Antam Terseret Korupsi Emas Rp 47,1 Triliun, DPR Pertanyakan Fungsi Komisaris

Kamis, 25 Mei 2023 | 12:20 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Laporan: annisa

JAKARTA – Anggota Komisi VI DPR, Amin AK menyoroti fungsi pengawasan yang dilakukan dewan komisaris atas terseretnya PT Aneka Tambang (Antam) dalam pusaran kasus korupsi emas senilai Rp 47,1 triliun. Amin menyebut kasus korupsi emas di Antam terjadi bukan kali ini.

“Pada 2022, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) telah memvonis pelaku korupsi. Sedangkan kasus korupsi yang saat ini sedang disidik oleh Kejaksaan Agung, diduga sistemik karena dirancang secara luar biasa,” ujar Amin mengutip Republika.co.id, Kamis (25/5).

Amin menilai, dugaan sistemik tersebut dapat dilihat dari dua hal. Pertama, dari periode waktu terjadinya korupsi, dan kedua, dari modus korupsi yang digunakan. Dari sisi waktu terjadinya korupsi, Amin menilai, berdasarkan hasil penyelidikan Kejagung diduga korupsi emas di Antam berlangsung sejak 2015 sampai 2022.

Baca Juga:  The Death of Expertise

Bahkan, lanjut Amin, Kejagung yang mengusut kasus itu sedang memperlebar waktu penyelidikan hingga tahun 2010. Sedangkan dari sisi modus, korupsi dilakukan dengan mengubah dan memalsukan status dokumen atau kode impor.

“Mereka memalsukan kode dokumen dari seharusnya impor emas batangan menjadi seolah-olah impor emas bongkahan atau setengah jadi,” ucap politikus PKS tersebut.

Amin menyampaikan, berdasarkan periode waktu korupsi berlangsung maupun modus operandi yang dilakukan, menunjukkan betapa lemahnya kerja pengawasan di Antam. Amin menilai dewan komisaris yang seharusnya melakukan fungsi pengawasan di BUMN sesuai jabatannya gagal mendeteksi kejahatan yang telah berlangsung cukup lama.

“Tanpa bermaksud mendahului proses penyelidikan dan penyidikan yang sedang dilakukan Kejagung, saya berharap Kejagung tidak hanya memeriksa direksi hingga manajer, namun juga memeriksa dewan komisaris,” ucap Amin.

Baca Juga:  Soal Lapas Cibinong, Ketua DPR: Sanksi Tegas Bila Terbukti 

Dia menilai, langkah memperketat pengawasan penting untuk membersihkan Antam dari korupsi hingga ke akarnya. Selain itu, untuk mencegah spekulasi adanya pembiaran ataupun keterlibatan dewan komisaris.

Merujuk pada Peraturan Menteri BUMN 2011 tentang penerapan tata kelola perusahaan yang baik atau good corporate governance (GCG) Amin mengatakan dewan komisaris juga bertanggungjawab atas terlaksananya GCG di BUMN. Amin menyebut dewan komisaris atau dewan pengawas harus memantau dan memastikan bahwa GCG diterapkan secara efektif dan berkelanjutan.

“Merujuk hasil penyelidikan Kejagung, praktik korupsi diduga sudah berlangsung setidaknya sejak 2015 lalu, apa iya Dewan Komisaris tidak tahu. Lantas bagaimana dengan pelaksanaan tugas pengawasannya?” kata Amin. (sumber: porostimur.com) ##

