Temuan IPWK DPRD Lampung, Anak Disabilitas Terhimpit Sistem dan Akses Layanan Sosial

Rabu, 4 Februari 2026 | 10:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

LAMPUNG SELATAN – Anggota Komisi VDPRD Provinsi Lampung, Muhammad Junaidi, mendapati potret getir pelayanan sosial saat melaksanakan kegiatan IPWK di Dusun Sukarame, Desa Haduyang, Kecamatan Natar, Rabu (4/2/2026). Di balik agenda resmi yang digelar di bawah tenda putih, muncul dua kisah pilu tentang anak-anak dengan kebutuhan khusus yang terhimpit keterbatasan ekonomi dan sistem layanan.

Salah satu yang menyita perhatian adalah kondisi Risky Maulana Saputra (15). Remaja tersebut duduk lemah di kursi roda dengan kondisi fisik terbatas akibat gangguan saraf yang dideritanya sejak kecil. Hampir seluruh aktivitasnya bergantung pada bantuan orang lain.

Di sisi Risky, sang ibu, Nurdaria, menanggung beban berat sebagai orang tua tunggal. Sejak berpisah dengan suaminya, ia memilih fokus merawat anaknya, meski konsekuensinya adalah tekanan ekonomi yang semakin berat.

“Saya janda, Pak. Anak saya sakit sejak kecil. BPJS tidak bisa meng-cover terapi. Sejak usia 7 tahun, saya terapi sendiri,” tutur Nurdaria dengan suara bergetar kepada Muhammad Junaidi.

Baca Juga:  Kostiana Dorong Penguatan Ekonomi Perempuan Lewat Transformasi Digital

Ia mengungkapkan, biaya terapi mencapai Rp200 ribu setiap kali datang dan idealnya dilakukan seminggu sekali. Namun karena keterbatasan biaya, terapi tersebut terpaksa dihentikan. Akibatnya, kondisi fisik Risky semakin kaku dan geraknya kian terbatas.

Ironisnya, Risky juga tidak tercatat sebagai penerima bantuan Program Keluarga Harapan (PKH), meski kondisinya masuk kategori keluarga rentan.

Tak jauh dari lokasi tersebut, keluhan serupa disampaikan Yuli, warga setempat lainnya. Putrinya, Ziha Saputri (7,5), mengalami gangguan pendengaran berat dan membutuhkan alat bantu dengar dengan spesifikasi tinggi. “Saya cuma ingin anak saya bisa mendengar, Pak,” ujar Yuli lirih.

Menurut keterangan dokter, Ziha membutuhkan alat bantu dengar dengan daya tinggi yang harganya mencapai Rp30–40 juta. Upaya membeli alat dengan spesifikasi lebih rendah sudah dilakukan, namun hasilnya tidak efektif. Ziha pun masih hidup dalam keterbatasan komunikasi. Kebutuhan tersebut juga belum dapat ditanggung olehBPJS Kesehatan.

Baca Juga:  Perkuat Upaya Pencegahan Korupsi, Pemprov Lampung Gelar Rapat Persiapan MCSP KPK RI 2026

Menanggapi keluhan warga, Muhammad Junaidi langsung menghubungi pihak BPJS yang hadir di lokasi kegiatan. Namun jawaban yang diterima masih bersifat normatif, dengan arahan untuk berkoordinasi ke dinas sosial.

“Semua keluhan sudah kami catat dan akan kami bahas di Komisi V untuk mencari solusi konkret,” tegas Junaidi.

Ia menegaskan, persoalan pelayanan sosial tidak boleh berhenti pada pencatatan administratif semata. Negara, kata dia, harus hadir secara nyata bagi warga yang membutuhkan, terutama anak-anak dengan kondisi disabilitas dan keluarga rentan.

Di balik kegiatan IPWK tersebut, kisah Risky dan Ziha menjadi cermin bahwa pelayanan sosial masih menyisakan pekerjaan rumah besar. Bagi para orang tua, solusi bukan sekadar rapat atau pembahasan, melainkan terapi yang kembali berjalan, alat bantu yang benar-benar berfungsi, serta sistem yang berpihak pada mereka yang paling membutuhkan.

Temukan berita-berita menarik Lintas Lampung di Google News
*Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

Berita Terkait

Pemprov Lampung Perkuat Infrastruktur Way Kanan, Target Kemantapan Jalan 67,10 Persen
Pemprov Lampung Pastikan Stok BBM dan LPG Aman Jelang Lebaran
Sekdaprov Marindo Kurniawan Buka Musrenbang RKPD Kabupaten Lampung Tengah Tahun 2027
Perbaikan Jalan Kasui–Air Ringkih Dorong Konektivitas dan Perdagangan Warga Way Kanan*
Gelar Iftar dan Silaturahmi, Neng Eem Marhamah Ajak Perkuat Kepedulian Sosial di Bulan Suci
Wagub Jihan Hadiri Musrenbang RKPD Kabupaten Way Kanan Tahun 2027
Prof Wan Jamaluddin Resmi Dilantik Rektor UIN Raden Intan Lampung Masa Bakti 2026-2030
Waka MPR: Longsor Bantargebang Alarm Krisis Sampah, Perlu Solusi di Hulu

Berita Terkait

Selasa, 10 Maret 2026 - 22:19 WIB

Pemprov Lampung Perkuat Infrastruktur Way Kanan, Target Kemantapan Jalan 67,10 Persen

Selasa, 10 Maret 2026 - 22:17 WIB

Pemprov Lampung Pastikan Stok BBM dan LPG Aman Jelang Lebaran

Selasa, 10 Maret 2026 - 22:14 WIB

Sekdaprov Marindo Kurniawan Buka Musrenbang RKPD Kabupaten Lampung Tengah Tahun 2027

Selasa, 10 Maret 2026 - 22:12 WIB

Perbaikan Jalan Kasui–Air Ringkih Dorong Konektivitas dan Perdagangan Warga Way Kanan*

Selasa, 10 Maret 2026 - 15:46 WIB

Gelar Iftar dan Silaturahmi, Neng Eem Marhamah Ajak Perkuat Kepedulian Sosial di Bulan Suci

Berita Terbaru

#indonesiaswasembada

Pemprov Lampung Pastikan Stok BBM dan LPG Aman Jelang Lebaran

Selasa, 10 Mar 2026 - 22:17 WIB