BAGHDAD-Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Irak pada Kamis (6/8) mengumumkan bahwa negara tersebut mencatat 313 kasus terkonfirmasi Demam Berdarah Krimea-Kongo (Crimean Congo Hemorrhagic Fever/CCHF), termasuk 24 kematian, sejak awal 2026.
Dalam rekapitulasi mingguan terbaru, Irak melaporkan 14 kasus terkonfirmasi, dengan satu kematian di Provinsi Nineveh, Irak utara, kata juru bicara Kemenkes Irak Saif al-Badr dalam sebuah pernyataan.
Provinsi Dhi Qar di Irak selatan masih menjadi wilayah yang paling terdampak, dengan mencatatkan total kumulatif 119 kasus terkonfirmasi dan sembilan kematian, menurut pernyataan tersebut.
Al-Badr mengatakan Kemenkes Irak melakukan pemantauan epidemiologis harian di seluruh provinsi dengan berkoordinasi bersama otoritas veteriner dan otoritas regulator, sembari memperluas kampanye kesadaran dan prosedur deteksi dini.
Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), CCHF yang ditandai dengan gejala demam, nyeri otot, sakit kepala, dan pendarahan memiliki tingkat fatalitas kasus hingga 40 persen.
Sejak akhir 1970-an, CCHF menjadi demam berdarah virus yang paling umum ditemukan di Irak. Penyakit ini ditularkan kepada manusia terutama melalui gigitan kutu atau kontak dengan darah dan jaringan hewan yang terinfeksi, khususnya ternak. Pada 2023, Irak mengalami wabah CCHF terbesar dengan lebih dari 587 kasus terkonfirmasi dan 83 kematian.[]
Penulis : Desty E
Editor : Romy Agus
Sumber Berita : Jakarta-Xinhua

















