Indonesia Minta Investasi Tiongkok Dukung Hilirisasi

Rabu, 21 Oktober 2026 | 21:23 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Noor Sona Maesana Mushonnif, staf khusus Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), memberi pidato pada acara Dialog Global South: Forum Meja Bundar Tiongkok-Indonesia di Jakarta, 19 Oktober, 2026. (Xinhua)

Noor Sona Maesana Mushonnif, staf khusus Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), memberi pidato pada acara Dialog Global South: Forum Meja Bundar Tiongkok-Indonesia di Jakarta, 19 Oktober, 2026. (Xinhua)

JAKARTA-Indonesia mendorong penguatan kemitraan investasi dengan Tiongkok untuk mempercepat hilirisasi dan meningkatkan nilai tambah industri di dalam negeri sebagai bagian dari upaya mempercepat transformasi ekonomi nasional menuju Indonesia Emas 2045.

Noor Sona Maesana Mushonnif, staf khusus Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bidang Percepatan Hilirisasi dan Peningkatan Pengusaha Nasional, mengatakan bahwa investasi perlu diarahkan tidak hanya untuk meningkatkan nilai penanaman modal, tetapi juga memperkuat industri nasional dan memperluas keterlibatan pengusaha Indonesia dalam rantai pasokan industri.

Hal tersebut disampaikan Sona dalam acara Dialog Global South: Forum Meja Bundar Tiongkok-Indonesia (Global South Dialogue: China-Indonesia Roundtable Forum) di Jakarta pada Senin (19/10).

Menurut Sona, Indonesia membutuhkan percepatan transformasi ekonomi dan penguatan fondasi pertumbuhan jangka panjang. Dalam proses tersebut, kemitraan dengan investor internasional, termasuk Tiongkok, dinilai dapat membuka peluang untuk meningkatkan kapasitas industri domestik. Berdasarkan materi perencanaan investasi periode 2025-2029, kebutuhan investasi Indonesia diperkirakan mencapai sekitar Rp13.000 triliun untuk mendukung target pertumbuhan ekonomi sebesar 8 persen pada 2029.

“Indonesia dan Tiongkok memiliki peluang besar untuk membangun kemitraan yang saling menguatkan. Kerja sama ini perlu diarahkan tidak hanya untuk meningkatkan nilai investasi, tetapi juga menciptakan nilai tambah di dalam negeri, memperkuat industri nasional, dan membuka lebih banyak kesempatan bagi pengusaha Indonesia untuk tumbuh bersama,” kata Sona dalam keterangannya, dikutip pada Selasa (20/10).

Baca Juga:  Sekjen PBB Serukan Reformasi Dewan Keamanan 

Dia menuturkan bahwa hubungan ekonomi Indonesia dan Tiongkok telah berkembang melalui kerja sama di berbagai sektor, termasuk pengolahan mineral, rantai pasok baterai kendaraan listrik, dan manufaktur. Nilai investasi kumulatif Tiongkok di Indonesia selama periode 2021-2025 tercatat mencapai sekitar 34,44 miliar dolar AS (1 dolar AS = Rp18.006).

Ke depan, peluang kerja sama kedua negara dinilai dapat diperluas ke sektor energi terbarukan, ekonomi digital, kesehatan, ketahanan pangan, serta hilirisasi perkebunan, perikanan, dan kelautan.

Sona menekankan bahwa pengembangan sektor-sektor tersebut perlu disertai peningkatan keterlibatan pengusaha nasional agar manfaat investasi dapat menjangkau lebih banyak pelaku usaha domestik.Menurut dia, percepatan hilirisasi perlu berjalan beriringan dengan peningkatan kapasitas pengusaha nasional. Upaya tersebut penting untuk membangun ekosistem usaha yang kuat sekaligus memastikan investasi berkontribusi terhadap pengembangan industri dalam negeri.

Dia mengatakan bahwa pengusaha nasional dan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) perlu memperoleh akses lebih luas untuk menjadi pemasok bagi industri, mulai dari penyediaan barang, jasa pemeliharaan, dan logistik hingga komponen produksi.Untuk mendukung hal tersebut, perusahaan besar perlu memberikan penjelasan mengenai standar kebutuhan industri, sementara pemasok lokal perlu mendapatkan pendampingan agar mampu memenuhi persyaratan yang ditetapkan.

