Gempa Tektonik M5,5 Guncang NTT

Sabtu, 15 Agustus 2026 | 21:15 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Gempa Tektonik M5,5 Guncang NTT

Gempa Tektonik M5,5 Guncang NTT

KUPANG- Gempa bumi tektonik mengguncang wilayah Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), pada Minggu (26/7/2026) pukul 17.57.43 WIB atau 18.57 WITA. Berdasarkan hasil analisis Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), gempa memiliki magnitudo terkini sebesar M5,3 dengan kedalaman 44 kilometer. Meski guncangan dirasakan cukup kuat di sejumlah wilayah, BMKG menegaskan bahwa gempa tersebut tidak berpotensi menimbulkan tsunami.

Episenter gempa berada pada koordinat 10,16 derajat Lintang Selatan dan 123,77 derajat Bujur Timur, tepatnya sekitar 18 kilometer di timur laut Kupang. Lokasi pusat gempa berada di darat, sehingga dampak utama yang dirasakan masyarakat berupa guncangan dengan intensitas sedang hingga kuat di sejumlah wilayah Kabupaten Kupang dan sekitarnya.

Data sementara Sabtu (15/8) 18.48 WIB BNPB merilis korban meninggal dunia 47 orang. Tersebar Kabupaten Manggarai 24. Manggarai timur 17 orang, Sikka 3 orang, Ngada 1 orang dan Ende 1 orang.

Sementara bangunan, rumah rusak berat 157, rusak sedang 41 dan rusak ringan 148 unit. Fasum dan rumah ibadah; fasilitas pendidikan 87 unit, fasilitas kesehatan 18 unit, tempat ibadah 5 unit dan kantor lainnya 6 unit.

BMKG menjelaskan bahwa gempa ini merupakan gempa dangkal yang dipicu oleh aktivitas subduksi lempeng tektonik di kawasan Nusa Tenggara. Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan bahwa gempa terjadi akibat pergerakan naik atau thrust fault, jenis sesar yang umum terjadi pada zona tumbukan lempeng.

Baca Juga:  Ekonomi Konser Subur, Bisnis Sewa Ponsel Laris Manis

Karakteristik geologi Nusa Tenggara memang menjadikan wilayah ini sebagai salah satu daerah dengan aktivitas seismik yang tinggi. Interaksi antara Lempeng Indo-Australia dan Lempeng Eurasia menyebabkan akumulasi energi yang sewaktu-waktu dilepaskan dalam bentuk gempa bumi. Berdasarkan peta tingkat guncangan atau shakemap yang diterbitkan BMKG, intensitas gempa mencapai V MMI di Sulamu, Fatuleu Barat, Kupang Timur, dan Kota Oelamasi. Pada tingkat ini, getaran dirasakan hampir oleh seluruh penduduk. Banyak warga terbangun atau berhamburan keluar rumah, barang-barang bergoyang bahkan dapat terjatuh, sementara gerabah dan benda-benda rapuh berpotensi pecah.

Sementara itu, wilayah Kota Kupang, Kota Soe, Kota Kefamenanu, dan Kota Baa merasakan guncangan dengan intensitas IV MMI. Pada skala tersebut, getaran dirasakan oleh hampir semua orang di dalam rumah. Sebagian masyarakat dilaporkan keluar bangunan karena khawatir, meskipun dampak kerusakan yang ditimbulkan umumnya bersifat ringan. Hingga pukul 18.24 WIB atau sekitar setengah jam setelah gempa utama terjadi, BMKG menyatakan belum terdeteksi adanya aktivitas gempa susulan (aftershock) berdasarkan hasil pemantauan instrumen seismik,

Meski demikian, masyarakat tetap diminta meningkatkan kewaspadaan. Dalam situasi pascagempa, potensi adanya gempa susulan tetap dapat terjadi sehingga warga diimbau tidak terburu-buru memasuki bangunan yang mengalami kerusakan sebelum dipastikan aman seperti yang di rilis LensaNTT dan flobamora News jaringan berita JMSI.

BMKG juga mengingatkan masyarakat agar tidak mudah mempercayai informasi yang belum jelas sumbernya, terutama mengenai isu tsunami maupun prediksi gempa yang beredar di media sosial. Informasi resmi mengenai aktivitas kegempaan hanya disampaikan melalui kanal komunikasi BMKG yang telah terverifikasi.

Baca Juga:  RDP Bersama DPR RI, Gubernur Mirza Dorong Penataan HGU

Selain itu, warga diminta menghindari bangunan yang mengalami retak atau kerusakan akibat guncangan hingga dilakukan pemeriksaan oleh pihak berwenang. Langkah sederhana seperti mematikan aliran listrik jika ditemukan kerusakan instalasi dan tetap mengikuti arahan pemerintah daerah maupun aparat terkait juga menjadi bagian penting dalam upaya mitigasi risiko.

Peristiwa ini kembali mengingatkan pentingnya kesiapsiagaan masyarakat terhadap ancaman gempa bumi di wilayah Nusa Tenggara Timur. Edukasi mengenai langkah penyelamatan saat gempa, mulai dari berlindung di bawah meja yang kokoh, melindungi kepala, hingga menuju ruang terbuka setelah guncangan berhenti, perlu terus ditingkatkan agar risiko korban jiwa maupun kerusakan dapat diminimalkan.[]


Penulis : Heri Suroyo


Editor : Nara J Afkar


Sumber Berita : Jakarta

Temukan berita-berita menarik lainnya

Berita Terkait

Tembus 3 Besar Nasional, Lampung Selatan Buktikan Kualitas di PPD 2026
Selter Eselon II Lampung Utara Dipertanyakan, Seleksi Puluhan Berkas Pelamar Dipelototi Seharian Rampung
HMI Kotabumi Fasilitasi Aspirasi Warga Binaan
Warga Jalan Punai Kena Prank? Jembatan Way Umban Tak Prioritas 
Tingkatkan SDM ASN, Disdik Way Kanan Gelar Diklat
Kiki, Gebyar PAUD Ajang Anak Usia Dini Unjuk Kebolehan
Algo Sapiens: Ketika Manusia Dikendalikan Mesin
Melintasi Lautan, Pabrik-Pabrik Tiongkok Menancap di Pulau Jawa

Berita Terkait

Rabu, 30 September 2026 - 20:17 WIB

Tembus 3 Besar Nasional, Lampung Selatan Buktikan Kualitas di PPD 2026

Rabu, 30 September 2026 - 20:12 WIB

Selter Eselon II Lampung Utara Dipertanyakan, Seleksi Puluhan Berkas Pelamar Dipelototi Seharian Rampung

Rabu, 30 September 2026 - 19:40 WIB

HMI Kotabumi Fasilitasi Aspirasi Warga Binaan

Rabu, 30 September 2026 - 19:36 WIB

Warga Jalan Punai Kena Prank? Jembatan Way Umban Tak Prioritas 

Rabu, 30 September 2026 - 19:24 WIB

Tingkatkan SDM ASN, Disdik Way Kanan Gelar Diklat

Berita Terbaru

Berita Utama

HMI Kotabumi Fasilitasi Aspirasi Warga Binaan

Rabu, 30 Sep 2026 - 19:40 WIB

Berita Utama

Tingkatkan SDM ASN, Disdik Way Kanan Gelar Diklat

Rabu, 30 Sep 2026 - 19:24 WIB