GUIYANG-Pekan Pendidikan China-ASEAN (China-ASEAN Education Week) 2026 resmi dibuka baru-baru ini di Guiyang, Provinsi Guizhou, China barat daya. Pada 30 Juli, Forum Komunitas Pemuda China-ASEAN (China-ASEAN Youth Community Forum) 2026, yang diselenggarakan oleh Universitas Tsinghua sebagai subforum pemuda utama, menghimpun para utusan diplomatik ASEAN di China, pakar perguruan tinggi, serta mahasiswa untuk mendiskusikan pendidikan berbasis kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), kerja sama antarmasyarakat lintas perbatasan, dan misi generasi muda di era baru.
Irene M. Han, wakil duta besar (Dubes) Republik Indonesia di China, di undang hadir ke forum tersebut dan menyampaikan pidato utama. Pada sesi tanya jawab, Brillin Yapply, mahasiswi S2 asal Surabaya, yang menempuh studi Politik dan Kebijakan Luar Negeri China di Universitas Tsinghua, mengajukan dua pertanyaan yang berfokus pada isu pemuda kepada Irene. Dialog interaktif antara diplomat Indonesia dan mahasiswi berusia 23 tahun tersebut menjadi catatan yang menggambarkan eratnya hubungan antar masyarakat antara Indonesia dan China.
“Saya bertanya bagaimana pandangannya mengenai peran pertukaran pemuda dalam hubungan bilateral kedua negara, serta saran apa yang dapat dia berikan bagi para mahasiswa yang ingin terlibat dalam kerja sama China-ASEAN, khususnya kolaborasi bilateral China-Indonesia,” tutur Brillin dengan antusias dalam wawancara seusai forum.
Menanggapi pertanyaan tersebut, Irene mengawali pidatonya dengan menyoroti nilai inti pertukaran antarmasyarakat Indonesia dan China. Dia menekankan bahwa konektivitas antarmasyarakat merupakan fondasi dari seluruh bentuk kerja sama.
“Pemerintah melakukan negosiasi dan menandatangani berbagai perjanjian kerja sama. Namun, seluruh kerja sama berawal dari kepercayaan, komunikasi yang lancar, dan hubungan antarmasyarakat. Inilah fondasi dari seluruh hubungan bilateral,” tegas Irene.
Irene menunjukkan bahwa baik China maupun Indonesia sama-sama memiliki keanekaragaman etnis, yang menjadi landasan alamiah bagi rasa empati timbal balik antara kedua bangsa. “China dan negara-negara Asia Tenggara memiliki banyak kemiripan. China memiliki 56 kelompok etnis, sementara Indonesia memiliki lebih dari 1.300 suku bangsa. Saya menyukai ungkapan ini, yakni kita tidak harus sama persis. Perbedaan itu adalah hal yang alami.”
“Pekan lalu kami menggelar pertunjukan Orkestra Simfoni Pemuda Indonesia. Piano menghasilkan suaranya yang khas, dan biola memiliki nadanya sendiri. Setiap instrumen terdengar berbeda. Hal ini persis seperti hubungan bilateral antara Indonesia dan China. Meski demikian, kita harus dengan rendah hati mencari titik temu guna membangun masa depan bersama yang makmur. China secara konsisten mendorong tercapainya hasil yang saling menguntungkan, kemakmuran bersama, dan kemitraan kolaboratif, yang menjadi inti dari kerja sama bilateral,” ujar Irene, menggunakan kiasan untuk menggambarkan keharmonisan hubungan kedua negara.
Berbicara mengenai nasihat yang diberikan sang wakil dubes seusai forum, Brillin mengaku sangat terinspirasi. Berbekal pengalaman studinya di Universitas Tsinghua, dia membagikan pemikirannya tentang bagaimana AI dapat memperkuat kerja sama pendidikan antara China dan Indonesia.
“Saya bertanya kepadanya apa pesannya untuk generasi muda. Dia berpesan agar kita menjadi diri sendiri, tampil autentik, dan memperbanyak komunikasi dengan orang lain. Saling memahami antar masyarakat sangat krusial. Oleh karena itu, ada begitu banyak agenda pertukaran rutin antara China dan ASEAN, termasuk pertukaran mahasiswa dan dosen,” tambah Brillin.[]
Penulis : Desty Efriyani
Editor : Rudi Alfian
Sumber Berita : Jakarta






![Bom Moscow 3 Tewas [Ins]](https://web.lintaslampung.com/wp-content/uploads/2026/08/Bom-MOscow-225x129.jpg)





![Bom Moscow 3 Tewas [Ins]](https://web.lintaslampung.com/wp-content/uploads/2026/08/Bom-MOscow-129x85.jpg)




