10 Ribu Ahli Nuklir Korea Utara Hidup Menderita

Senin, 13 Mei 2024 | 14:22 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Laporan: Collins

Ilmuwan nuklir Korea Utara tidak mempunyai kekuasaan atas kehidupan mereka yang telah ditentukan oleh pemerintah dari usia kanak-kanak, saata menempuh pendididkan, maupun setelah terlibat dalam riset nuklir.

Di tengah masyarakat di mana kegagalan dipandang sebagai ketidaksetiaan pada pemimpin dan negara, kehidupan sekitar 10 ribu ahli nuklir Korea Utara begitu memprihatinkan.

Demikian disampaikan pakar Semenanjung Korea, Robert Collins yang pernah bertugas selama 31 tahun di Komandi Pasukan Gabungan AS dan Korea Selatan.

Collins yang pernah menjadi kepala strategi di Pasukan Gabungan itu baru-baru ini menerbitkan sebuah laporan mengenai kehidupan ahli nuklir Korea. Laporan yang dikutip Chosunilbo itu berjudul “Budak Bom”.

Menurut Collins, ia menuliskan laporannya berdasarkan kesaksian para pembelot Korea Utara yang dia wawancarai dan berbagai materi rahasia.

“Orang luar berasumsi ilmuwan nuklir diperlakukan dengan baik karena energi nuklir memang demikian penting bagi kelangsungan hidup Kim Jong Un dan Korea Utara. Namun kenyataannya tidak demikian,” tulis Collins.

“Pemimpin tertinggi menuntut pembangunan senjata canggih yang mampu mencapai daratan AS, para ilmuwan nuklir menghadapi bahaya masa depan tanpa jalan keluar selain sukses,” sambungnya dalam laporan setebal 200 halaman.

Korea Utara memiliki sistem yang mengizinkan unit administratif, baik pedesaan maupun perkotaan, memilih dan merekrut anak-anak yang unggul dalam matematika dan sains.

Baca Juga:  RRDK sebut AS Terus Kirim Sinyal "Permusuhan"

“Siswa-siswa terbaik dari masing-masing daerah dikumpulkan dan dilatih dalam bidang matematika, sains, fisika, dan mata pelajaran lainnya,” tulis Collins lagi.

“Jika mereka menonjol, keseluruhannya keluarga terkadang terpaksa pindah agar siswanya dapat melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi. sekolah menengah di ibu kota,” kata dia.

Siswa terpilih dibawa ke sekolah menengah paling bergengsi di Shinwon-dong, Pyongyang. Di sekolah ini dulu mantan pemimpin Korea Utara, KIm Jong Il, pernah menuntut ilmu. Semua siswa secara teratur berpartisipasi dalam kompetisi internasional seperti Olimpiade Matematika, menurut laporan itu.

Siswa yang dipilih untuk bekerja pada program nuklir Korea Utara biasanya menghadiri salah satu program tersebut di lima universitas, termasuk Universitas Kim Il Sung, Universitas Teknologi Kimchaek, dan Sekolah Tinggi Teknologi Kaggye.

Laporan tersebut menyatakan, setelah seorang ilmuwan nuklir mencapai kesuksesan akademis yang signifikan dalam bidang penelitian tertentu, nasib profesional mereka sudah ditentukan.

Mereka harus menjalani kehidupan yang membuat mereka tidak memiliki pilihan kecuali berdedikasi pada rezim Kim. Satu-satunya variabel dalam hidup mereka adalah fasilitas nuklir tempat mereka bekerja dan kualitas perumahan terkait.

Pernikahan bagi para ilmuwan ini juga ditentukan dan mereka tidak memiliki kebebasan memilih pasangan. Siapa pun yang mengungkapkan ketidakpuasan terhadap pengaturan seperti ini akan menjalani hukuman dan dicabut berbagai fasilitasnya.

Baca Juga:  Gubernur Lampung Siapkan Tiga Langkah Perkuat Investasi, Bidik Pertumbuhan Ekonomi Berkelanjutan

Meskipun ada sanksi internasional terhadap Korea Utara, ilmuwan nuklir Korea Utara diberi kesempatan belajar di luar negeri, terutama di Institut Gabungan untuk Penelitian Nuklir (JINR) di Rusia dan Institut Harbin Teknologi di Tiongkok. Sebelum pandemi Covid-19, lebih dari 1.000 pelajar Korea Utara terdaftar setiap tahun di Institut Teknologi Harbin.

