS
35 Tewas dan 54 Hilang akibat Kebakaran Kapal di Filipina
Sekolah Berwawasan Lingkungan, DLH Lampung Target 160 SMA/SMK/MA Raih Adiwiyata
Trump Takut Kalah Saing di Antariksa, Paksa Perusahaan AS Tarik Diri dari KTT Paris
PP JMSI Tegaskan Akun Medsos Resmi Media Bagian Aktivitas Jurnalistik
Dari Bishkek hingga New Delhi, Xi Jinping Dorong Kerja Sama Global South
IRGC Iran Sebut Hantam Drone Laut AS di Selat Hormuz

Berita Terkait

Sabtu, 12 September 2026 - 21:23 WIB

Forum Bisnis BRICS 2026 Digelar di New Delhi

Sabtu, 12 September 2026 - 21:03 WIB

Xi Jinping dan Prabowo Hadiri KTT BRICS

Sabtu, 12 September 2026 - 20:53 WIB

35 Tewas dan 54 Hilang akibat Kebakaran Kapal di Filipina

Sabtu, 12 September 2026 - 11:17 WIB

Sekolah Berwawasan Lingkungan, DLH Lampung Target 160 SMA/SMK/MA Raih Adiwiyata

Sabtu, 12 September 2026 - 04:19 WIB

Trump Takut Kalah Saing di Antariksa, Paksa Perusahaan AS Tarik Diri dari KTT Paris

Berita Terbaru

Menteri Luar Negeri India Subrahmanyam Jaishankar

#indonesiaswasembada

Forum Bisnis BRICS 2026 Digelar di New Delhi

Sabtu, 12 Sep 2026 - 21:23 WIB

Prabowo-Xi Jinping

#indonesiaswasembada

Xi Jinping dan Prabowo Hadiri KTT BRICS

Sabtu, 12 Sep 2026 - 21:03 WIB

Kapal Filipinan yang terbakar [NHK]

#indonesiaswasembada

35 Tewas dan 54 Hilang akibat Kebakaran Kapal di Filipina

Sabtu, 12 Sep 2026 - 20:53 WIB