Temukan berita-berita menarik lainnya

Berita Terkait

PW Muhammadiyah Lampung Dukung Penuh Film ‘Ageman’, Sebut Ageman Sebagai Simbol Kedamaian Dukungan terhadap keberadaan film edukasi kebangsaan bertajuk Ageman terus mengalir deras. Kali ini, Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Provinsi Lampung menyatakan dukungan penuh atas hadirnya karya sinematik yang mengusung pesan moderasi, toleransi, dan kerukunan antarumat beragama tersebut. Karya visual yang lahir dari inspirasi dan gagasan putra-putri terbaik serta tokoh masyarakat di Lampung ini dinilai sangat krusial dalam memperkokoh tali persaudaraan di tengah dinamika masyarakat Indonesia yang heterogen. Ketua PWM Provinsi Lampung, Prof. Dr. H. Sudarman, M.Ag., menyambut hangat peluncuran film yang digagas para sineas dan tokoh lokal Bumi Ruwa Jurai ini sebagai sarana dakwah kebangsaan yang sejuk. Prof. Sudarman menjelaskan, kata Ageman yang diserap dari khazanah budaya Nusantara sejatinya bermakna pakaian atau pegangan hidup. Filosofi mendalam tersebut merefleksikan bahwa keberagaman suku, ras, budaya, dan agama adalah anugerah sekaligus amanah untuk saling melengkapi. “Ageman itu artinya pakaian sesuatu yang melekat dalam kehidupan kita sehari-hari. Yakni pakaian masyarakat Indonesia yang senang dengan kedamaian, menyukai kerukunan, serta mampu hidup berdampingan secara harmonis di dalam perbedaan,” ujar Prof. Sudarman, Kamis (1/10/2026). Lebih lanjut, Prof. Sudarman menggarisbawahi bahwa benih-benih intoleransi serta paham ekstremisme kerap kali muncul akibat minimnya ruang dialog dan pemahaman yang kurang utuh terhadap perbedaan. Oleh sebab itu, hadirnya film Ageman diharapkan bisa menjadi media pencerahan sekaligus benteng moral agar masyarakat khususnya generasi muda terhindar dari paparan radikalisme. Sebagai wujud pilar dukungan nyata, PW Muhammadiyah Lampung mendorong seluruh jaringan lembaga pendidikan, mulai dari sekolah, perguruan tinggi, hingga pondok pesantren di lingkungan Muhammadiyah untuk menjadikan film Ageman sebagai materi refleksi dan edukasi kebangsaan. Metode nonton bareng (nobar) yang dilanjutkan dengan ruang diskusi interaktif dianggap sebagai cara efektif agar pelajar dan mahasiswa dapat menyerap serta membedah pentingnya merawat harmoni sosial. Di akhir penyampaiannya, Prof. Sudarman mengajak seluruh elemen masyarakat luas untuk menyaksikan film ini serta menjadikan nilai-nilai toleransi sebagai pegangan hidup sehari-hari demi mewujudkan kehidupan berbangsa yang damai, inklusif, dan berkemajuan, punkas Prof. Sudarman.
Kemenko IPK Atensi Pemanfaatan Disposal Oleh Pemkab Mesuji
Flydubai Mendarat Darurat, Dua Pilot Terlibat Insiden
Lampung Fokus Deteksi Dini pada Penyakit Kanker
Marindo: Nilai Pancasila Harus Jadi Landasan Pembangunan
Kwaran Kasui Adakan Rapat Program Kerja 
Bupati Ayu Pimpin Upacara Hari Kesaktian Pancasila
PT BTB Rutin Pastikan Rambu dan Marka Tetap Layak

Berita Terbaru

Berita Utama

PW Muhammadiyah Lampung Dukung Penuh Film ‘Ageman’, Sebut Ageman Sebagai Simbol Kedamaian Dukungan terhadap keberadaan film edukasi kebangsaan bertajuk Ageman terus mengalir deras. Kali ini, Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Provinsi Lampung menyatakan dukungan penuh atas hadirnya karya sinematik yang mengusung pesan moderasi, toleransi, dan kerukunan antarumat beragama tersebut. Karya visual yang lahir dari inspirasi dan gagasan putra-putri terbaik serta tokoh masyarakat di Lampung ini dinilai sangat krusial dalam memperkokoh tali persaudaraan di tengah dinamika masyarakat Indonesia yang heterogen. Ketua PWM Provinsi Lampung, Prof. Dr. H. Sudarman, M.Ag., menyambut hangat peluncuran film yang digagas para sineas dan tokoh lokal Bumi Ruwa Jurai ini sebagai sarana dakwah kebangsaan yang sejuk. Prof. Sudarman menjelaskan, kata Ageman yang diserap dari khazanah budaya Nusantara sejatinya bermakna pakaian atau pegangan hidup. Filosofi mendalam tersebut merefleksikan bahwa keberagaman suku, ras, budaya, dan agama adalah anugerah sekaligus amanah untuk saling melengkapi. “Ageman itu artinya pakaian sesuatu yang melekat dalam kehidupan kita sehari-hari. Yakni pakaian masyarakat Indonesia yang senang dengan kedamaian, menyukai kerukunan, serta mampu hidup berdampingan secara harmonis di dalam perbedaan,” ujar Prof. Sudarman, Kamis (1/10/2026). Lebih lanjut, Prof. Sudarman menggarisbawahi bahwa benih-benih intoleransi serta paham ekstremisme kerap kali muncul akibat minimnya ruang dialog dan pemahaman yang kurang utuh terhadap perbedaan. Oleh sebab itu, hadirnya film Ageman diharapkan bisa menjadi media pencerahan sekaligus benteng moral agar masyarakat khususnya generasi muda terhindar dari paparan radikalisme. Sebagai wujud pilar dukungan nyata, PW Muhammadiyah Lampung mendorong seluruh jaringan lembaga pendidikan, mulai dari sekolah, perguruan tinggi, hingga pondok pesantren di lingkungan Muhammadiyah untuk menjadikan film Ageman sebagai materi refleksi dan edukasi kebangsaan. Metode nonton bareng (nobar) yang dilanjutkan dengan ruang diskusi interaktif dianggap sebagai cara efektif agar pelajar dan mahasiswa dapat menyerap serta membedah pentingnya merawat harmoni sosial. Di akhir penyampaiannya, Prof. Sudarman mengajak seluruh elemen masyarakat luas untuk menyaksikan film ini serta menjadikan nilai-nilai toleransi sebagai pegangan hidup sehari-hari demi mewujudkan kehidupan berbangsa yang damai, inklusif, dan berkemajuan, punkas Prof. Sudarman.