Kualitas hidup ilmuwan nuklir Korea Utara sangat dipengaruhi oleh lokasi mereka ditugaskan untuk bekerja.

“Ada lebih dari 100 fasilitas nuklir di Korea Utara . Sebanyak 40 di antaranya merupakan fasilitas utama yang harus diatasi dalam denuklirisasi di masa depan proses,” tulis Collins lagi.

Di antara fasilitas itu terdapat 15 pusat penelitian dan pengawasan nuklir, delapan tambang uranium, dan lima pembangkit listrik tenaga nuklir serta kilang.

Situs uji coba nuklir Punggye-ri di Provinsi Hamgyong Utara disebut sebagai tempat kerja yang paling tidak diinginkan para ilmuwan. Dari tahun 2006 sampai 2017 Korea Utara telah melakukan enam uji coba nuklir di tempat itu.##

Temukan berita-berita menarik lainnya

Berita Terkait

RSM Indonesia dan RSM China Bentuk China Desk
Panda Eratkan Hubungan Tiongkok-Indonesia
Delegasi Pemuda Indonesia Rasakan Warisan Takbenda di Shanxi
Kukuhkan 3 Pengurus Korpri Daerah, Sekdaprov Marindo Tegaskan Kesiapan Lampung Jadi Tuan Rumah Pornas 2027
Pemimpin Demokrat di Senat AS akan Akhiri Perang dengan Iran
UU SDI Harus Hentikan Tumpang Tindih Data
Sungai Berbusa dan Bau, Warga Bernung Keluhkan Limbah Ayam
Pasar Digital Indonesia Paling Aktif

Berita Terkait

Kamis, 5 November 2026 - 22:05 WIB

RSM Indonesia dan RSM China Bentuk China Desk

Kamis, 5 November 2026 - 22:01 WIB

Panda Eratkan Hubungan Tiongkok-Indonesia

Kamis, 5 November 2026 - 20:50 WIB

Delegasi Pemuda Indonesia Rasakan Warisan Takbenda di Shanxi

Kamis, 5 November 2026 - 19:20 WIB

Kukuhkan 3 Pengurus Korpri Daerah, Sekdaprov Marindo Tegaskan Kesiapan Lampung Jadi Tuan Rumah Pornas 2027

Kamis, 5 November 2026 - 18:46 WIB

Pemimpin Demokrat di Senat AS akan Akhiri Perang dengan Iran

Berita Terbaru

Managing Partner International Business RSM China (kiri) dan Chief Strategy Officer sekaligus Senior Partner RSM Indonesia Angela Indirawati Simatupang (kanan) menandatangani nota kesepahaman pembentukan China Desk di RSM Indonesia di Xi'an, Tiongkok, pada 3 November 2026. (RSM Indonesia/Xinhua)

Berita Utama

RSM Indonesia dan RSM China Bentuk China Desk

Kamis, 5 Nov 2026 - 22:05 WIB

Jansen Manansang (ketiga dari kiri), pendiri Taman Safari Indonesia Group, menjadi pembicara dalam subforum Konferensi Mitra Panda Global (Global Panda Partners Conference) pada 3 November 2026.

Berita Utama

Panda Eratkan Hubungan Tiongkok-Indonesia

Kamis, 5 Nov 2026 - 22:01 WIB

Delegasi pemuda Indonesia menjajal pembuatan tembikar di Desa Liujiaobao, Provinsi Shanxi, Tiongkok utara, pada 29 Oktober 2026. (Xinhua)

Berita Utama

Delegasi Pemuda Indonesia Rasakan Warisan Takbenda di Shanxi

Kamis, 5 Nov 2026 - 20:50 WIB

Sejumlah pemilih bersiap memberikan suara dalam Hari Pemilihan Umum (Pemilu) untuk pemilu sela di sebuah tempat pemungutan suara di Los Angeles, California, Amerika Serikat, pada 3 November 2026. (Xinhua)

Berita Utama

Pemimpin Demokrat di Senat AS akan Akhiri Perang dengan Iran

Kamis, 5 Nov 2026 - 18:46 WIB