BAGHDAD-Presiden Irak Nizar Amedi dan Presiden Mesir Abdel Fattah al-Sisi menekankan dalam percakapan via telepon pada Minggu (1/11) bahwa dialog dan diplomasi harus tetap menjadi sarana utama untuk menyelesaikan sengketa di kawasan tersebut, menurut pernyataan yang dikeluarkan oleh Kantor Kepresidenan Irak.
Kedua pemimpin itu menyerukan upaya untuk mengendalikan krisis yang ada, meredakan ketegangan, dan mencegah meluasnya konflik, menurut pernyataan tersebut.
Mereka juga menyoroti perlunya koordinasi yang lebih erat antarnegara Arab serta di tingkat regional dan internasional guna memperkuat perdamaian dan stabilitas.
Percakapan via telepon tersebut berlangsung di tengah meningkatnya ketidakstabilan regional yang ditandai dengan risiko keamanan di Selat Hormuz serta meningkatnya bentrokan militer antara koalisi pimpinan Arab Saudi dan kelompok Houthi di Yaman. []
Foto yang diabadikan pada 29 Juli 2026 ini memperlihatkan kerusakan pada markas besar kelompok paramiliter Irak, Pasukan Mobilisasi Rakyat (Popular Mobilization Forces/PMF), di Mosul, Irak. (Xinhua)
Penulis : Heri Suroyo
Editor : Nara J Afkar
Sumber Berita : Jakarta