Berita Terkait

Jumat, 2 Oktober 2026 - 07:53 WIB

PW Muhammadiyah Lampung Dukung Penuh Film ‘Ageman’, Sebut Ageman Sebagai Simbol Kedamaian Dukungan terhadap keberadaan film edukasi kebangsaan bertajuk Ageman terus mengalir deras. Kali ini, Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Provinsi Lampung menyatakan dukungan penuh atas hadirnya karya sinematik yang mengusung pesan moderasi, toleransi, dan kerukunan antarumat beragama tersebut. Karya visual yang lahir dari inspirasi dan gagasan putra-putri terbaik serta tokoh masyarakat di Lampung ini dinilai sangat krusial dalam memperkokoh tali persaudaraan di tengah dinamika masyarakat Indonesia yang heterogen. Ketua PWM Provinsi Lampung, Prof. Dr. H. Sudarman, M.Ag., menyambut hangat peluncuran film yang digagas para sineas dan tokoh lokal Bumi Ruwa Jurai ini sebagai sarana dakwah kebangsaan yang sejuk. Prof. Sudarman menjelaskan, kata Ageman yang diserap dari khazanah budaya Nusantara sejatinya bermakna pakaian atau pegangan hidup. Filosofi mendalam tersebut merefleksikan bahwa keberagaman suku, ras, budaya, dan agama adalah anugerah sekaligus amanah untuk saling melengkapi. “Ageman itu artinya pakaian sesuatu yang melekat dalam kehidupan kita sehari-hari. Yakni pakaian masyarakat Indonesia yang senang dengan kedamaian, menyukai kerukunan, serta mampu hidup berdampingan secara harmonis di dalam perbedaan,” ujar Prof. Sudarman, Kamis (1/10/2026). Lebih lanjut, Prof. Sudarman menggarisbawahi bahwa benih-benih intoleransi serta paham ekstremisme kerap kali muncul akibat minimnya ruang dialog dan pemahaman yang kurang utuh terhadap perbedaan. Oleh sebab itu, hadirnya film Ageman diharapkan bisa menjadi media pencerahan sekaligus benteng moral agar masyarakat khususnya generasi muda terhindar dari paparan radikalisme. Sebagai wujud pilar dukungan nyata, PW Muhammadiyah Lampung mendorong seluruh jaringan lembaga pendidikan, mulai dari sekolah, perguruan tinggi, hingga pondok pesantren di lingkungan Muhammadiyah untuk menjadikan film Ageman sebagai materi refleksi dan edukasi kebangsaan. Metode nonton bareng (nobar) yang dilanjutkan dengan ruang diskusi interaktif dianggap sebagai cara efektif agar pelajar dan mahasiswa dapat menyerap serta membedah pentingnya merawat harmoni sosial. Di akhir penyampaiannya, Prof. Sudarman mengajak seluruh elemen masyarakat luas untuk menyaksikan film ini serta menjadikan nilai-nilai toleransi sebagai pegangan hidup sehari-hari demi mewujudkan kehidupan berbangsa yang damai, inklusif, dan berkemajuan, punkas Prof. Sudarman.

