Anak-Anak Gaza Berenang, Temukan Kebahagiaan Akibat Perang

Rabu, 26 Agustus 2026 | 19:46 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy


Anak-anak bermain dalam sebuah acara renang yang diikuti oleh sekitar 1.300 anak di sebuah pantai di Khan Younis, Jalur Gaza selatan, pada 21 Agustus 2026. (Xinhua)

Anak-anak bermain dalam sebuah acara renang yang diikuti oleh sekitar 1.300 anak di sebuah pantai di Khan Younis, Jalur Gaza selatan, pada 21 Agustus 2026. (Xinhua)

GAZA- Bagi Camelia Hadi yang berusia tujuh tahun, berenang lebih dari sekadar olahraga. Kegiatan tersebut memberinya momen kebahagiaan dan kesempatan untuk kembali merasakan keceriaan masa kanak-kanak setelah bertahun-tahun dilanda perang.

Tawa Hadi bergema saat dia berenang bersama puluhan anak lainnya di perairan dekat pantai Khan Younis, Jalur Gaza selatan. Selama beberapa jam, dia tampak seperti anak seusianya pada umumnya, menikmati bermain air dan belajar berenang bersama teman-temannya. Namun, bagi Hadi, momen seperti itu jarang terjadi.

Gadis kecil itu berusia empat tahun saat perang dimulai pada Oktober 2023 dan sejak itu telah mengungsi lebih dari 20 kali setelah keluarganya kehilangan rumah. Kesulitan tersebut juga memaksanya untuk memikul tanggung jawab yang melampaui usianya, termasuk membantu keluarganya mendapatkan air dan roti.

“Saat berada di sini, saya merasa seperti anak-anak pada umumnya,” katanya. “Saya tertawa, bermain, dan belajar berenang. Saya berharap kami selalu bisa ke laut dan hidup tanpa rasa takut.”

Hadi merupakan salah satu dari ratusan anak yang ikut serta dalam ajang “Swim With Gaza” (Berenang Bersama Gaza), sebuah acara renang yang digelar oleh Akademi Renang Tantish yang berbasis di Gaza dan berlangsung hingga akhir bulan ini. Inisiatif ini bertujuan memberikan kesempatan kepada anak-anak untuk berpartisipasi dalam kegiatan olahraga dan rekreasi, sekaligus membantu mereka mengembangkan keterampilan berenang dan mendapatkan kembali rasa normal setelah bertahun-tahun dilanda perang.

Di antara para peserta ada Farah Hassan Abu Halima (11), yang mengatakan bahwa awalnya dia merasa takut dan cemas untuk mengikuti kelas renang tersebut. Perasaannya berubah setelah dia tiba di lokasi acara.

Baca Juga:  Hindari Prilaku Culas AS-Israel, Presiden Iran Ngaku Sulit Bertemu Mojtaba Khamenei

“Awalnya, saya merasa takut dan cemas, tetapi ketika mendengar tentang kursus-kursus tersebut, saya terdorong untuk mendaftar,” tutur Halima. “Ketika tiba di sana, saya mendapati suasana yang luar biasa. Para pelatih renang dan kegiatan-kegiatan yang ada membuat kami bahagia dan membangkitkan semangat kami.”

Amjad Tantish, kepala Akademi Renang Tantish, mengatakan bahwa lebih dari 2.500 anak telah belajar berenang sejak musim ini yang dimulai pada Juni, ketika inisiatif tersebut diluncurkan kembali setelah sempat ditangguhkan selama perang. Menurut Tantish, pekan “Swim With Gaza” juga telah menarik peserta di puluhan lokasi di seluruh dunia sebagai bentuk solidaritas terhadap anak-anak Gaza. Dia mengatakan bahwa inisiatif ini bertujuan untuk membantu anak-anak mengatasi kondisi sulit yang mereka alami.

“Latihan renang ini bukan hanya soal olahraga. Kegiatan ini memberikan anak-anak kesempatan untuk bermain, bersenang-senang, dan melepaskan diri sejenak dari kondisi yang berat di sekitar mereka.”

Dia mengatakan bahwa keterampilan berenang juga memiliki manfaat praktis di Gaza, di mana banyak anak menghabiskan waktu di dekat laut. Dia menambahkan bahwa inisiatif tersebut juga memberikan penghormatan kepada enam instruktur renang yang tewas selama perang, termasuk saudara laki-lakinya. Kebutuhan akan kegiatan semacam ini semakin terlihat dari dampak perang terhadap anak-anak di Gaza. Sejak Oktober 2023, lebih dari 21.500 anak Palestina tewas, sementara banyak lainnya terluka, menjadi yatim piatu, atau mengungsi, menurut kantor media pemerintah Gaza yang dikelola Hamas pada Juli.

Baca Juga:  Hamas Setujui Draf Final Gencatan Senjata Gaza Fase Kedua

Abdullah al-Jamal, direktur rumah sakit jiwa Gaza, menggambarkan situasi psikologis tersebut sebagai “sangat parah,” terutama di kalangan anak-anak yang mengalami gangguan terkait perang dengan tingkat sedang hingga parah. “Anak-anak merasa tidak aman dan takut, yang berdampak negatif terhadap kehidupan mereka serta berisiko menimbulkan trauma dan gangguan jangka panjang,” ungkap al-Jamal.

