Gus Yusuf, Darah Segar bagi NU dan Umat

Selasa, 18 Agustus 2026 | 06:14 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: DR H Ahmad Fahrur Rozi*

SAYA mengenal Gus Yusuf sebagai adik kelas di MHM Lirboyo, terpaut dua tingkat. Dalam pergaulan, ia pribadi yang tenang. Tidak gemar membuat kegaduhan, tetapi tekun bekerja dan memilih menunjukkan kesungguhannya melalui hasil, bukan sekadar kata-kata.

Ia lahir dari keluarga kiai besar. Namun, nama besar itu tidak dijadikannya alasan untuk merasa cukup. Ia membangun dirinya dengan kerja keras, kesabaran, dan pengabdian. Di situlah watak seorang santri diuji: bukan sekadar ingin dikenal, melainkan berusaha agar kehadirannya benar-benar membawa manfaat.

Gus Yusuf tumbuh dari rahim pesantren. Ia memahami bahwa pesantren bukan hanya tempat belajar kitab, melainkan tempat seseorang ditempa untuk mandiri, menghormati ulama, hidup sederhana, dekat dengan masyarakat, dan siap melayani umat. Karena itu, perhatiannya terhadap pendidikan pesantren terasa sebagai panggilan hati, bukan sekadar agenda organisasi.

Saya melihat kesungguhannya dalam mengelola pesantren warisan orang tuanya. Ia merawat apa yang telah dibangun para pendahulu, sambil mencari jalan agar lembaga itu terus berkembang dan manfaatnya semakin luas. Kepeduliannya juga tidak berhenti pada pesantrennya sendiri. Pesantren yang sudah baik ia dukung, yang menghadapi keterbatasan ia bantu agar dapat bangkit dan maju.

Baca Juga:  Menteri LH: Presiden RI Lakukan Pengendalian Perubahan Iklim

Kerja seperti itu sering kali tidak terdengar. Tidak selalu masuk pemberitaan dan tidak selalu menjadi bahan perbincangan. Padahal, warga pesantren memahami bahwa perubahan besar lahir dari ketekunan mengurus hal-hal yang tampak kecil: memperbaiki mutu pendidikan, memperhatikan santri, menguatkan guru, dan memastikan pesantren tetap tegak menghadapi perubahan zaman.

Saya pernah bersama Gus Yusuf dalam kepengurusan PBNU, khususnya di Rabithah Ma’ahid Islamiyah. Dari situ, saya mengenalnya sebagai kader yang memahami dunia pesantren dan mengerti watak perjuangan NU. Pengalamannya dalam organisasi, termasuk di PKB, melatihnya membangun komunikasi, merawat hubungan, serta bekerja bersama banyak pihak tanpa kehilangan akar tradisinya.

NU membutuhkan kader seperti ini: dekat dengan pesantren, tidak tercerabut dari kehidupan warga, dan bersedia bekerja keras tanpa banyak meminta sorotan. NU tidak cukup hanya dipimpin oleh orang yang pandai tampil di panggung. NU harus dihidupi oleh orang-orang yang siap hadir ketika pesantren membutuhkan perhatian, ketika warga memerlukan jalan keluar, dan ketika umat membutuhkan pelayanan nyata.

Baca Juga:  Survei PBB: Kekhawatiran akan Perang Besar Meningkat Tajam

Saya mendengar Gus Yusuf membawa perhatian besar pada penguatan pendidikan pesantren dan layanan kesehatan yang mudah dijangkau masyarakat. Dua hal ini sangat dekat dengan kebutuhan warga NU. Pesantren harus terus tumbuh menjadi pusat ilmu dan pembentukan akhlak. Di saat yang sama, masyarakat kecil harus memperoleh layanan kesehatan yang layak tanpa merasa dipersulit atau dibebani.

Saya percaya Gus Yusuf memiliki ketekunan dan semangat khidmah untuk menjalankan amanah tersebut. Ia bukan sosok yang datang dengan janji-janji besar, melainkan kader yang telah lama belajar bekerja. Memberi ruang kepadanya untuk memperluas pengabdian di Nahdlatul Ulama adalah ikhtiar menghadirkan darah segar bagi NU: segar dalam gagasan, kuat dalam kerja, namun tetap berakar pada tradisi, adab, dan kepedulian kepada umat.

Selamat datang, Gus Yusuf. Semoga langkah khidmah ini membawa manfaat yang luas bagi NU, pesantren, dan bangsa.[]

*Ketua PBNU Bidang Keagamaan


Editor : Romy Agus


Sumber Berita : Jakarta

Temukan berita-berita menarik lainnya

Berita Terkait

MA Dukung “Ageman”; Refleksi Nyata Harmoni Bangsa
AS Kerahkan Kapal Induk Ketiga dan Tambah 10.000 Personel ke Timur Tengah
Material Besi Diduga Tak Sesuai Spesifikasi, Revitalisasi SDN 3 Subik Disorot
Masyarakat Lampung Diminta Rawat Persatuan
Prof Sudarman: Film Ageman Simbol Kedamaian
Kemenko IPK Atensi Pemanfaatan Disposal Oleh Pemkab Mesuji
Flydubai Mendarat Darurat, Dua Pilot Terlibat Insiden
Lampung Fokus Deteksi Dini pada Penyakit Kanker

Berita Terkait

Sabtu, 3 Oktober 2026 - 06:26 WIB

MA Dukung “Ageman”; Refleksi Nyata Harmoni Bangsa

Jumat, 2 Oktober 2026 - 21:57 WIB

AS Kerahkan Kapal Induk Ketiga dan Tambah 10.000 Personel ke Timur Tengah

Jumat, 2 Oktober 2026 - 18:47 WIB

Material Besi Diduga Tak Sesuai Spesifikasi, Revitalisasi SDN 3 Subik Disorot

Jumat, 2 Oktober 2026 - 09:21 WIB

Masyarakat Lampung Diminta Rawat Persatuan

Jumat, 2 Oktober 2026 - 07:53 WIB

Prof Sudarman: Film Ageman Simbol Kedamaian

Berita Terbaru

Berita Utama

MA Dukung “Ageman”; Refleksi Nyata Harmoni Bangsa

Sabtu, 3 Okt 2026 - 06:26 WIB

Berita Utama

Masyarakat Lampung Diminta Rawat Persatuan

Jumat, 2 Okt 2026 - 09:21 WIB

Berita Utama

Prof Sudarman: Film Ageman Simbol Kedamaian

Jumat, 2 Okt 2026 - 07:53 WIB