Jumat, 2 Oktober 2026 - 06:39 WIB

Kemenko IPK Atensi Pemanfaatan Disposal Oleh Pemkab Mesuji

Kamis, 1 Oktober 2026 - 23:58 WIB

Flydubai Mendarat Darurat, Dua Pilot Terlibat Insiden

Kamis, 1 Oktober 2026 - 21:16 WIB

Lampung Fokus Deteksi Dini pada Penyakit Kanker

Kamis, 1 Oktober 2026 - 21:09 WIB

Marindo: Nilai Pancasila Harus Jadi Landasan Pembangunan

Berita Terbaru

Berita Utama

PW Muhammadiyah Lampung Dukung Penuh Film ‘Ageman’, Sebut Ageman Sebagai Simbol Kedamaian Dukungan terhadap keberadaan film edukasi kebangsaan bertajuk Ageman terus mengalir deras. Kali ini, Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Provinsi Lampung menyatakan dukungan penuh atas hadirnya karya sinematik yang mengusung pesan moderasi, toleransi, dan kerukunan antarumat beragama tersebut. Karya visual yang lahir dari inspirasi dan gagasan putra-putri terbaik serta tokoh masyarakat di Lampung ini dinilai sangat krusial dalam memperkokoh tali persaudaraan di tengah dinamika masyarakat Indonesia yang heterogen. Ketua PWM Provinsi Lampung, Prof. Dr. H. Sudarman, M.Ag., menyambut hangat peluncuran film yang digagas para sineas dan tokoh lokal Bumi Ruwa Jurai ini sebagai sarana dakwah kebangsaan yang sejuk. Prof. Sudarman menjelaskan, kata Ageman yang diserap dari khazanah budaya Nusantara sejatinya bermakna pakaian atau pegangan hidup. Filosofi mendalam tersebut merefleksikan bahwa keberagaman suku, ras, budaya, dan agama adalah anugerah sekaligus amanah untuk saling melengkapi. “Ageman itu artinya pakaian sesuatu yang melekat dalam kehidupan kita sehari-hari. Yakni pakaian masyarakat Indonesia yang senang dengan kedamaian, menyukai kerukunan, serta mampu hidup berdampingan secara harmonis di dalam perbedaan,” ujar Prof. Sudarman, Kamis (1/10/2026). Lebih lanjut, Prof. Sudarman menggarisbawahi bahwa benih-benih intoleransi serta paham ekstremisme kerap kali muncul akibat minimnya ruang dialog dan pemahaman yang kurang utuh terhadap perbedaan. Oleh sebab itu, hadirnya film Ageman diharapkan bisa menjadi media pencerahan sekaligus benteng moral agar masyarakat khususnya generasi muda terhindar dari paparan radikalisme. Sebagai wujud pilar dukungan nyata, PW Muhammadiyah Lampung mendorong seluruh jaringan lembaga pendidikan, mulai dari sekolah, perguruan tinggi, hingga pondok pesantren di lingkungan Muhammadiyah untuk menjadikan film Ageman sebagai materi refleksi dan edukasi kebangsaan. Metode nonton bareng (nobar) yang dilanjutkan dengan ruang diskusi interaktif dianggap sebagai cara efektif agar pelajar dan mahasiswa dapat menyerap serta membedah pentingnya merawat harmoni sosial. Di akhir penyampaiannya, Prof. Sudarman mengajak seluruh elemen masyarakat luas untuk menyaksikan film ini serta menjadikan nilai-nilai toleransi sebagai pegangan hidup sehari-hari demi mewujudkan kehidupan berbangsa yang damai, inklusif, dan berkemajuan, punkas Prof. Sudarman.

Jumat, 2 Okt 2026 - 07:53 WIB

Berita Utama

Kemenko IPK Atensi Pemanfaatan Disposal Oleh Pemkab Mesuji

Jumat, 2 Okt 2026 - 06:39 WIB

flydubai [net]

Berita Utama

Flydubai Mendarat Darurat, Dua Pilot Terlibat Insiden

Kamis, 1 Okt 2026 - 23:58 WIB

Berita Utama

Lampung Fokus Deteksi Dini pada Penyakit Kanker

Kamis, 1 Okt 2026 - 21:16 WIB

Marindao Kurniawan

Berita Utama

Marindo: Nilai Pancasila Harus Jadi Landasan Pembangunan

Kamis, 1 Okt 2026 - 21:09 WIB