Sebuah survei pada 2024 menunjukkan bahwa 96 persen anak-anak di rumah tangga yang disurvei di Gaza merasa bahwa kematian sudah dekat, sementara 92 persen di antaranya kesulitan menerima kenyataan baru mereka. Ismail Qudaih (12) dari Khan Younis mengatakan bahwa mengikuti kegiatan berenang telah memberinya momen-momen kebahagiaan dan membantunya melupakan sejenak kenangan menyakitkan akibat perang, yang merenggut nyawa ibu dan tiga saudara kandungnya.

“Ketika saya masuk ke dalam air, saya merasa berbeda. Untuk sementara, saya berhenti memikirkan perang dan segala hal yang menimpa keluarga saya. Saya bisa berenang, bermain, dan tertawa bersama anak-anak lainnya,” ujarnya.

Ayahnya, Ibrahim Qudaih, mengatakan perubahan yang paling berarti adalah melihat putranya kembali tersenyum dan menikmati waktu bermain.

“Anak-anak di Gaza membutuhkan tempat di mana mereka bisa merasa aman dan sekadar menjadi anak-anak. Mereka perlu bermain, berolahraga, tertawa, dan bertemu dengan anak-anak lain. Hal-hal ini mungkin tampak kecil, tetapi bagi seorang anak yang telah kehilangan ibu dan saudara-saudaranya, hal-hal tersebut dapat membuat perbedaan yang sangat besar,” imbuh sang ayah.[]


Penulis : Rudi Alfian


Editor : Nara J Afkar


Sumber Berita : Jakarta

Temukan berita-berita menarik lainnya

Berita Terkait

Pemuda Indonesia Rasakan Pesona Budaya Tiongkok di Ningxia
Klaim Trump Hormuz Bebas Ranjau, JMIC: Masih Ada
SPPG Kotabumi Ilir 1 Perkuat Pengawasan Mutu dan Validasi Data Penerima MBG
Gubernur Mirza Pastikan Penanganan Karhutla Berjalan Terpadu, Modifikasi Cuaca Diperkuat Water Bombing
Gubernur Mirza Cetak Generasi Emas Desa Melalui Strategi Investasi Intelektual dan Spiritual
Wartawan Dipanggil Polres Konawe Selatan, JMSI Sultra: Sengketa Pemberitaan Jangan Dipaksa Jadi Perkara Pidana
Transnusa Resmikan Penerbangan Perdana Jakarta-Lampung dan Lampung-Kuala Lumpur
Volume Kendaraan Libur Panjang Maulid Nabi Muhammad SAW 2026 di Tol Bakter Meningkat 13%

Berita Terkait

Rabu, 26 Agustus 2026 - 19:46 WIB

Anak-Anak Gaza Berenang, Temukan Kebahagiaan Akibat Perang

Rabu, 26 Agustus 2026 - 19:40 WIB

Pemuda Indonesia Rasakan Pesona Budaya Tiongkok di Ningxia

Rabu, 26 Agustus 2026 - 19:34 WIB

Klaim Trump Hormuz Bebas Ranjau, JMIC: Masih Ada

Rabu, 26 Agustus 2026 - 18:49 WIB

SPPG Kotabumi Ilir 1 Perkuat Pengawasan Mutu dan Validasi Data Penerima MBG

Rabu, 26 Agustus 2026 - 18:40 WIB

Gubernur Mirza Pastikan Penanganan Karhutla Berjalan Terpadu, Modifikasi Cuaca Diperkuat Water Bombing

Berita Terbaru


Anak-anak bermain dalam sebuah acara renang yang diikuti oleh sekitar 1.300 anak di sebuah pantai di Khan Younis, Jalur Gaza selatan, pada 21 Agustus 2026. (Xinhua)

#indonesiaswasembada

Anak-Anak Gaza Berenang, Temukan Kebahagiaan Akibat Perang

Rabu, 26 Agu 2026 - 19:46 WIB


Foto yang diabadikan pada 14 Agustus 2026 ini menunjukkan para pemuda mancanegara yang mengikuti Kamp Persahabatan Pemuda Internasional Ningxia berfoto bersama di Daerah Otonom Etnis Hui Ningxia di Tiongkok barat laut. (Xinhua)

#indonesiaswasembada

Pemuda Indonesia Rasakan Pesona Budaya Tiongkok di Ningxia

Rabu, 26 Agu 2026 - 19:40 WIB

Presiden Turkiye Recep Tayyip Erdogan (kiri) bertemu dengan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump di Kompleks Kepresidenan di Ankara, Turkiye, belum lama ini. (Xin)

#indonesiaswasembada

Klaim Trump Hormuz Bebas Ranjau, JMIC: Masih Ada

Rabu, 26 Agu 2026 - 19:34 WIB

#indonesiaswasembada

SPPG Kotabumi Ilir 1 Perkuat Pengawasan Mutu dan Validasi Data Penerima MBG

Rabu, 26 Agu 2026 - 18:49 WIB