IT KPU Lemah, Waspada Sabotase Rekapitulasi Suara Pemilu

Jumat, 1 Desember 2023 | 18:34 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Laporan : Heri Suroyo
JAKARTA,- Direktur Eksekutif Information and Communication Technology (ICT) Institute Heru Sutadi mengatakan, Komisi Pemilihan Umum (KPU) harus melakukan audit keamanan IT secara menyeluruh, memperkuat perlindungan data-data pemilih agar tidak disalahgunakan saat pemilihan suara nanti.

“Rekayasa data rekapitulasi dimungkinkan, pertama karena artinya sistem keamanan TI, internet platform maupun database KPU dalam posisi tidak aman,” tegas Heru pada Jumat (1/12).

Modus yang bisa dilakukan adalah dengan mencatut data, membuat KTP siluman, dan mencoblos pada menit-menit terakhir sebelum TPS dibuka.

“Bisa jadi akan membuat KTP palsu yang akan digunakan saat pencoblosan pemilu 2024 an pilpres pada 14 Februari mendatang. Ini harus diantisipasi, karena biasanya ketika menjelang penutupan suara, 1 jam sebelumnya, dimungkinkan orang yang belum memilih bisa memilih, yang tidak terdaftar bisa menggunakan hak pilih dengan menggunakan KTP,” ungkap Heru.

Dan biasanya mereka akan menggunakan KTP tersebut bukan di wilayah DPT. Selain itu, ada metode lain yang tidak kalah jahat, bisa mengacak-ngacak Pemilu kita.

“Dan selain data yang diambil, dengan hacker masuk ke sistem KPU, maka ya bisa saja nanti mereka mengacak-acak sistem IT KPU lainnya termasuk rekapitulasi penghitungan suara. Sehingga masalah ini jangan dianggap sepele, tapi harus diperkuat keamanan siber dan keamanan datanya,” tegas Heru.

Baca Juga:  Serang Istana Aden, Houthi Klaim Tewaskan Perwira Arab Saudi

“Kita harus antisipasi pemilu 2024 ini , pilpres, menjadi pemilu dan pilpres yang berkualitas,“ tambah Heru.

Belajar dari kasus hacker Jimbo, Heru merasa KPU tidak melindungi data-data mereka dengan baik. “Memang kalau kita lihat data-data tersebut, secara data yang formatnya memang sudah tidak melakukan enkripsi, artinya ada kelalaian KPU, harusnya data tersebut dilakukan enkripsi,“ jelas Heru. Maka tidak heran jika data-data ini mudah diretas.

Untuk itu, Heru tetap mendorong KPU melakukan audit IT menyeluruh. “Memang biasanya kalau ada peretasan biasanya perlu dilakukan audit keamanan IT secara menyeluruh. Jadi memang ada prosedur yang harus dilakukan untuk melihat bagaimana kebocoran terjadi dan dari mana kebocoran. Apakah juga KPU sudah melakukan hal hal yang memang berupaya untuk mencegah kebocoran tersebut terjadi,” jelas Heru.

Lebih Jujur

Direktur Eksekutif Network for Democracy and Electoral Integrity (Netgrit), Hadar Nafis Gumay meminta agar KPU tidak menganggap sederhana persoalan kebocoran data pemilih dari website KPU. Kabar kebocoran itu bisa memicu respons publik dan berimbas pada kepercayaan publik terhadap muruah lembaga, bahkan memunculkan persepsi negatif di mata publik.

“Memang kita jangan menganggap enteng bahwa satu hal itu berdiri sendiri. Jadi bisa merembet ke hal yang lain. Ini kan persoalan kepercayaan, persoalan persepsi,” ungkapnya.

Baca Juga:  HUT 62 Golkar, Laksanakan Ziarah Serentak di 15 Kabupaten/Kota

Saat ini, publik tengah dilanda kekhawatiran terkait data mereka yang ada di server KPU dan lebih luas pada legitimasi hasil pemilu.

