JAKARTA-PT Daya Bumi Energi Indonesia (Dayabumi Energi) menggandeng GEM Co., Ltd., perusahaan asal Tiongkok, untuk mengembangkan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) berkapasitas 90 megawatt-peak (MWp) dan sistem penyimpanan energi baterai berkapasitas 40 megawatt-hour (MWh) di kawasan industri di Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng).
Kerja sama itu tertuang dalam dua nota kesepahaman (memorandum of understanding/MoU), masing-masing antara Dayabumi Energi dan International Green Industrial Park (IGIP), dan antara Dayabumi Energi dan PT QMB New Energy Materials Indonesia, yang diteken di Jakarta pada Senin (19/10).
Chairman GEM Group Prof. Xu Kaihua menyampaikan bahwa pemerintah Indonesia saat ini tengah fokus mempromosikan proyek energi terbarukan berkapasitas 100 gigawatt (GW). Disampaikan Xu, penandatanganan itu merupakan langkah nyata bagi perusahaan Tiongkok dan Indonesia untuk bekerja sama melaksanakan proyek strategis nasional tersebut.
“Melalui kolaborasi dengan Dayabumi Energi, kami ingin memperluas pemanfaatan energi terbarukan untuk mendukung kebutuhan kawasan industri sekaligus mendorong transformasi menuju industri yang lebih rendah karbon,” ujar Xu.
Ketua Kamar Dagang dan Industri Indonesia (KADIN) Komite Tiongkok Garibaldi Thohir menuturkan bahwa GEM Group telah menjadi model bagi perusahaan multinasional untuk berinvestasi di Indonesia. Tak hanya itu, GEM Group juga antusias mendukung pendidikan lokal dan pembangunan berkelanjutan yang ramah lingkungan.
Di tengah kondisi geopolitik saat ini, Garibaldi menilai bahwa kerja sama antara Indonesia dan Tiongkok perlu diperkuat.
“Jika kedua belah pihak menjalin hubungan kerja sama yang baik, baik perusahaan Indonesia maupun Tiongkok dapat menjadi perusahaan terkemuka di dunia,” imbuh Garibaldi.Adapun, pembangunan IGIP yang dipimpin oleh GEM direncanakan memiliki luas 1.500 hektare dengan total investasi akan mencapai lebih dari 10 miliar dolar AS (1 dolar AS = Rp18.006).
Dengan tujuan “desain serba ramah lingkungan dan operasi nol karbon,” GEM berkomitmen untuk membangun kawasan industri sumber daya nikel nol karbon pertama di dunia.Penandatanganan kerja sama dasar energi hijau itu mengindikasikan bahwa jalur nol karbon IGIP telah berkembang menjadi “membangun bersama dengan mitra Indonesia.”
Di saat yang sama, bagi QMB, yang telah beroperasi selama empat tahun, energi ramah lingkungan akan menjadi bagian penting dalam memangkas biaya operasional di masa mendatang. []
Penulis : Rudi Alfian
Editor : Romy
Sumber Berita : Jakarta
















