JAKARTA-Indonesia dan Tiongkok menjajaki perluasan kemitraan di sektor pertanian melalui penguatan produksi pangan, transfer teknologi, dan investasi industri pengolahan. Langkah ini dilakukan untuk meningkatkan nilai tambah komoditas serta memperkuat kapasitas sektor pertanian kedua negara.
Salah satu gambaran konkret dari arah kerja sama tersebut terlihat dalam pengembangan bawang putih. Saat ini, sekitar 90 persen kebutuhan bawang putih Indonesia dipenuhi dari Tiongkok. Karena itu, Menteri Pertanian Indonesia Andi Amran Sulaiman ingin mengembangkan kapasitas produksi dalam negeri melalui dukungan teknologi, penyediaan benih, mekanisasi, dan pembangunan klaster pertanian.
Usulan itu disampaikan Amran dalam pertemuan bilateral dengan Menteri Pertanian Tiongkok Zhang Zhu di Beijing pada Senin (2/11). Dia menekankan pentingnya kerja sama yang memberikan manfaat langsung bagi pengembangan sektor pertanian Indonesia.
“Kita ingin kerja sama hulu sampai hilir untuk bawang putih, mulai dari benih, teknologi, alat dan mesin pertanian, hingga membangun klaster di Indonesia,” kata Amran dalam keterangannya.
Zhang menyatakan dukungan terhadap pengembangan produksi bawang putih di Indonesia. Dia menyampaikan kesiapan Tiongkok untuk memperdalam pembahasan teknis, khususnya mengenai teknologi produksi, teknik penanaman, dan aspek budi daya lainnya.
Menurut Zhang, kerja sama pertanian kedua negara telah berkembang positif sejak 2019. Kuatnya perdagangan bilateral juga memberikan landasan bagi perluasan kolaborasi di sektor tersebut.Dia menyebutkan nilai perdagangan Indonesia-Tiongkok pada 2025 mencapai 125 miliar dolar AS (1 dolar AS= Rp18.148), atau sekitar 25 persen dari total perdagangan Tiongkok dengan negara-negara Asia Tenggara.
Selain pengembangan bawang putih, Indonesia ingin memperluas peluang perdagangan komoditas pertanian unggulan, termasuk kopi, kakao, kelapa, dan kelapa sawit. Untuk mendukung upaya tersebut, Zhang menyampaikan bahwa Tiongkok akan mendorong pembentukan kelompok kerja guna membahas peluang kerja sama dan tindak lanjut pengembangan komoditas tersebut.
Indonesia juga berupaya menarik investasi Tiongkok untuk memperkuat industri pengolahan hasil pertanian. Amran menawarkan peluang kepada perusahaan Tiongkok untuk mengembangkan industri kelapa dan produk turunannya, rumput laut, serta vaksin untuk pertanian di kawasan khusus yang telah disiapkan pemerintah.Dia mengatakan pemerintah telah menyiapkan lahan, legalitas, dan dukungan insentif guna mempermudah investor mengembangkan kegiatan industri di Indonesia.
“Kita ingin membangun industri pengolahan, seperti pabrik kelapa dan rumput laut, sehingga sumber daya yang kita miliki bisa memberikan nilai tambah lebih besar,” ujar Amran.
Selain itu, kedua pihak membahas potensi pengembangan kerja sama perdagangan produk susu dan penelitian gandum. Amran menyebut kebutuhan susu Indonesia mencapai sekitar 4 juta ton per tahun dan mengharapkan peningkatan kerja sama untuk mendukung pemenuhan kebutuhan tersebut.
Pengembangan teknologi pertanian modern turut menjadi topik pembahasan dalam pertemuan tersebut. Indonesia mendorong kolaborasi dalam mekanisasi, kecerdasan buatan (AI), serta pemanfaatan teknologi untuk meningkatkan efisiensi dan produktivitas pertanian.
Zhang menawarkan penguatan penelitian dan diskusi teknis, termasuk pemanfaatan drone nirawak, robot pertanian, dan AI. Tiongkok juga menyatakan kesiapan mengorganisasikan delegasi perusahaan untuk menjajaki peluang investasi di Indonesia.Melalui berbagai agenda tersebut, Indonesia dan Tiongkok berupaya memperluas dimensi kemitraan pertanian, tidak hanya melalui perdagangan, tetapi juga melalui penelitian, transfer teknologi, peningkatan produksi, dan pengembangan industri hilir.
Kedua negara sepakat memperkuat komunikasi dan pembahasan teknis guna menindaklanjuti peluang kerja sama yang telah diidentifikasi. []
Penulis : Anita Ajeng Violanita
Editor : Nara J Afkar
Sumber Berita : Jakarta
