Menurut Hadar, adanya anggapan bahwa kebocoran data bisa memengaruhi hasil pemilu adalah persepsi publik saat merespons kerentanan sistem KPU. Kendati demikian, Hadar menilai terlalu jauh untuk mengaitkan kebocoran data pemilih dengan rekayasa hasil pemilu.

“Bahwa data ini kemudian bisa dimanfaatkan ke suara, itu agak jauh. Kalaupun ada pemanfaatan, tetap ada sistem-sistem, benteng-benteng yang memagari suara yang diberikan. Tapi kalau persoalan persepsi orang, pemahaman orang, itu kan tidak semuanya tahu secara rinci,” tambah komisioner KPU periode 2012-2017 itu.

“Data suara kan belum ada, suara baru nanti terbentuk. Jadi tidak menyambung. Jadi jauh kalau toh ada sambungannya,” terusnya.

Menurutnya, KPU tidak bisa lagi menjawab persoalan tersebut dengan normatif. KPU harus bersikap terbuka dan memberikan penjelasan gamblang terhadap kejadian tersebut.

“Bagi saya, kejujuran itu menjadi penting, cepat, dan kemudian membuka sebetulnya apa yang terjadi. Sehingga masyarakat semua akan paham. Keterbukaan itu penting, selain melibatkan banyak pemangku kepentingan lain di luar yang punya kompetensi, para akademi, ahli IT, profesional IT. Jadi jangan hanya mengandalkan lembaga negara, tapi terbukti (kebocoran data),” pungkasnya. ##

Temukan berita-berita menarik lainnya

Berita Terkait

Sekretaris JMSI Lampung Ingatkan Mahasiswa Jaga Idealisme dan Kepekaan Sosial
Siap Hadapi AS, Iran: Sedang Tingkatkan Jangkauan Rudal
PM Italia: Belanja Keamanan Penting
Hanan Rozak: Golkar Solid di Bawah Bahlil
Menlu Irak: Bentuk Komite ‘Akurkan’ Iran-AS
30 Tewas dan 8 Terluka, Pemerintah Yaman dan Houthi Saling Tuding
Kamp Tinju di Bawah Jembatan Layang, Positif Broo
Mengarungi Laut Dalam: Sebuah Visi Baru Bagi Indonesia-Tiongkok

Berita Terkait

Minggu, 8 November 2026 - 16:02 WIB

Sekretaris JMSI Lampung Ingatkan Mahasiswa Jaga Idealisme dan Kepekaan Sosial

Minggu, 8 November 2026 - 13:19 WIB

Siap Hadapi AS, Iran: Sedang Tingkatkan Jangkauan Rudal

Minggu, 8 November 2026 - 12:34 WIB

PM Italia: Belanja Keamanan Penting

Minggu, 8 November 2026 - 09:36 WIB

Hanan Rozak: Golkar Solid di Bawah Bahlil

Minggu, 8 November 2026 - 08:29 WIB

Menlu Irak: Bentuk Komite ‘Akurkan’ Iran-AS

Berita Terbaru

Hossein Mohebbi, juru bicara Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), berbicara dalam sebuah konferensi pers di Teheran, Iran, pada 29 September 2026. (Xinhua)

Berita Utama

Siap Hadapi AS, Iran: Sedang Tingkatkan Jangkauan Rudal

Minggu, 8 Nov 2026 - 13:19 WIB

Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni berbicara dalam sebuah konferensi pers di Roma, Italia, pada 9 Januari 2026. (Xinhua)

Berita Utama

PM Italia: Belanja Keamanan Penting

Minggu, 8 Nov 2026 - 12:34 WIB

Bandar Lampung

Hanan Rozak: Golkar Solid di Bawah Bahlil

Minggu, 8 Nov 2026 - 09:36 WIB

Menteri Luar Negeri Irak Fuad Hussein berbicara dalam sebuah konferensi pers bersama di Baghdad, Irak, pada 30 Juni 2026. (Xinhua)

Berita Utama

Menlu Irak: Bentuk Komite ‘Akurkan’ Iran-AS

Minggu, 8 Nov 2026 - 08:29 WIB