Baca Juga:  Paradoks Interaksi Warganet Indonesia di Media Sosial

Sona menambahkan bahwa kemitraan industri yang berkelanjutan membutuhkan hubungan bisnis yang jelas, peningkatan kualitas pemasok lokal, serta pengembangan keterampilan tenaga kerja sesuai dengan kebutuhan industri.Dengan demikian, investasi tidak hanya menghadirkan modal dan teknologi, tetapi juga berpotensi memperkuat kemampuan industri serta meningkatkan daya saing pelaku usaha nasional.

Dia juga menegaskan bahwa penguatan hubungan ekonomi Indonesia dan Tiongkok perlu berlandaskan prinsip kesetaraan, saling menghormati, dan manfaat bersama.Menurut Sona, kemitraan kedua negara diharapkan tidak berhenti pada realisasi investasi, tetapi juga berkembang menjadi kerja sama jangka panjang yang mendukung transformasi ekonomi Indonesia dan pertumbuhan yang inklusif.

Hubungan Indonesia dan Tiongkok memiliki ruang besar untuk terus diperkuat. Dengan menghubungkan investasi, teknologi, kebutuhan industri, dan kapasitas pengusaha nasional, kita ingin memastikan bahwa kemitraan ini memberikan manfaat nyata bagi kedua negara sekaligus mendukung transformasi ekonomi Indonesia,” pungkasnya. []


Penulis : Heri Suroyo


Editor : Nara J Afkar


Sumber Berita : Jakarta

Temukan berita-berita menarik lainnya

Berita Terkait

Dayabumi dan GEM Kembangkan PLTS 90 MWp di Sulteng
APBD Lampung: Pendapatan Rp7,23 T, Belanja Rp6,93 T
Gubernur Lampung Ajak LPM Berkolaborasi Membangun Daerah
SDABMBK Lampung Utara Percepat Pengadaan Alat Berat
Tekanan Biaya, BBC Tutup Tiga Saluran Televisi dan Radio
Ancam Tembak Trump, Pria 24 Tahun Ditangkap
Pakan Mandiri Tekan Biaya Produksi hingga 50 Persen
Seni Sarana Pembentukan Karakter dan Kreativitas Siswa

Berita Terkait

Rabu, 21 Oktober 2026 - 21:25 WIB

Dayabumi dan GEM Kembangkan PLTS 90 MWp di Sulteng

Rabu, 21 Oktober 2026 - 21:23 WIB

Indonesia Minta Investasi Tiongkok Dukung Hilirisasi

Rabu, 21 Oktober 2026 - 21:20 WIB

APBD Lampung: Pendapatan Rp7,23 T, Belanja Rp6,93 T

Rabu, 21 Oktober 2026 - 21:01 WIB

Gubernur Lampung Ajak LPM Berkolaborasi Membangun Daerah

Rabu, 21 Oktober 2026 - 20:30 WIB

SDABMBK Lampung Utara Percepat Pengadaan Alat Berat

Berita Terbaru

PT Daya Bumi Energi Indonesia (Dayabumi Energi) dan GEM Co., Ltd. menandatangani kerja sama pengembangan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) berkapasitas 90 megawatt-peak (MWp) dan sistem penyimpanan energi baterai berkapasitas 40 megawatt-hour (MWh) di kawasan industri Sulawesi Tengah pada 19 Oktober 2026 di Jakarta Selatan. (Xinhua)

Berita Utama

Dayabumi dan GEM Kembangkan PLTS 90 MWp di Sulteng

Rabu, 21 Okt 2026 - 21:25 WIB

Noor Sona Maesana Mushonnif, staf khusus Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), memberi pidato pada acara Dialog Global South: Forum Meja Bundar Tiongkok-Indonesia di Jakarta, 19 Oktober, 2026. (Xinhua)

Berita Utama

Indonesia Minta Investasi Tiongkok Dukung Hilirisasi

Rabu, 21 Okt 2026 - 21:23 WIB

Berita Utama

APBD Lampung: Pendapatan Rp7,23 T, Belanja Rp6,93 T

Rabu, 21 Okt 2026 - 21:20 WIB

Berita Utama

Gubernur Lampung Ajak LPM Berkolaborasi Membangun Daerah

Rabu, 21 Okt 2026 - 21:01 WIB

Berita Utama

SDABMBK Lampung Utara Percepat Pengadaan Alat Berat

Rabu, 21 Okt 2026 - 20:30 WIB